Bojonegoro (beritajatim.com) – Penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bojonegoro tahun 2025 masih rendah dan dinilai perlu mendapat perhatian serius. Hingga akhir September 2025, realisasi penyerapan baru mencapai 37,07 persen atau Rp2,89 triliun dari total pagu Rp7,80 triliun.
Data Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkab Bojonegoro menyebut capaian tersebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2024 lalu yang mencapai Rp6,56 triliun.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri, menilai angka serapan tersebut belum ideal. “Memang kalau dilihat idealnya serapan anggaran di bulan Oktober di angka mendekati 60 persen. Itu angka idealnya,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Menurut Lasuri, lambatnya penyerapan anggaran dipengaruhi masa transisi kepemimpinan daerah. Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro yang baru dilantik pada Februari 2025 masih melakukan penyesuaian terhadap program-program prioritas.
“Karena sekali lagi, karena Bupati dan Wakil Bupati baru dilantik, jadi masih ada penyesuaian program. Program prioritas itu banyak yang masuk di Perubahan APBD,” jelas politisi Fraksi PAN Bintang Nurani Rakyat dapil Bojonegoro 3 (Kanor, Baureno, Kepohbaru) ini.
Meski demikian, ia berharap terjadi percepatan penyerapan pada triwulan terakhir. “Harapannya serapan di bulan Oktober, November, dan Desember bisa maksimal. Meskipun ini juga tidak ideal karena menumpuk di akhir tahun,” tuturnya.
Lasuri mengingatkan, rendahnya serapan anggaran berpotensi memicu sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) yang tinggi. Ia memperkirakan Silpa APBD Bojonegoro 2025 bisa mencapai Rp3 triliun jika kondisi ini berlanjut.
“Kami berharap sisa waktu yang ada kepala dinas yang baru dilantik bisa memaksimalkan serapan kinerja. Sehingga Silpa tidak terlalu besar,” pungkasnya.
Ia juga menegaskan percepatan serapan anggaran sangat penting untuk mendorong perekonomian lokal. Realisasi APBD yang optimal diyakini berdampak pada pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat Bojonegoro. [lus/beq]






