Lamongan (beritajatim.com) – Dari desa kecil di Lamongan, gaung musik metal terus menggema lewat kolektif Reunion Moral Bangsat, yang digelar di Kecamatan Paciran, Minggu (28/9/2025).
Sejak berdiri pada 2012, komunitas ini hadir bukan sekadar sebagai ruang berkumpul musisi, melainkan wadah kreativitas, perlawanan, dan persaudaraan bagi para pemuda Desa Dagan, Kecamatan Paciran.
Ketua Panitia Penyelenggara, Vicky, menjelaskan Reunion Moral Bangsat lahir dari inisiatif komunitas Zombok Metal Corps dan Dagan Bawah Tanah, yang didasari kegelisahan anak muda yang melihat minimnya ruang bagi musik keras dan budaya alternatif.
Mereka tidak ingin hanya menjadi penonton dalam perkembangan musik metal, melainkan menjadi bagian aktif yang menciptakan ruang alternatif.
“Kami percaya bahwa musik metal adalah ruang persaudaraan. Setiap suara didengar, setiap aksi menimbulkan reaksi, dan setiap perbedaan dirayakan. Inilah energi yang kami rawat
bersama,” kata Vicky.

Dalam perjalanannya, Reunion Moral Bangsat konsisten menghidupkan skena musik independen melalui gigs, festival, showcase band, hingga edukasi tentang kultur subkultur metal. Semua dikerjakan secara mandiri, mulai dari membangun panggung, mendesain poster, hingga memproduksi merchandise.
“Musik metal bagi kami bukan hanya genre, tapi gaya hidup untuk bersuara kritis, melawan ketidakadilan, sekaligus merayakan keberagaman,” tegas Vicky.
Lebih dari satu dekade, Reunion Moral Bangsat berhasil menjadikan Desa Dagan dan Lamongan dikenal luas di peta musik metal tanah air. Tidak hanya lewat konser, mereka juga mendorong kolaborasi lintas bidang bersama seniman visual dan komunitas kreatif lain, sekaligus aktif di dunia digital melalui YouTube, TikTok, dan Instagram.
Tak berhenti di musik, komunitas ini juga terlibat dalam misi sosial. Saat bencana melanda, mereka turun menggalang dana; saat ada kebutuhan desa, mereka bahu-membahu mencari solusi. Semua dilakukan tanpa birokrasi kaku, melainkan dengan dasar gotong royong dan solidaritas.
“Kami tumbuh dari akar rumput, bukan sekadar penikmat distorsi di panggung, melainkan bagian dari masyarakat yang bergerak bersama,” ujar salah satu anggota.
Dengan semangat kolektif yang terus menyala, Reunion Moral Bangsat membuktikan bahwa dari desa pesisir Lamongan, musik metal bisa menjadi motor kreativitas sekaligus energi perubahan sosial. (fak/but)






