Gempa bumi mengguncang Chile pada 22 Mei 1960. Berpusat di dekat Valdivia dengan kekuatan 9,5 skala Richter, ini adalah gempa terkuat yang pernah tercatat mengguncang negara tersebut.
Ribuan orang meninggal dan sekitar dua juta penduduk terdampak. Infrastruktur rusak berat, termasuk empat stadion yang semula direncanakan menjadi lokasi pertandingan Piala Dunia. Hanya empat stadion yang bertahan, yakni di Santiago, Viña del Mar, Rancagua, dan Arica.
Situasi yang dihadapi Chile jauh berbeda dengan situasi yang dihadapi enam negara tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya.
Uruguay memang menghadapi krisis global Depresi Hebat pada 1929 saat menjadi tuan rumah pada 1930. Namun, ekonomi Uruguay relatif masih stabil sehingga siap membiayai kedatangan semua tim peserta dari Eropa.
Italia dan Prancis menghadapi situasi politik yang memanas. Namun, secara ekonomi kedua negara itu masih mampu membiayai penyelenggaraan. Bahkan pemimpin Italia, Benito Mussolini, habis-habisan mengongkosi Piala Dunia 1934 sehingga dipuji oleh Presiden FIFA, Jules Rimet. Brasil, Swiss, dan Swedia juga cukup kuat membiayai penyelenggaraan pada 1950, 1954, dan 1958.
Saat mengajukan proposal tuan rumah, Chile harus bersaing dengan Argentina. Banyak yang menyebut Argentina lebih berpeluang karena memiliki stadion yang lebih besar, tradisi sepak bola yang kuat, dan antusiasme publik.
Namun, tokoh-tokoh federasi sepak bola Chile, Juan Pinto Durán dan Carlos Dittborn, melakukan lobi intensif. Mereka berhasil membuat FIFA terkesan dengan argumen bahwa Piala Dunia seharusnya diberikan kepada negara yang paling membutuhkan kesempatan untuk berkembang melalui penyelenggaraan turnamen tersebut.
Hasilnya, Chile mendapat dukungan 32 suara berbanding 11 suara untuk Argentina dalam pemungutan suara negara-negara anggota FIFA.
Gempa bumi nyaris membatalkan penyelenggaraan Piala Dunia di Chile. Namun, Carlos Dittborn yang menjadi ketua panitia meminta FIFA memberikan kesempatan kepada Chile. Ini adalah masalah harga diri sebuah bangsa yang terluka.
“Karena kami tidak punya apa-apa lagi, kami akan melakukan apa pun semampu kami untuk membangun ulang semuanya,” kata Dittborn.
FIFA luluh. Piala Dunia tetap digelar di Chile. Sejumlah negara sepak bola kuat ikut serta. Juara bertahan sekaligus juara Piala Dunia 1954, Jerman Barat, Hungaria, Inggris, dan juara dunia dua kali Italia berhasil memastikan tempat mereka. Turnamen ini juga menjadi debut bagi Kolombia dan Bulgaria.
Grup 1 menghadirkan pertandingan yang menghibur. Enam pertandingan menghasilkan 25 gol. Salah satunya adalah pertandingan Kolombia melawan Uni Soviet. Setelah sempat tertinggal 0-3 dan 1-4, Kolombia berhasil memaksakan hasil imbang 4-4.
Pertandingan antara dua negara Eropa Timur, Uni Soviet dan Yugoslavia, berjalan keras. Bek Soviet, Eduard Dubinski, mengalami patah kaki setelah tekel keras Muhamed Mujic. Uni Soviet akhirnya menjadi juara grup tanpa kekalahan, sementara Yugoslavia mendampingi mereka ke babak berikutnya.
Namun, Piala Dunia 1962 akan dikenang karena Battle of Santiago, pertandingan Chile melawan Italia di Grup 2. Pertandingan tersebut lebih dikenang karena kekerasannya daripada kualitas sepak bolanya.
Kekerasan di lapangan ini dipicu memanasnya relasi kedua negara karena sejumlah laporan kritis tentang kondisi Santiago yang ditulis dua jurnalis Italia.
Baru delapan menit berjalan, pemain Italia Giorgio Ferrini diusir keluar lapangan karena melakukan pelanggaran terhadap Honorino Landa. Namun, Ferrini menolak keluar lapangan sehingga memaksa polisi turun tangan.
Tak berhenti di sana, pertandingan sepak bola berubah menjadi baku pukul. Leonel Sánchez dari Chile lolos dari hukuman setelah memukul Mario David. Sementara David mendapat kartu merah setelah melakukan tendangan balasan yang brutal.
Sánchez kembali terlibat insiden dengan memukul Humberto Maschio hingga hidung pemain Italia tersebut patah. Di tengah kekacauan itu, wasit asal Inggris, Ken Aston, berusaha mengendalikan pertandingan. Chile akhirnya menang 2-0 dan lolos ke babak perempat final mendampingi Jerman Barat.
Di Grup 3, Brasil dan Spanyol lebih diunggulkan. Spanyol membawa sejumlah pemain ternama seperti Ferenc Puskás dan José Santamaría. Bahkan Alfredo Di Stéfano masuk dalam skuad. Namun, cedera membuat Di Stéfano tidak pernah tampil.
Cekoslowakia justru menjadi kuda hitam. Setelah mengalahkan Spanyol 1-0, mereka berhasil menahan imbang Brasil tanpa gol dan lolos sebagai runner-up grup.
Brasil tampil lebih hati-hati dibanding empat tahun sebelumnya. Mereka hanya mencetak empat gol saat melawan Meksiko, Cekoslowakia, dan Spanyol. Mereka lolos sebagai juara grup dengan didampingi Cekoslowakia.
Grup 4 menghasilkan pertandingan yang kurang menarik. Inggris memastikan tempat di perempat final mendampingi Hungaria setelah bermain imbang tanpa gol melawan Bulgaria di Rancagua. Hasil itu cukup untuk mengirim Argentina pulang.
Perempat final dimainkan serentak pada hari yang sama. Chile, dengan memanfaatkan dukungan publik, berhasil mengalahkan Uni Soviet 2-1. Sementara itu, Brasil mengalahkan Inggris 3-1.
Didi, Vavá, dan Garrincha mampu menutupi absennya Pele yang mengalami cedera otot paha saat melawan Cekoslowakia di fase grup.
Pada pertandingan lain, Cekoslowakia menyingkirkan Hungaria berkat gol tunggal Adolf Scherer. Sementara Yugoslavia mengalahkan Jerman Barat melalui gol telat Petar Radaković.
Pertandingan semifinal pertama mempertemukan dua negara Eropa Timur. Scherer kembali mencetak gol dan membawa Cekoslowakia melaju ke final kedua dalam sejarah mereka setelah mengalahkan Yugoslavia 3-1.
Sementara pertandingan lainnya mempertemukan dua negara Amerika Selatan. Di hadapan lebih dari 76 ribu penonton yang memadati Stadion Nasional Santiago, Chile memberikan perlawanan sengit terhadap Brasil.
Brasil unggul dua gol lebih dahulu sebelum Jorge Toro memperkecil ketertinggalan menjelang turun minum. Vavá kembali memperlebar keunggulan Brasil pada awal babak kedua.
Penalti Leonel Sánchez membuat Chile kembali memiliki harapan. Namun, gol sundulan Vavá memastikan kemenangan Brasil 4-2.
Chile kemudian menutup turnamen dengan manis melalui kemenangan 1-0 atas Yugoslavia pada perebutan tempat ketiga. Dittborn tak sempat menyaksikannya karena meninggal dunia sebulan sebelum penyelenggaraan Piala Dunia.
Brasil menghadapi Cekoslowakia di final tanpa kehadiran Pele yang digantikan Amarildo. Cekoslowakia sempat unggul lebih dahulu melalui Josef Masopust setelah menerima umpan Adolf Scherer.
Kelak Masopust melatih tim nasional Indonesia yang dipersiapkan untuk Olimpiade pada periode 1988–1991 dan sempat menangani Timnas Indonesia U-19.
Dua menit berselang, Amarildo menyamakan kedudukan lewat tembakan yang mengecoh kiper Viliam Schrojf.
Memasuki babak kedua, Brasil mengambil kendali permainan. Amarildo mengirim umpan yang dimanfaatkan Zito untuk membawa Brasil unggul.
Sepuluh menit menjelang akhir pertandingan, kesalahan Schrojf saat mengamankan bola membuat Vavá dengan mudah mencetak gol ketiga Brasil. Skor 3-1 bertahan hingga akhir laga dan Brasil mempertahankan gelar juara dunia yang diraih pada 1958 di Swedia. Kali ini tanpa Pele di partai puncak. [wir/kun]





