Akhirnya menyala juga. Francisco Rivera menunjukkan kualitas yang membuat Persebaya memboyongnya dari Madura United dalam pertandingan melawan Borneo FC, di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (20/12/2024) malam.
Rivera mencetak gol di hadapan 10.931 penonton pada menit 16 dan 29. Gol pertamanya bahkan dieksekusi dari luar kotak penalti. Satu-satunya gol balasan Borneo dicetak dari kepala Ronaldo Rodrigues melalui skema tendangan sudut pada menit 32.
Gol Rivera dicetak dalam posisi sebagai penyerang lubang. Gol pertamanya dalam pertandingan terebut membantah tudingan skeptis banyak orang, bahwa dia tidak cocok bermain bersama Bruno Moreira.
Coba simak skemanya. Gol Rivera berawal dari pergerakan Bruno di sisi kiri. Pemain asal Brasil itu berhasil menarik tiga pemain Borneo mendekatinya dan membuat posisi Rivera kosong. Operan Bruno sempat coba dibuang Hendro Siswanto. Namun karena terpeleset, bola justru jatuh di kaki Rivera yang langsung menempatkannya di sudut kiri atas gawang Nadeo Argawinata.
Kita harus mengakui, bahwa Bruno memang membuat pemain lawan senantiasa cemas. Dia memiliki fear factor yang membuat setidaknya dua pemain lawan berusaha menutupnya. Ruang kosong yang diciptakan oleh pergerakan Bruno ini yang seharusnya bisa dimanfaatkan para pemain Persebaya untuk menciptakan peluang.
Pergerakan Bruno pula yang membuat Borneo harus bermain dengan sepuluh pemain. Sebuah serangan balik cepat Persebaya menempatkan Bruno sendirian di depan. Nadeo maju terlalu cepat dan menekelnya di luar kotak penalti. Wasit Tommi Manggopa mengeluarkan kartu merah langsung untuk kiper tim nasional tersebut pada menit 45+4.
Serangan balik memang menjadi senjata andalan Persebaya di bawah kepelatihan Paul Munster. Pelatih asal Irlandia Utara tak peduli dengan penguasaan bola. Sesuatu yang membedakannya dengan dua pelatih Persebaya sebelumnya, Aji Santoso dan Djajang Nurdjaman.
Persebaya meniru petinju Muhammad Ali yang membiarkan kepalanya dipukuli lawan sebelum menyengat balik dan membuat lawan terkapar. Gol kedua yang dicetak Rivera berasal dari serangan balik yang diawali dari umpan lambung ke depan oleh Kasim Botan.
Garis pertahanan tinggi Borneo dieksploitasi duet Malik Risaldi dan Flavio Silva. Dalam posisi dua pemain Persebaya melawan dua pemain bertahan Borneo, Flavio merebut bola dari Ronaldo Rodrigues. Malik Risaldi melanjutkannya dengan menerobos kotak penalti Borneo dan memberi assist kepada Rivera.
Taktik Munster hingga pekan ke-16 telah menjaga Persebaya di pucuk klasemen Liga 1 Musim 2024-25. Namun tetap saja membuat jantung Bonek berdebar keras dan menggerutu saat menyaksikan pertandingan malam itu.
Melawan sepuluh orang sejak akhir babak pertama, Persebaya bukannya menambah gol tapi malah dikepung pemain-pemain Borneo. Bermain melawan 10 pemain, Persebaya hanya menguasai 40 persen pertandingan. Akurasi operannya pun lebih buruk ketimbang Borneo (77 persen berbanding 81 persen).
Borneo bermain lebih impresif justru saat bermain dengan 10 orang. Mereka melepaskan 12 kali tembakan, lima di antaranya tepat sasaran, ke gawang Ernando. Persebaya melepaskan 10 tembakan, empat di antaranya tepat sasaran.
Kegagalan Persebaya membombardir gol ke gawang Borneo kendati unggul jumlah pemain menunjukkan bahwa sepak bola bukan matematika. Catatan menunjukkan, saat bermain dengan sepuluh pemain, Persebaya juga susah dikalahkan. Contoh terdekat saat melawan Semen Padang (berakhir 0-0), Arema (berakhir dengan kemenangan 3-2), dan Persita (menang 1-0).
Manajer Arsenal Arsene Wenger pernah mengatakan, senantiasa susah bermain sebelas melawan sepuluh pemain saat tandang. Anggapan termudah tentu saja adalah tim yang bermain dengan sepuluh pemain cenderung memilih bertahan daripada ofensif.
Namun riset yang dilakukan Adam Greenberg terhadap 1.520 pertandingan Premier League antara 2009 dan 2013 menunjukkan hal yang lebih detail. Data menunjukkan, dampak dikeluarkannya seorang pemain berbeda-beda, tergandung pada status tim tersebut: sebagai tuan rumah atau tamu.
Greenberg menegaskan, tim tuan rumah yang bermain dengan sepuluh pemain lebih menderita dua kali lipat dibandingkan jika tim tamu yang mengalaminya. Hal ini dikarenakan tekanan terhadap tim tuan rumah untuk tidak kalah di depan penggemar sendiri sangat besar. Sementara tim tamu bermain lebih lepas.
Greenberg juga menyebut skor 2-0 bukanlah skor aman. Setelah unggul 2-0, tim tersebut justru lebih rapuh. Mungkin ini yang terjadi pada Persebaya. Unggul 2-0 atas Arema dan Borneo, Bajul Ijo tak sepenuhnya aman. Bahkan saat melawan Arema, hanya butuh beberapa menit saja agar pertandingan berakhir imbang 2-2.
Pertanyaannya: apakah sebuah tim justru bermain lebih baik saat hanya diperkuat sepuluh orang pemain. Jonathan Wilson, jurnalis dan kolumnis sepak bola, mengatakan, tim yang bermain dengan pemain lebih banyak akan bertindak berlebihan dan terlalu memaksakan kemenangan.
“Sebelum ada zonal marking dan saat sepak bola lebih banyak diwarnai pertempuran pemain satu lawan satu, sangat mudah untuk memanfaatkan kelemahan lawan yang kekurangan pemain, dan mudah pula untuk menyerang ruang yang ditinggalkan pemain itu,” kata Wilson.
Saat ini, setelah taktik sepak bola lebih mengandalkan kolektivitas, keunggulan jumlah pemain tidak menggaransi kemenangan. Tim yang unggul jumlah pemain justru berpotensi melakukan kesalahan, sebagaimana dilakukan Claudio Ranieri, saat timnya Chelsea menghadapi Monaco dalam semifinal Piala Eropa 2004.
Skor 1-1 saat pemain Monaco Andreas Zikos terkena kartu merah. Ranieri mengganti pemain bertahan Chelsea asal Belanda, Mario Melchiot, dengan penyerang Jimmy Floyd Hasselbaink yang juga dari Belanda.
Instruksi Ranieri jelas: gempur pertahanan Monaco dan cetak gol secepatnya. Namun masuknya Hasselbaink justru mengubah keseimbangan tim dan membuka celah di pertahanan Chelsea.
Chelsea kehilangan kolektivitasnya. “Semua pemain ingin berbuat sesuatu lebih, berlari dengan bola dan bukannya bekerjasama dengan pemain lain,” kata Ranieri.
Sementara Monaco karena kehilangan seorang pemain justru mempertahankan kekompakannya sebagai sebuah tim. Hasilnya: dalam 15 menit terakhir, Monaco mencetak gol ke gawang Chelsea.
Munster tentu tidak bodoh untuk mengulangi kesalahan model Ranieri ini. Persebaya memang bermain tidak menyenangkan hati. Namun hasil positif yang selalu dipanen Bruno Moreira dan kawan-kawan bukanlah keberuntungan semata.
Munster berhasil membuat ‘shape’ (bentuk) formasi Persebaya cukup rapat dan kompak. Pemain diharuskan bekerja keras, tidak saja menyerang, tapi juga membantu pertahanan. Itulah kenapa kita sering melihat Flavio turun hingga zona defensif Persebaya untuk merebut bola dari kaki lawan. Melelahkan. Namun Persebaya di bawah kendali Munster adalah Persebaya dengan kolektivitas lebih baik dan teruji.
Bahkan Francisco Rivera pun butuh waktu untuk menunjukkan kemampuan individunya sebagaimana yang ditunjukkannya di Madura United. Mungkin hanya Bruno Moreira yang diperkenankan meliuk-liuk sesuka hati untuk memancing pemain lawan dan membuka ruang kosong untuk dimanfaatkan pemain Persebaya lainnya.
Begitulah. [wir]






