Surabaya (beritajatim.com) – Guna membangkitkan kembali potensi wisata mangrove di kawasan timur Kota Surabaya, Universitas Kristen Petra (UK Petra) bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) menggagas program kolaboratif bertajuk “Transformasi Menuju Sustainable Eco-Tourism (SET) Melalui Inovasi Ekonomi Mandiri dan Smart Community.”
Program ini akan berlangsung selama enam bulan, mulai Mei hingga Oktober 2025, dengan menyasar kawasan Kelurahan Wonorejo, Rungkut, Surabaya. Adapun fokus utamanya adalah pemberdayaan masyarakat melalui UMKM lokal, inovasi produk berbasis mangrove, dan penguatan komunitas cerdas melalui teknologi.
Menurut ketua tim, Pwee Leng, dan anggota tim sekaligus PIC program, Astri Yogatama, kegiatan ini merupakan wujud nyata dari sinergi antara akademisi dan lembaga sosial dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal.
“Wonorejo Rungkut ini sebenarnya memiliki potensi yang banyak, selain mangrove, mereka juga ada peternakan, perikanan, dan pertanian, jadi kita pilih ke sini karena memang potensi lokalnya besar,” ungkap Astri.
Melalui pendekatan komprehensif, program SET mendorong diversifikasi produk lokal—seperti olahan pangan dari mangrove—yang nantinya diharapkan bisa masuk ke pasar domestik hingga internasional.
Salah satu kegiatan unggulan berlangsung pada 14 Juni 2025 di Balai Kelurahan Wonorejo, Rungkut. Acara bertajuk “Pemberdayaan dan Bimbingan Gratis untuk Pejuang UMKM 2025” ini menghadirkan pelatihan langsung dari dosen UK Petra, dengan praktik membuat kue berbahan dasar mangrove yang bisa dikembangkan sebagai produk unggulan desa wisata, salah satunya ialah nastar.
Agung Harianto selaku Program Koordinator Kuliner dari Bisnis Manajemen menilai bahwa produk seperti nastar bisa menjadi ikon baru oleh-oleh khas Wonorejo Rungkut jika dikemas dengan baik. Ia menyebut bahan dasar seperti sirup dan tepung mangrove sudah tersedia, tinggal pengembangan lanjut oleh warga.
“Kenapa nastar? Saya berpikirnya kan agar ini menjadi nilai tambah untuk masyarakat, jadi paling mudah saya pakai nastar. Dipackaging yang bagus, diolah yang bagus, seharusnya bisa jadi nilai jual yang tinggi. Karena sudah ada sirup dan tepung mangrove jadi warga tinggal ngembangin ajah,” jelasnya.
Kegiatan ini sendiri diikuti oleh berbagai elemen warga, mulai dari PKK, Kader Surabaya Hebat (KSH), hingga pelaku UMKM dari berbagai bidang. Salah satu peserta, Nining Zahro, mengaku senang dengan adanya pelatihan ini meski ia bukan pelaku usaha kuliner.
“Luar biasa bagus ini. Karena UKM khususnya di bidang kuliner itu bisa menambah wawasan dan menambah jumlah produknya. Saya sendiri yang usaha di bidang craft juga tertarik,” ungkap Nining.
Ia pun mengaku tidak menutup kemungkinan untuk ikut mengembangkan usaha di bidang kuliner. “Kondisi ekonomi juga perlu kita sikapi dengan cerdas. Jadi gak satu lapangan kerjaan yang kita buka. Kalau bisa ya ada beberapa ntar. Jadi bisa berpeluang mendapatkan income yang lebih bagus. Kan itu juga saling menunjang,” ujarnya.
Sementara itu, Lurah Wonorejo Rungkut, Ari Hardini, pun menyampaikan apresiasinya atas program ini. Ia berharap warga tidak mudah menyerah dan melihat pelatihan ini sebagai langkah awal untuk bangkit secara ekonomi.
“Kalau produk dan kualitasnya naik, daya beli bisa ikut naik. Ini bukan hanya pelatihan satu kali, tapi ada pendampingan lanjutan juga, bahkan sampai pemanfaatan e-commerce,” terangnya.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, program SET ini diharapkan mampu membangun ekosistem pariwisata berbasis masyarakat yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (fyi/kun)






