Jember (beritajatim.com) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jember, Jawa Timur, belum menerima permintaan resmi soal penutupan sementara pasar hewan, menyusul munculnya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sapi.
“Kalau memang diminta menutup dan karena dibuktikan PMK berbahaya, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan tidak bisa menurunkan petugasnya di masing-masing pasar hewan, ya monggo kita lakukan saja penutupan sementara,” kata Kepala Disperindag Jember Yuliana Harimurti, ditulis Jumat (17/1/2025).
“Tapi kalau sepengetahuan saya, karena di sini ada tujuh pasar hewan, ya seharusnya petugas peternakan cukup kalau dimintai tolong hadir ke pasar hewan. Pasar hewan kan hanya seminggu sekali,” kata Yuliana.
Kendati tidak mempermasalahkan penutupan sementara pasar hewan, Yuliana mengingatkan dampak terhadap perekonomian masyarakat. “Kalau mereka berhenti, kasihan,” katanya.
Sejauh ini berdasarkan pantauan Disperindag Jember, tanpa ditutup pun pasar hewan lebih sepi daripada biasanya. “Hanya beberapa yang berjualan di situ. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan untuk memantau kalau memang ada lonjakan PMK,” kata Yuliana.
Sebelumnya, Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto mendesak pengaktifan status KLB (Kondisi Luar Biasa) dan penutupan sementara pasar hewan. Hal ini dikarenakan kumlah sapi yang terjangkit PMK di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sudah mencapai 1.031 ekor.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jember hingga 12 Januari 2025, PMK menyebar di 29 dari 31 kecamatan. Tertinggi di Kecamatan Tempurejo (271 kasus), Bangsalsari (123 kasus), dan Ambulu (80 kasus). Hanya dua kecamatan yang dilaporkan tak memiliki kasus PMK, yakni Kaliwates dan Sukorambi.
Dari 650 ekor sapi terjangkit PMK pada Desember 2024, 53 ekor sapi di antaranya sembuh, 22 ekor dipotong paksa atau dimusnahkan, dan 61 ekor mati. Sementara itu pada Januari 2025, dari 381 ekor sapi yang sakit, dilaporkan ada 110 ekor yang sembuh, 3 ekor dipotong paksa atau dimusnahkan, dan 17 ekor mati.
Candra menerima informasi bahwa ada sejumlah kabupaten yang sudah menutup sementara pasar hewan. “Kami khawatir ternak-ternak yang dari kabupaten lain, karena tidak ada pasar, akan masuk dan itu malah akan menambah penyebaran dari penyakit mulut dan kuku ini,” katanya. [wir]






