Sabtu bersama dua kiper Persebaya Surabaya adalah hari yang mengingatkan kita, bahwa dalam sepak bola, gawang menyediakan kemungkinan dan peluang. Narasi sebuah tim bisa ditentukan aksi seorang penjaga gawang yang selalu dalam kesendirian selama pertandingan.
Bersama Andhika Ramadhani, gawang Persebaya kembali clean sheet saat menghadapi PSS di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (26/8/2023) sore. Skor akhir 0-0. Ini kali ketiga Persebaya tidak kebobolan, setelah dua kemenangan 1-0 atas Persita dan PSM.
Musim lalu, Andhika sering dianggap sebagai biang kegagalan Persebaya meraih kemenangan. Saat berhadapan dengan Persis Solo pada pekan 33 dalam kompetisi Liga 1 Musim 2022-23, Persebaya yang sudah unggul 3-2 hingga memasuki waktu tambahan, justru kebobolan pada menit 90+4. “Itu individual error,” kata Aji Santoso, pelatih Persebaya saat itu.
Andhika seorang shot stopper alias penghadang tembakan yang bagus. Refleksnya sering kali tepat dalam menepis bola tendangan pemain lawan. Namun, ia sering kali salah mengantisipasi bola-bola silang atas. Komunikasinya dengan pemain belakang kurang begitu bagus.
Namun penampilan Andhika musim ini sejauh ini cukup bagus. Ia berhasil menjaga gawang Persebaya tidak kebobolan dalam dua kali pertandingan, pada saat Ernando Ari absen karena harus memperkuat tim nasional.
Saat melawan PSS, Rawonstats mencatat Andhika melakukan empat penyelamatan penting. Saat melawan PSM di Surabaya, penyelamatan terpentingnya terjadi pada menit terakhir, saat barisan pertahanan Persebaya panik menghadapi serangan pemain lawan.
‘Dosa’ Andhika memelesetkan ‘Song For Pride’ Sabtu sore itu dilupakan. Dia telah dimaafkan. Sepak bola menyediakan kesempatan kepada semua orang untuk menebus kesalahaannya di atas lapangan sekaligus menjadi pahlawan.
Namun dalam sepak bola pula, kesempatan itu bisa berbalik menjadi bencana dalam hitungan menit, seperti yang dialami Ernando. Ia menjaga asa bangsa Indonesia saat berhasil menepis bola tendangan penalti Nguyen Quoc Viet pada menit 31 dalam final Pial AFF U23 melawan Vietnam, di Rayong Province Stadium, Thailand, Sabtu malamnya.
Ernando juga beberapa kali melakukan penyelamatan penting saat pertahanan Indonesia dibombardir pemain Vietnam. Jika Indonesia berhasil menjadi juara melalui adu penalti, anak muda kelahiran Semarang itu layak dinobatkan menjadi pemain terbaik malam itu.
Namun tidak. Setelah lima eksekutor penalti Indonesia berhasil melaksanakan tugasnya, Ernando menjadi eksekutor keenam. Penjaga gawang menjadi eksekutor penalti bukan hal aneh. Jose Luis Chillavert, kiper Paraguay, adalah jago bola mati. Tak hanya dari 12 pas, tapi juga tendangan bebas.
Final Piala Liga Inggris pada musim 2021-22 antara Liverpool melawan Chelsea juga menghadirkan adu penalti antara sesama kiper. Bola tendangan penjaga gawang Chelsea Kepa Arrizabalaga melayang ke atas mistar gawang Liverpool. Sementara penjaga gawang Liverpool Caoimhin Kelleher berhasil menjebol gawang Kepa.
Penalti adalah satu dari beberapa misteri dalam sepak bola. Pelatih Tim Nasional Indonesia Shin Tae-yong menyebut Ernando bisa mengeksekusi bola dengan baik selama latihan. Namun adu penalti berbeda dengan taktik sepak bola umumnya yang melibatkan banyak orang.
Adu penalti sepenuhnya bergantung pada individu pemain semata, yang sialnya, dilakukan setelah pemain bertanding selama 120 menit. Ketika kelelahan fisik dan mental serta menurunnya daya konsentrasi dikombinasikan dengan rasa waswas, maka keberuntungan (atau kesialan) ikut berbicara.
Sabtu bersama dua kiper Persebaya Surabaya adalah hari yang mengingatkan kita, bahwa dalam sepak bola, gawang menyediakan kemungkinan dan peluang. Dan tak pernah ada yang abadi dalam kisah kegagalan dan keberhasilan. Ernando dan Andhika memahaminya bersama waktu. [wir]






