Malang (beritajatim.com)– Keributan terjadi usai ratusan siswa STM Turen, menggelar aksi pentas seni memeriahkan HUT STM Turen pada Kamis (15/1/2026). Pemicunya, konflik rebutan Yayasan yang menaungi dua lembaga sekolah yakni STM Turen dan SMP Bhakti di Jalan Panglima Sudirman, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang itu, membuat siswa berang hingga merusak kantor Yayasan yang ditempati sekelompok orang dari Yayasan Pendidikan Tekhnologi Turen (YPTT).
Saat kejadian, kantor Yayasan yang terbagi dua itu, juga ditempati oleh orang orang pengurus dari Yayasan Pendidikan Tekhnologi Waskito Turen (YPTWT) sebagai penyelenggara lembaga STM Turen dan SMP Bhakti. Dua kantor yayasan yang sedang diperebutkan itupun, hancur setelah dilempari batu dan kayu oleh siswa. Akibat kejadian itu, 7 orang dilaporkan mengalami luka luka.
“Sementara ini terdeteksi ada 7 siswa kami yang terluka pak. Satu orang siswa saat ini menjalani operasi di Rumah Sakit Umum PT Pindad Turen, semua biaya di cover oleh pihak sekolah pak,” ungkap Bagus Dharmawan, salah satu guru STM Turen, Jumat (16/1/2026).
Bagus mengatakan, korban luka yang ia ingat bernama Azril dan Ilham.
“Nama nama siswa yang luka Azril dan Ilham. Lainnya kami lupa, luka sobek dibagian tangan,” tutur Bagus.
Informasi diperoleh, insiden tersebut bermula usai siswa menggelar acara pentas seni memperingati HUT STM Turen di lapangan lantai dasar. Entah siapa yang mengkomando, ratusan siswa seusai kegiatan pentas seni, masuk ke area gedung Yayasan yang berada di samping lokasi acara.
Dua kantor yayasan saat itu, berisi dua kubu yang berbeda baik dari YPTT dan YPTWT. Lemparan batu dan kayu, membuat kantor Yayasan yang kini dalam proses perkara hukum tersebut luluh lantak. Kaca pecah. Amuk siswa membuat guru guru sekolah kewalahan.
Meski berhasil diredam, sejumlah guru STM Turen pun mengalami luka ringan pasca lemparan batu dan kayu mengarah ke gedung Yayasan.
“Untuk guru guru hanya luka ringan, luka memar saja. Karena berbenturan dengan siswa saja,” terang Bagus.
Menanggapi keributan tersebut, kuasa hukum YPTWT yang menaungi lembaga STM Turen, Ahmad Hadi Puspito menjelaskan, keticuhan terjadi usai siswa menghadiri acara pentas seni.
“Pentas seni ini acara rutin setiap tahun menyambut HUT STM Turen pada setiap bulan Desember. Guru guru sekolah sudah berupaya mencegah agar tidak ada keributan.
Namun kemarahan siswa tak mampu dikendalikan meski sudah dicegah guru, bahkan guru yang menghalangi sampai terluka,” beber Hadi.
Hadi menambahkan, kantor kaca yang pecah sudah ditempati orang tidak dikenal atau preman sejak tanggal 28 Desember 2025 lalu. Lokasi kantor yayasan yang rusak, berada di akses utama pintu keluar dan masuknya ribuan siswa di STM Turen.
Saat kejadian, Hadi bersama sejumlah pihak dari lembaga sekolah berada di luar.
“Kami tidak tahu karena ada diluar tadi. Langkah kami dari awal mengharapkan kehadiran negara untuk menyelesaikan persoalan ini. Kembalikan situasi kondusif seperti sebelum kejadian 28 Desember 2025. Dari kami yayasan, ingin ada kehadiran negara, menertibkan orang orang luar yang berada masuk dilingkungan sekolah kami” Hadi mengakhiri. [yog/aje]






