Tidak ada yang mengatakan pertandingan pertama di awal musim kompetisi mudah. Sejak 2018 hingga 2024, Persebaya hanya bisa menang empat kali dalam pekan pertama kompetisi. Sisanya tiga kali kalah dan satu kali seri.
Namun tentu saja 17.456 orang penonton di Gelora Bung Tomo, Jumat (8/8/2025), tak mengira Persebaya akan ditumbangkan PSIM Yogyakarta 0-1. Sejak kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, inilah kali pertama Persebaya kalah di kandang pada pertandingan perdana.
Yamadipati Seno, teman saya dari Yogyakarta, tak mengira PSIM bisa menang. “Aku malah kaget ora kalah,” katanya dalam obrolan grup WhatsApp.
Kekalahan itu seperti membanting harapan semua pendukung Persebaya, termasuk mungkin Sang Presiden Azrul Ananda, yang memimpikan performa penantang juara. Mimpi yang dibangun hingga Australia.
Faktanya di lapangan Persebaya tak terlampau meyakinkan. Situs resmi Persebaya sendiri mencatat, dengan penguasaan 52 persen pertandingan, Bruno Moreira dan kawan-kawan hanya melesakkan delapan tembakan ke gawang PSIM. Hanya dua di antaranya yang tepat sasaran.
Bandingkan dengan PSIM yang bisa melesakkan sepuluh kali tembakan ke gawang Ernando Ari, dan lima di antaranya akurat.
Selama 90 menit plus, konstruksi serangan Persebaya tidak cukup untuk membuat Bonek percaya diri dan fans PSIM deg-degan. Monoton. Pelatih Eduardo Perez Moran memang menunjukkan filosofi yang berbeda dibandingkan Paul Munster.
Permainan bola dari kaki ke kaki (yang sering ditafsirkan sebagai tikitaka) memang terlihat. Menit-menit awal menunjukkan harapan, saat serangan cepat yang dibangun Bruno diakhiri dengan bola tendangan keras Malik Risaldi yang berhasil dibelokkan bek PSIM Reva Adi.
Namun dengan akurasi operan hanya 78 persen, sebelas dua belas dengan PSIM yang 79 persen, tikitaka macam apa yang bisa diharapkan. Bisa-bisa filosofi tikitaka berubah menjadi teka-teki, yang mengubah optimisme ‘gol pasti akan tercipta’ menjadi pertanyaan ‘kapan gol akan tercipta’. Apalagi penyelesaian akhir lini depan Persebaya tidak cukup klinis.
Memasukkan Kadek Raditya, seorang pemain bertahan, untuk menggantikan Toni Firmansyah, seorang gelandang ofensif, pada menit 58 membuat pertanyaan itu berubah menjadi keragu-raguan: Persebaya ingin menang atau tidak.
Apalagi malam itu Kadek sama sekali tidak menunjukkan performa seorang pemain yang layak dibayar mahal. Beberapa kali dia salah oper dan terkesan tidak bisa membaca arah permainan. Dia bagaikan pemain baru lulusan akademi yang demam lapangan.
Memasang Dejan Tumbas sebagai bek kiri membuat dahi banyak orang berkerut. Apa maunya Perez? Bonek cukup lelah dengan eksperimen pada masa Munster. Meletakkan Tumbas di sektor pertahanan kiri malam itu terlihat bukan sebuah keputusan bijak dari seorang pelatih yang digadang-gadang bakal membawa perubahan.
Memasukkan Gali Freitas pada menit 76 menggantikan Malik Risaldi memang membawa angin segar. Serangan Persebaya menjadi lebih terlihat berbahaya. Pemain asal Timor Leste itu sempat mengoper bola terobosan kepada Rizky Dwi Pangestu yang malah entah bagaimana bisa tersandung saat mengejarnya
Namun setelah itu serangan Persebaya tidak benar-benar berbahaya.
Dan mimpi buruk musim lalu kembali datang: kebobolan pada detik-detik menjelang pertandingan usai. Lini belakang Persebaya tidak terkoordinasi dan tidak tahu hendak melakukan apa, sehingga Ezequiel Vidal bisa menanduk bola hasil operan Dede Sapari dengan bebas ke gawang Ernando pada menit 90+2.
Usai pertandingan, tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menjelaskan. “Kami punya peluang setidaknya dua gol di babak pertama. Kalau bisa cetak duluan, pertandingan pasti akan berbeda,” kata Eduardo Perez, sebagaimana dilansir situs Persebaya.
Baiklah. Ini pertandingan pertama. Masih ada 33 laga lainnya yang setidaknya perlu diingat oleh Perez dan siapapun di Persebaya: peluang saja tidak cukup untuk menang. [wir]






