Persebaya gagal memetik kemenangan dalam tiga pertandingan berturut-turut kompetisi sepak bola Liga 1 2024-25. Setelah ditahan imbang 0-0 oleh Dewa United di Gelora Bung Tomo pada pekan ketujuh, Persebaya kembali gagal memanfaatkan status tuan rumah setelah ditahan 1-1 oleh PSM Makassar pada pekan kesembilan, Rabu (23/10/2024).
Persebaya tertinggal lebih dulu melalui gol yang dicetak Yuran Fernandes pada menit 16. Gol balasan baru tercipta pada menit 45+4 melalui kaki pemain asal Palestina, Mohammed Rashid. Dengan hasil imbang ini Persebaya tergeser dari posisi puncak klasemen sementara.
Lini depan Persebaya benar-benar buruk dalam penyelesaian akhir. Dibandingkan saat kalah 0-2 dari Persib di Bandung pada pekan sebelumnya, anak-anak asuhan Paul Munster ini sebenarnya lebih agresif. Masalahnya, mereka belum bisa menjadi ‘monster’ di depan gawang sebagaimana diinginkan Munster.
Persebaya hanya memproduksi delapan gol dalam sembilan pertandingan. Bahkan Madura United yang berada di zona degradasi memiliki jumlah gol lebih banyak (9 gol). Sementara itu lini pertahanan relatif kokoh dengan kebobolan lima gol saja.
Dalam pertandingan melawan PSM, Persebaya mengurung pertahanan lawan sejak menit awal. Dalam tempo sepuluh menit awal saja, tiga peluang tercipta, dua di antaranya dari kaki Malik Risaldi. Namun tidak ada satu pun yang bisa menggoyang jala gawang Hilmansyah di hadapan 6.423 orang penonton (laga paling sepi di GBT pada musim ini hingga pekan kesembilan).
Pada menit 64, tendangan jarak dekat Kasim Botan ke gawang PSM membentur mistar gawang. Sementara itu gol Flavio yang juga terjadi di kotak penalti pada menit 88 dianulir setelah dicek VAR.
Persebaya tidak bisa begini terus. Produktivitas lini depan seharusnya bukan masalah, terutama karena ada Flavio yang musim lalu mencatatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di bawah pemain Persib David da Silva. Namun itulah faktanya.
Melihat buntunya kran gol Persebaya, Munster harus mempertimbangkan variasi gol jarak jauh sebagai opsi yang memungkinkan. Tiga dari delapan gol Persebaya dicetak dari luar kotak penalti. Sementara dua gol lainnya dari titik putih penalti dan sisanya dari skema bola mati dan permainan terbuka.
Dalam sembilan kali pertandingan, hanya Mohammed Rashid (2 gol) dan Bruno Moreira (1) yang menciptakan gol jarak jauh. Orang Inggris bilang ‘screamer’. Maka sudah saatnya untuk lebih sering mencoba mengeksekusi bola dari jarak jauh, jika daerah pertahanan lawan terlampau rapat.
Namun ini bukannya tanpa kendala. Gol jarak jauh sebenarnya mulai berkurang di liga papan atas seperti Liga Primer Inggris. Ian Graham, analis sepak bola yang pernah bekerja di klub Liverpool mengatakan, berkurangnya gol dari jarak jauh tak lepas dari perubahan gaya permainan.
Saat ini, lanjut Graham, tim-tim sepak bola memiliki gaya bermain yang mirip dengan Pep Guardiola dan Jurgen Klopp, yang mengandalkan operan-operan pendek dalam ruang yang rapat. Pergerakan pemain dalam jarak yang dekat membuat celah bagi seorang pemain untuk melepaskan tembakan jarak jauh semakin susah.
Namun dengan gaya sepak bola Indonesia yang tidak terlampau disiplin menjaga pertahanan atau tak kompak memainkan low block defence, peluang untuk mencetak gol dari jarak jauh masih sangat terbuka. Terutama melalui skema tendangan bebas sebagaimana dilakukan Rashid pada saat melawan PSM. Maka perlu ada sesi latihan khusus untuk menghantamkan bola ke gawang lawan dari luar kotak penalti. Jadikan latihan menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi insting.
Bagaimana, Paul? Setuju? [wir]






