Ponorogo (beritajatim.com) – Sudah ada ratusan kejadian bencana di Kabupaten Ponorogo sepanjang paruh pertama tahun 2025 ini. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo menunjukkan, sebanyak 110 bencana telah terjadi hingga akhir Juni 2025. Di mana mayoritas kejadian bencana itu, berupa tanah longsor dan banjir.
Dari total kejadian tersebut, 59 di antaranya berupa bencana tanah longsor, 41 banjir, dan 10 sisanya cuaca ekstrem. Jika tren ini berlanjut hingga akhir tahun, Ponorogo berpotensi mengalami jumlah bencana yang hampir menyamai tahun sebelumnya. Pada 2024, BPBD mencatat 347 kejadian bencana di seluruh wilayah kabupaten.
“Trennya belum menunjukkan penurunan signifikan. Bahkan distribusi bencananya hampir merata di seluruh kecamatan,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, Jumat (4/7/2025).
Dari total 21 kecamatan yang ada di Ponorogo, hanya Kecamatan Mlarak yang hingga kini belum tercatat mengalami bencana. Sisanya, telah merasakan dampak dari bencana hidrometeorologi sejak awal Januari 2025.
“Dominasi bencana masih tanah longsor, sama seperti tahun lalu yang sekitar 45 persen juga disumbang oleh longsor,” kata Masun.
Masun menekankan, penanganan bencana di Ponorogo tidak bisa hanya mengandalkan BPBD dan relawan. Sinergi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dibutuhkan, terutama untuk wilayah-wilayah yang rawan bencana seperti Kecamatan Ngebel, Pudak, dan Sooko. Dengan tingkat kerawanan yang masih tinggi dan intensitas kejadian yang belum melandai, BPBD mengajak masyarakat untuk tetap waspada.
“Untuk masuk musim kemarau ini, yang harus diwaspadai biasanya kekeringan dan kebakaran hutan,” pungkasnya. [end/aje]






