Jumat, 31 Mei 2002. Kalidou Koulibaly masih berusia sebelas tahun, saat gurunya membawa televisi ke ruang kelas dan memutar siaran langsung pertandingan Senegal menghadapi Prancis.
Ini pertandingan pembukaan Piala Dunia di Seoul, Korea Selatan. Prancis lebih diunggulkan. Empat tahun sebelumnya mereka menjadi juara dunia di Paris.
Tujuh dari sebelas pemain Prancis yang turun dalam partai perdana tersebut adalah para pahlawan final Piala Dunia 1998 yang membekuk Brasil 3-0. Hanya Zinedine Zidane tidak bisa diturunkan karena masih dirundung cedera.
Sementara itu Senegal bukan siapa-siapa. Sejak merdeka penuh pada 20 Agustus 1960, mereka selalu gagal menembus putaran final Piala Dunia. Tahun 2002 adalah tahun pertama Senegal lolos dari babak kualifikasi Afrika.
Senegal adalah bekas jajahan Prancis dan berada di bawah kendali sepenuhnya sejak masa Presiden Prancis Marie François Sadi pada 1891. Relasi kolonialisme selama 69 tahun tersebut membuat hubungan warga Senegal dengan Prancis lebih dekat. Apalagi, warga kedua negara diperkenankan memiliki dua paspor.
Patrick Vieira, gelandang bertahan tim nasional Prancis pada Piala Dunia 2002, lahir di Dakar, Senegal, dan pndah ke negara itu pada usia delapan tahun. Sementara itu sebagian besar pemain timnas Senegal bermain di klub Prancis.
Papa Bouba Diop, pencetak gol tunggal yang mememangkan Senegal dalam pertandingan itu, bergabung dengan klub League 1 RC Lens empat bulan sebelumnya. Dia juga meninggal dunia di Paris pada 29 November 2020.
Bagi Koulibaly kecil, pertandingan itu memantik kesadaran tentang nasionalisme Senegal. Lahir dan tumbuh di Saint-Di-des-Vosges, Prancis, awalnya dia menjadi pendukung Zidane dan kawan-kawan saat menghadapi Senegal.
Namun sang ibu mendorong Kalidou Koulibaly untuk mendukung Senegal. “Prancis melawan Senegal, dukung Senegal,” katanya.
Penyerang Senegal saat itu Salif Diao menyebut pertandingan tersebut tak ubahnya perang. “Kami bermain melawan Prancis, negara yang pernah menjajah Senegal. Itu membangkitkan banyak emosi,” katanya.
Pelatih Senegal saat itu adalah seorang berkebangsaan Prancis Bruno Metsu yang memahami benar mentalitas pemain Afrika. Dia tahu bagaimana orang-orang Afrika mendapat stigma buruk di mata orang-orang Eropa kulit putih.
Beberapa hari sebelum pertandingan, Khalilou Fadiga, gelandang Senegal, dituduh mencuri dari toko perhiasan di Daegu, Korea Selatan. Tuduhan seperti ini bukan pertama kali muncul di Piala Dunia. Dulu kapten timnas Inggris, Bobby Moore, juga pernah dituduh mencuri perhiasan di Bogota, Kolombia, sebelum Piala Dunia 1970.
Moore, seorang kulit putih yang tiga tahun sebelumnya dianugerahi gelar kebangsawanan OBE (Officer of the Order of the British Empire) oleh Ratu Elizabeth II, sempat masuk bui dan kemudian dibebaskan. Banyak orang yang ragu Moore melakukannya dan tidak ada bukti. Sementara Fadiga menanggung stigma buruk soal orang-orang kulit hitam yang identik dengan kriminalitas.
Insiden yang dialami Fadiga digunakan Mensu untuk memotivasi para pemain Senegal. “Hanya satu hal yang dapat mengubah semua omong kosong ini, dan itu adalah dengan kita melakukan sesuatu yang besar. Teman-teman kalian membutuhkan kalian, negara kalian membutuhkan kalian, kalian harus memenangi pertandingan ini.”
Mensu mengabarkan kepada anak-anak asuhnya, bahwa media massa Prancis sudah meramalkan timnas Prancis bakal menang 8-0. “Kita ini singa, bukan ayam jantan. Bagaimana mungkin ayam jantan bisa memakan singa? Tidak mungkin dong,” katanya. Ayam jantan adalah julukan timnas Prancis.
Dan memang singa Senegal akhirnya benar-benar menyantap ayam jantan Prancis.
Salif Diao menyebut hasil itu bukan hanya kemenangan bagi rakyat Senegal, namun juga kemenangan bagi Afrika. “Itu adalah kemenangan bagi setiap negara yang pernah dijajah. Itu mengubah cara berpikir kami, menghilangkan rasa rendah diri yang kami rasakan, dan menghancurkan sekat-sekat,” katanya.
Dan bagi Koulibaly, kemenangan itu bagaikan jalan takdir untuk kembali ke pelukan tanah para leluhurnya dan menjadi kapten tim nasional Senegal saat dewasa.
Di Korea Selatan, Senegal menjadi negara Afrika kedua yang menembus perempat final Piala Dunia, setelah Kamerun melakukannya pada Piala Dunia 1990. Capaian tersebut kemudian menjadi standar bagi timnas Senegal generasi berikutnya.
Piala Dunia 2026 adalah kesempatan bagi Koulibaly untuk membuktikan bahwa tim generasi mereka lebih baik. El Hadji Diouf, pencetak gol terbanyak ketiga Senegal dan pahlawan Piala Dunia 2002, mengatakan tidak ada yang perlu ditakuti.
“Sebelumnya, orang selalu mengatakan negara-negara Afrika tidak akan lolos dari babak pertama, tetapi sekarang jaraknya semakin kecil dan Senegal memiliki setiap kesempatan untuk maju dan memenanginya,” kata Diouf.
Dibatalkannya gelar Piala Afrika 2025 secara kontroversial oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), akan menyuntikkan motivasi ekstra bagi para pemain Senegal. “Mereka ingin menegaskan bahwa mereka adalah tim terbaik di Afrika,” kata jurnalis sepak bola Aliou Goloko.
Apalagi tim yang dilatih Pape Bouna Thiaw ini memiliki kedalam skuad yang bagus. Mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain inti yang kuat, namun juga susunan pemain cadangan yang setara.
Sadio Mane, pemain sayap yang kini berusia 34 tahun, masih diandalkan sebagaimana Piala Afrika setahun sebelumnya. Manelah yang membuat kawan-kawannya mau melanjutkan pertandingan final melawan Maroko setelah sempat mogok karena merasa dicurangi wasit. Dia juga kemudian dinobatkan menjadi pemain terbaik dalam perhelatan tersebut.
Senegal hari ini juga memiliki pemain muda potensial seperti Ibrahim Mbaye dan bek tengah Mamadou Sarr. Kemampuan mereka melakukan transisi permainan didukung oleh sederet pemain yang punya kecepatan untuk membongkar pertahanan, terutama dari sayap. Bukan hanya Mane di sana, tapi juga ada Ibrahim Mbaye, Iliman Ndiaye, dan Ismaila Sarr.
Duet pertahanan Moussa Niakhate dan Kalidou Koulibaly solid, kendati Koulibaly beberapa kali melakukan kesalahan mendasar dalam final Piala Afrika. Namun dia memiliki kepemimpinan yang kuat dan dihormati para pemain.
Thiaw mencoba tiga sistem. Awalnya mereka menggunakan formasi 3-4-3 dan 4-3-3. Namun dia juga bisa memainkan dua striker. Nicolas Jackson masih menjadi tumpuan di lini depan, asalkan bisa konsisten. Selama ini konsistensi lini depan masih jadi pekerjaan rumah Senegal.
***
Menghadapi Senegal pada pertandingan pertama tidak ubahnya dejavu bagi Prancis. Sebagaimana skuad 2002, mereka memiliki skuad dahsyat saat ini. Sang kapten Kylian Mbappe dan pemegang Ballon d’Or, Ousmane Dembele akan menjadi kombinasi mengerikan di lini serang.
Namun apakah kali ini Prancis juga mengalami dejavu hasil? Akankah Kylian Mbappe yang menjadi bintang Prancis dalam Piala Dunia 2022 akan senasib dengan bintang Piala Dunia 1998 Zinedine Zidane yang tak diturunkan saat melawan Senegal karena cedera?
Mbappe bisa jadi bermain atau tidak. Kondisi kebugarannya masih dipertanyakan. Jika dalam kondisi bugar, Mbappe jelas akan diberi keleluasaan untuk bergerak. Namun kebebasan itu bisa merugikan skema serangan Prancis jika tidak ada yang bisa memainkan peran seperti Olivier Giroud yang menempati zona tengah.
Pelatih Didier Deschamps sebenarnya memiliki banyak pelor di lini depan. Mesin gol Bayern Munchen berusia 24 tahun, Michael Olise, yang mencetak 18 gol dan 25 assist dalam 43 penampilan di semua kompetisi seharusnya bisa jadi opsi yang sangat mematikan. Begitu pula pemenang penghargaan Golden Boy 2025 Desire Doue.
Masalahnya dengan formasi 4-2-3-1, ketergantungan Deschamps terhadap Mbappe sangat besar. Dalam babak kualifikasi Eropa, dia mencetak lima dari 16 gol Prancis. Jika dia tak bisa diturunkan karena cedera (juga kemungkinan jarang diturunkan penuh waktu 90 menit di semua pertandingan Piala Dunia), maka Deschamps harus mengubah limpahan daya serang kreatif yang dimilikinya menjadi unit yang efektif dan seimbang.
Sementara itu lini tengah Prancis masih perlu banyak berbenah untuk bisa setara dengan lini tengah tim juara dunia pada 2018. Kekalahan 4-5 dari Prancis dalam semifinal UEFA Nations League, 5 Juni 2025, menunjukkan betapa belum terujinya lini tengah Prancis. Kelemahan ini bisa dieksploitasi kecepatan anak-anak Senegal.
Deschamps sudah berhasil membawa Prancis ke final Piala Dunia 2018 dan 2022. Salah satunya berakhir sebagai juara, dan hanya adu penalti saat melawan Argentina yang menggagalkan mereka di final terakhir.
Saat ini adalah Piala Dunia terakhir Deschamps. Konon dia akan digantikan Zidane.
Namun itu hal terakhir yang dicemaskannya. Tugasnya kini adalah mengoptimalkan semua potensi, termasuk lini serang tanpa mengorbankan soliditas pertahanan. Deschamps mengakui para pemain kadang kurang berfokus. Padahal hal terpenting adalah menjaga keseimbangan. “Kami ingin menjadi kurang mudah ditebak, kurang mudah dibaca,” katanya.
Oryza A. Wirawan,
Jurnalis Senior beritajatim.com, Pegiat Bonek Writer Forum.






