Sejak mengikuti Liga 1 pada 2018, baru pertama kali ini Persebaya Surabaya bertengger nyaman di pucuk klasemen pada enam pekan awal kompetisi. Kemenangan 1-0 atas PSBS Biak di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Denpasar, Bali, Minggu (22/9/2024) membuat Persebaya mengemas 16 angka.
Sejauh ini Persebaya meraih lima kemenangan dan satu hasil imbang dan menjadi satu dari tiga tim yang belum terkalahkan di Liga 1 Musim 2024-25. Flavio Silva, striker asal Portugal, mengakhiri kemarau gol pada menit 16 melalui sundulan setelah mendapat operan bola sepak pojok dari Francisco Rivera.
Namun mendadak saya teringat seekor gajah bernama Arsenal. Menjadi pemuncak klasemen sementara tak pernah menjamin akhir yang bahagia bagi Arsenal. Kisah-kisah dongeng yang selalu ‘happily ever after‘ tak berlaku buat pasukan Arteta. Mereka bisa saja memimpin klasemen selama berpekan-pekan. Namun pada akhirnya Manchester City juga yang jadi juara.
Padahal beberapa musim terakhir, di tangan Arteta, Arsenal menjadi kandidat kuat juara Liga Primer Inggris. Fans Liga Inggris pun mencemooh Arsenal dengan mengilustrasikan klub tersebut seperti gajah yang duduk di atas dahan sebatang pohon. Hanya soal waktu bagi gajah itu terjatuh dari pohon, karena dahan yang patah. Itulah Arsenal. Kuat bagai gajah. Namun rapuh.
Kebetulan, Persebaya juga pernah identik dengan sosok gajah setelah mengalah 0-12 saat melawan Persipura Jayapura, di Stadion Gelora 10 Nopember, 21 Februari 1988. Jawa Pos menyindir Persebaya tak ubahnya gajah sirkus yang bermain sepak bola. Persebaya menjadi juara Divisi Utama Perserikatan saat itu. Namun julukan Gajah Ijo selama bertahun-tahun kemudian menggantikan julukan Bajul Ijo atau Green Force.
Kini Persebaya berada di pucuk klasemen. Alhamdulillah. Namun keberhasilan ini sebaiknya dirayakan sewajarnya saja. Ini baru enam pertandingan, Masih tersisa 28 pertandingan lagi. Persebaya juga belun menghadapi tim-tim kuat lain seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, atau PSM Makassar.
Apalagi gaya main Persebaya mengingatkan gaya main Atsenal era 1960-an: membosankan. “Boring, boring Arsenal,” kata Nick Hornby dalam buku Fever Pitch.
Seberapa membosankannya Persebaya bisa dilihat dari jumlah gol yang diproduksi. Bajul Ijo. Di antara Big Five klasemen, mereka mencetak gol paling sedikit. Hanya tujuh gol.
Tumpul di depan, pertahanan Persebaya sekokoh Tembok China. Hanya kebobolan dua gol dalam enam pertandingan. Dua gol tersebut lahir saat bermain di kandang sendiri dan terjadi pada menit awal (menit 1 saat lawan Barito Putera dan menit 15 saat melawan Persis Solo). Dua gol tersebut sama-sama memacu epic comeback dengan kemenangan 2-1 untuk Persebaya.
Tentu saja tak ada satu pun fans sepak bola di dunia ini yang betah melihat tim idola mereka bermain membosankan.
“Of course I hated the fact that Arsenal were boring (I had by now conceded that their reputation, particularly at this stage in their history, was largely deserved). Of course I wanted them to score zillions of goals and play with the verve and thrill of eleven George Bests, but it wasn’t going to happen, certainly not in the foreseeable future,” tulis Hornby mengenang kekesalannya.
Namun mau bagaimana lagi. Hornby terikat dengan Arsenal sebagaimana Bonek yang terikat dengan Persebaya. Apapun gaya main Persebaya, Bonek tak bisa banyak berharap tim itu mendadak berubah menjadi Manchester City atau Liverpool yang enak ditonton.
Apalagi dengan gaya main yang membosankan itu, Persebaya justru mencatatkan prestasi. Ada adagium dalam sepak bola: don’t change the winning team, don’t change the way of winning. Kalau memang sudah ‘menangan’ mau apalagi? Bukankah itu tujuan pertandingan sepak bola?
Biarlah cara main itu dikeluhkan pelatih tim lawan seperti Fabio Lefundes, pelatih Persita, yang kesal dan menyebut Persebaya tidak berniat untuk bermain sepak bola dan hanya mengulur waktu. Tiga angka tetap tiga angka.
Persebaya sudah pernah disanjung sebagai tim yang enak ditonton pada masa kepelatihan Aji Santoso maupun Alfredo Vera. Namun keindahan permainan itu tak membawa Persebaya berprestasi. Bahkan Vera dan Aji pada akhirnya sama-sama berhenti di tengah jalan.
Tentu saja terlalu dini untuk menyebut Munster sebagai versi lain Mourinho: pragmatis asal menang. Machiavelli dalam sepak bola. Ini baru enam pekan. Namun dari sisi materi, Persebaya punya modal untuk melenting dan mengejutkan lawan-lawannya.
Rata-rata usia tim Persebaya termasuk paling muda dibandingkan 14 tim Liga 1 lainnya, yakni 24,7 tahun. Tiga tim lain yang memiliki rata-rata usia pemain lebih muda adalah PSM Makassar (23,8 tahun), PSIS Semarang (24,5 tahun) dan Persis Solo (24,6 tahun).
Denggan kata lain, tim ini sangat muda, dan jika Paul Munster bisa menjaga konsistensi kemenangan dengan memperbaiki kelemahan di beberapa sektor, Persebaya bisa berbicara setidaknya tiga sampai empat musim ke depan.
Persebaya tidak bermain untuk keindahan. Persebaya bermain untuk kemenangan. Dan kemenangan terus-menerus bisa mengangkat moral dan mental pemain. Dalam hal ini, sebuah tim yang berisi pemain-pemain muda bermental bagus akan lebih mudah diarahkan untuk memperbaiki kinerja dan mengoreksi diri sendiri. Sebuah jalan menuju kemenangan pun bisa dibangun.
Penting untuk belajar dari Manchester United. Di bawah kepelatihan Ralf Rangnick dan Erik ten Hag, para pemain United kehilangan kepercayaan diri saat kalah berkali-kali. Pemain-pemain bintang berbanderol mahal pun mendadak seperti sekumpulan pemain semenjana.
Munster tahu Persebaya mengalami persoalan pada kepercayaan diri. Pergantian pelatih berkali-kali di tengah musim membuat tim ini tidak pernah stabil. Terakhir, musim lalu, Bajul Ijo nyaris terdegradasi.
Maka bagi Munster, hal terpenting adalah mengembalikan kepercayaan diri pemain, dan satu-satunya jalan adalah dengan kemenangan. Apapun cara dan gaya bermainnya. Apalagi hanya kemenangan yang bisa membuat penonton datang ke stadion untuk menyaksikan langsung. Bajul harus tetap bajul. Bukan gajah. [wir]






