Ponorogo (beritajatim.com) – Matahari baru naik sepenggalah. Cuaca juga belum terlalu panas. Toko Mas Benny, yang menjual kebutuhan sehari-hari itu juga baru beberapa jam saja buka di pagi itu. Tapi, orang datang silih berganti dalam waktu yang relatif singkat.
Beberapa karyawan terlihat sibuk melayani pengunjung toko yang berlokasi di Desa Ringinputih, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo itu. Senyum hangat dan pelayanan ramah mereka berikan. Satu per satu pelanggan dilayani hingga transaksi tuntas.
Uniknya, mereka yang datang ke toko tersebut ternyata tidak hanya hendak berbelanja. Ada juga yang datang untuk melakukan transaksi perbankan. Baik itu setor atau tarik tunai, juga transfer antar rekening maupun bank. Bahkan untuk bayar tagihan listrik, beli pulsa, dan beberapa transaksi online lainnya.
Toko Sembako Mas Benny itu memang sudah bertransformasi menjadi pusat ekonomi desa. Desis lirih mesin Electronic Data Capture (EDC) sampai beberapa kali terdengar. Ketika suara berhenti, secarik kertas keluar. Pertandaa transaksi sukses dijalankan.
Momen itu dimulai ketika pemilik toko, Benny Yudha Pratama, resmi mendaftarkan tempat usahanya menjadi Agen BRILink, layanan keuangan tanpa kantor (Laku Pandai) yang terhubung dengan fasilitas perbankan milik BRI. Pelan tapi pasti, toko itupun menjelma menjadi bank mini di pelosok Ponorogo. Di sebuah desa yang tergolong desa migran.
“Alhamdulillah, sejak menjadi Agen BRILink BRI, toko semakin ramai. Pengunjung tidak hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga melakukan transaksi keuangan. Ada yang tarik tunai, transfer dan juga bisa top up saldo e-wallet,” kata Pemilik Toko Sembako Mas Benny, Benny Yudha Pratama, Jumat (21/11/2025).
Benny mengisahkan, usahanya dimulai pada 2014 lalu. Saat itu, dia memulai dengan toko kelontong berukuran kecil. Barang dagangannya hanya seputar kebutuhan sehari-hari tetangga di sekitarnya. Alasan pria itu, dia hanya punya sedikit modal. Yang penting, toko bisa jalan dan punya pendapatan.
Setahun setelah menikah, bersama istrinya, Lyla, Benny pun sepakat untuk mengembangkan usaha. Karena terbentur permodalan, pasutri baru itu akhirnya memberanikan untuk mengajukan kredit ke BRI.
“Setelah menikah itu, sepakat dengan istri untuk mengembangkan usaha toko ini. Akhirnya, kami beranikan untuk pinjam KUR yang bunganya rendah. Ya, nekat saja saat itu, yang penting pinjamnya untuk usaha bukan konsumtif,” kata Benny yang mengaku baru pertama itu pinjam ke bank
Dia pun sempat was-was. Takut tak bisa melunasi. Namun, kekhawatiran itu perlahan menghilang seiring dengan perkembangan tokonya. Pembelinya meningkat. Isi tokonya pun bertambah. Hingga akhirnya merekrut dua orang karyawan untuk membantu menjalankan toko itu.
Usaha pun jalan. Benny dan Lyla pun sepakat me-rebranding toko kelontong mereka menjadi toko sembako. Jenis dagangan pun semakin bervariasi.
Meski usahanya stabil, Benny tidak berpuas diri. Suatu malam jelang tidur, dirinya dan istri berdiskusi soal perkembangan usaha mereka. Keduanya ingin toko mereka berkembang lebih besar lagi.
Akhirnya pada medio 2019, Benny kembali ke BRI Unit Kauman. Kali ini bukan untuk pengajuan pinjaman namun mendaftar sebagai Agen BRILink BRI.
Gayung pun bersambut. Beberapa hari kemudian, rumah Benny kedatangan petugas dari BRI Cabang Ponorogo. Proses pendaftaran pun berjalan. Hingga Toko Sembako Mas Benny resmi menjadi Agen BRILink. Tokonya lalu mendapatkan alat EDC, pelatihan transaksi, serta pendampingan langsung dari pihak BRI Cabang Ponorogo.
Inisiatif untuk mendaftar program Laku Pandai ke BRI itu bukan dilakukan Benny tanpa alasan. Dia melihat belum ada fasilitas perbankan di desanya. Utamanya mesin ATM. Selain itu, belum ada Agen BRILink di sekitar tempat tinggalnya. Ditambah lagi, muncul permintaan dari pelanggan tokonya agar ada fasilitas perbankan.
“Jadi Agen BRILink BRI memang inisiatif kami, waktu itu di desa juga belum ada yang jadi Agen dan ada permintaan dari konsumen. Ya, niatnya mempermudah konsumen, eh ternyata juga menambah penghasilan tanpa menambah banyak biaya,” katanya dengan senyum senang.
Sejak menjadi Agen BRILink BRI, Benny mengakui omzet tokonya naik secara bertahap. Karyawannya juga bertambah menjadi 3 orang. Konsumen makin ramai karena bisa belanja sekaligus transaksi keuangan. Tokonya pun cepat terkenal di desa karena ada fasilitas perbankan tersebut.
Apalagi, kata Benny, ada banyak warga Ringinputih memiliki anggota keluarga bekerja di luar negeri. Para warga sering kesulitan saat ingin mengambil kiriman uang dari keluarganya. Jika ingin mengambil uang kiriman itu, mereka harus pergi ke ATM. Sementara, letak ATM terdekat cukup jauh dan di luar desa.
“Ya, sejak saat itu toko jadi ramai. Dulu, warga kalau ada kiriman uang dari anaknya di luar negeri harus ke ATM di Kecamatan Kauman. Sejak saat itu, yang dekat hanya di toko kami,” ungkap Benny yang juga menyebut banyak warga Desa Ringinputih yang bekerja di luar negeri, seperti Taiwan, Hongkong, Jepang dan Korea Selatan.
Ayu Wulandari, salah satu warga Desa Ringinputih, merasa sangat terbantu dengan keberadaan Agen BRILink di Toko Sembako Mas Benny. Dulu, dia harus pergi cukup jauh menuju ATM atau kantor cabang BRI terdekat untuk mengambil uang kiriman dari ibunya di luar negeri. Tetapi semenjak ada BRILink, dia hanya butuh waktu 2 menit untuk datang ke Toko Sembako Mas Benny dan bertransaksi di sana.
“Ibuku bekerja di Hong Kong, tiap bulan kirim uang. Saat ini mudah untuk mengambil uangnya di BRILink di tokonya Mas Benny,” kata Ayu.
Layanan keuangan dari Agen BRILink ini bisa menjadi jembatan finansial antara bank dan masyarakat. Tak ayal, Agen BRILink link sudah menjamur di berbagai pelosok desa di Bumi Reog.
Data BRI Cabang Ponorogo, saat ini ada 1.199 Agen BRILink yang tersebar di 21 kecamatan di Bumi Reog. Dari jumlah itu, pada Oktober lalu, omzet yang dihasilkan dari transaksi Agen BRILink mencapa Rp606.307.399,00.
“Kami sangat mengapresiasi semangat dan inisiatif Mas Benny dalam mengembangkan usaha melalui program Agen BRILink. Kisah sukses seperti ini membuktikan bahwa kehadiran BRI bukan hanya menyediakan layanan perbankan, tetapi juga menjadi mitra yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat hingga tingkat desa,” kata Pemimpin Cabang BRI Ponorogo, Agus Adi Hermanto.
Agen BRILink memang telah menjadi jembatan layanan keuangan yang memudahkan masyarakat dalam bertransaksi, terutama di daerah yang jauh dari kantor bank atau ATM. BRI Cabang Ponorogo, kata Agus patut berbangga, karena hadirnya Agen BRILink tidak hanya meningkatkan omzet usaha mitra, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian desa.
“Kami bangga karena hadirnya Agen BRILink tidak hanya meningkatkan omzet usaha mitra, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian desa, termasuk mempermudah transaksi bagi keluarga para pekerja migran dari Ponorogo,” katanya.
BRI akan terus memperkuat jaringan Agen BRILink dan mendampingi para pelaku usaha agar semakin berdaya, mandiri, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. [end/beq]






