Jember (beritajatim.com) – Nuri (11), seorang siswi SD Negeri Bangsalsari 05, menangis saat bertemu Bupati Hendy Siswanto di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Sabtu (21/9/2024) siang.
Nuri adalah satu dari 24 siswa SDN Bangsalsari 05 yang mengikuti tur wisata Jelita (Jelajah Keliling Kota) yang digelar Dinas Perhubungan Jember bekerja sama dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Selain SDN Bangsalsaru 05, hari ini ada 24 siswa SDN Gambirono 04 yang juga ikut serta.
Jelita adalah program jelajah wisata yang mengantarkan para siswa ke lokasi-lokasi bersejarah di kawasan perkotaan Jember. Sebelum ke pendapa, rombongan siswa ini mampir ke sejumlah lokasi seperti menara air Pasar Tanjung, kawasan pecinan di Jalan Samanhudi dan Sultan Agung, Tamab Kebangsaan Universitas Jember, hingga Masjid Jamik Baitul Amien.
Senula Nuri lancar saja menjawab pertanyaan Hendy. Dia mengaku bahagia bisa berkeliling kota.
Nuri senang saat diajak mengunjungi Taman Kebangsaan di Universitas Jember. Saat mengatakan ingin belajar ilmu budaya di Unej, dia mendadak menangis. “Kenapa kok kamu menangis?” tanya Hendy.
“Cita-citamu ingin jadi apa?” tanya Hendy.
“Penari,” jawab Nuri sambil mengusap air matanya.
Selain bercakap-cakap dengan Hendy, anak-anak SD itu berebut meminta tanda tangan di atas secarik kertas. Ihsan, salah satu siswa Kelas 3 SDN Bangsalsari 05, mengatakan, Bupati Hendy berpesan agar tetap belajar dengan penuh semangat.
Sebelum menerima para siswa SD itu, Hendy menerima kunjungan dari Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Jember. Mereka membicarakan hal-hal seputar penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Layak Anak di Kabupaten Jember yang ditetapkan pada 14 April 2023.
“Bupati menerima semua aspirasi yang kami sampaikan. Perda KLA ini memiliki 24 indikator dari lima klaster. Ada beberapa indikator yang masih kurang, seperti angka putus sekolah di Jember yang masih tinggi, pernikahan dini di Jember yang masih tinggi, dan angka stunting yang sempat jadi nomor satu di Jawa Timur,” kata Ketua Kopri Jember Isna Asaroh.
Menurut Isna, Bupati Hendy sudah berkomitmen untuk mengevaluasi semua kelemahan penerapan perda tersebut dan meningkatkan kinerja Pemkab Jember. “Dengan penerapan perda yang semakin massif dan progresif, harapannya Kabupaten Jember bisa menjadi Kabupaten Layak Anak Utama,” katanya.
Hendy memuji kepedulian Kopri terhadap Jember. Ia sepakat jika langkah yang diambil Pemkab Jember harus benar-benar konkret dan bisa mewujudkan status Kabupaten Layak Anak. “Seluruh indikator yang disampaikan sudah kami kerjakan. Tapi belum maksimal. Namun itu sudah berjalan. Yang penting capaian positifnya sudah ada,” katanya.
Hendy mengingatkan, Pemkab Jember tak bisa bekerja sendirian. “Meski dalam perda itu saya yang bertanggungjawab. Tapi harus ada bentuk sinergi: ada mahasiswa, ada Muspika, Muspida, masyatakat, dan unsur orangtua,” katanya. [wir]






