Surabaya (beritajatim.com) – Angka kasus stunting di Kabupaten Bangkalan kembali melonjak. Setelah sempat turun drastis, prevalensi kasus kini mencapai 17,7 persen pada 2024.
Merespon itu, Tim dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dan Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata Kediri langsung bergerak cepat.
Mereka menggelar program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Parseh, Kecamatan Socah, yang menjadi salah satu titik rawan. Fokus utamanya, sinergi pemberdayaan keluarga dan tim pendamping keluarga (TPK).
Berdasarkan Data Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Bangkalan, menunjukkan tren kasus stunting yang kurang stabil.
“Pada 2021 kasus stunting Bangkalan mencapai 38,9 persen. Angka itu sempat turun hingga 10 persen di 2023,” ujar Sekretaris Dinas KBP3A Bangkalan, Eri Yadi Santoso, dikutip Sabtu (8/11/2025).
Namun, kejutan terjadi. “Tahun 2024, cukup mengkhawatirkan karena angka stunting naik kembali 17,7 persen,” tegas Eri.
Dinas KBP3A pun menargetkan penurunan signifikan. Targetnya di tahun 2025, yakni di bawah 14,7 persen.
Tingginya kasus di Desa Parseh dipicu oleh rendahnya pengetahuan dan keterampilan keluarga. Mereka kurang memadai soal gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya pemantauan tumbuh kembang balita. Ini krusial, terutama pada fase emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menanggapi itu, tim PKM yang diketuai Dr. Ika Mardiyanti dari Unusa turun tangan. Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi.
“Kami memberikan pelatihan upaya pencegahan stunting mulai dari calon pengantin. Pentingnya gizi seimbang, pemanfaatan Buku KIA, hingga pelatihan pijat tuina dan teknik pemantauan pertumbuhan anak secara berkala,” jelas Ika.
Peserta yang dilibatkan meliputi Kader TPK, calon pengantin, ibu hamil, dan ibu dengan bayi balita di Kampung KB Desa Parseh.
Selain itu, program ini mengimplementasikan DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting). Tujuannya memberdayakan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, dalam menyediakan makanan bergizi berbasis sumber daya lokal bagi kelompok berisiko stunting.
“Kolaborasi yang kuat antar sektor sangat penting untuk menanggulangi stunting. Pencegahan harus dimulai dari rumah, terutama pada masa 1000 HPK,” kata Ika.
Ia berharap, lewat pelatihan ini TPK dan keluarga di Desa Parseh punya keterampilan konkret mencegah stunting.
Sementara itu, Kepala Desa Parseh, Moh. Ilyas menyambut baik. Pihaknya berkomitmen menyediakan Stunting Corner dan fasilitas untuk kegiatan lanjutan, seperti edukasi bagi calon pengantin dan pelatihan gizi.
“Semoga para Kader TPK dan keluarga dapat meneruskan ilmu yang diperoleh, sehingga angka stunting di Desa Parseh dapat menurun,” ucap Ilyas.
Program PKM ini menjadi contoh nyata kolaborasi demi mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Fokusnya pada poin 2 (tanpa kelaparan), poin 3 (kehidupan sehat dan sejahtera), dan poin 17 (kemitraan).
Pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang. Dengan edukasi berkelanjutan dan pemberdayaan, harapannya Desa Parseh menjadi contoh, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga di tingkat desa. [ipl/kun]






