Sidoarjo (beritajatim.com) – Tahun lalu telah tercipta 2 pupuh macapat gagrak Sidoarjo. Terdiri dari pupuh Kinanti dan Asmaradana. Tahun ini, macapat gagrak Sidoarjo dilengkapi dengan penciptaan 3 pupuh baru. Yakni pupuh Pucung, Gambuh, dan Mijil.
Tiga pupuh macapat gagrak Sidoarjo yang baru tersebut bakal ditembangkan serempak, hari Sabtu, 3 Agustus 2024, di SMP – SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo, Jl Siwalanpanji, Sidoarjo. Melalui acara bertajuk “Seribu Warga Nembang Macapat Gagrak Sidoarjo”. Acara turut dimeriahkan dengan “Festival Gamelan Kahuripan” yang diikuti oleh 13 kelompok karawitan di Sidoarjo, yang mayoritas dari pelajar.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Dewan Kesenian Sidoarjo, Yayasan Purnama, SMP Sepuluh Nopember Sidoarjo, dan SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo. Juga dukungan dari banyak paguyuban macapat dan perkumpulan seni budaya Jawa. Misalnya Paguyuban Sekar Kawedhar, Jenggala Manik, Kinanthi, Samiaji, Sekar Palupi, dan beberapa paguyuban lagi.
Ada riwayat dan pemahaman mendalam tentang macapat gagrak Sidoarjo. Bahwa, gagrak bukan sebatas cengkok, cara melagukan, ciri khas, atau gaya. Gagrak adalah perwujudan kreativitas kolektif, identitas bersama, jati diri. Ketika riwayat masa silam, kehidupan masyarakat, kebiasaan-kebiasaan keseharian, cara ibadah, hamparan alam, nama-nama dusun, mitologi, dan segala hal ihwal tentang Sidoarjo mengejawantah ke dalam karakter macapat: di situlah urgensi posisi macapat gagrak Sidoarjo.
Tidak mudah, tentu saja, untuk menciptakan macapat gagrak Sidoarjo. Itu sebabnya tanggung jawab penciptaan diserahkan kepada tokoh yang dinilai tepat. Tokoh tersebut adalah Suwarmin MSn.
Sekali lagi, tidak mudah bagi Suwarmin untuk menciptakan macapatan gagrak Sidoarjo. Tetapi semangat para pegiat macapatan dari paguyuban-paguban memberi dia energi besar. Ia pun memulai dari kajian. Profesi dia sebagai dosen seni tradisi di STKW Surabaya memudahkan jalan.
Pilihan Suwarmin jatuh pada wayang gagrak Porong, Sidoarjo, sebagai sumber penciptaan macapat. Wayang ini ternyata dulu sangat populer di Sidoarjo. Sampai sekitar tahun 1950-an, banyak desa yang memiliki kelompok wayang gagrak Porong. Ibu-ibu rumah tangga pun hapal lakon-lakon yang dimainkan.
Wayang pun sudah ada di Sidoarjo sejak ratusan tahun lalu. Bahkan di Indonesia, literatur tulis pertama tentang wayang berasal dari Sidoarjo. Yakni, termaktub dalam prasasti Kuti (840 Masehi).

Wayang gagrak Porong termasuk kiblat wayang khas Jawatimuran. Wujudnya jauh berbeda dengan wayang gagrak Jawa Tengah (Mataraman). Cara ekspresi sinden berbeda, irama musiknya beda, susunan acaranya berbeda. Wayang gagrak Porong bernuansa lebih dinamis dibanding gagrak Mataraman. Didominasi oleh permainan kendang. Jika wayang gagrak Mataraman menyukai warna hitam, wayang gagrak Porong dominan Merah. Aspek mistisnya kuat.
Setelah memilih wayang gagrak Porong sebagai sumber penciptaan macapat, Suwarmin menukik lebih tajam, spesifik, ke dalang Ki Suwoto Ghozali (almarhum). Suwarmin memutar kembali rekaman pentas wayang Ki Suwoto Ghozali. Disimak, diserap, dipelajari. Dirasa masih belum cukup, Suwarmin berziarah ke makam Ki Suwoto Ghozali.
Lalu diciptakanlah macapatan gagrak Porong atawa macapat gagrak Sidoarjo. Tahun lalu tercipta 2 pupuh, yakni Kinanti dan Asmaradana. Sedangkan tahun ini diciptakan tiga pupuh yang terdiri dari Pucung, Gambuh, dan Mijil. [but]






