Kamis, 6 Februari 1958, beberapa bulan menjelang penyelenggaraan Piala Dunia di Swedia, sebuah pesawat sewaan milik Maskapai British European Airways dengan nomor penerbangan 609, mengalami kecelakaan di Munich, Jerman Barat.
Peristiwa tragis ini menewaskan sejumlah pemain Manchester United. Kehilangan yang menjadi tulang punggung tim nasional Inggris saat itu. Salah satunya adalah Duncan Edwards, gelandang muda berbakat.
Kecelakaan ini mengubah peta sepak bola dunia. Inggris berangkat ke Swedia dengan skuad yang berduka dan terlemahkan. Mereka bermain imbang dalam seluruh pertandingan grup melawan Brasil, Uni Soviet, dan Austria.
Hasil tersebut memaksa Inggris menjalani laga play-off melawan Uni Soviet. Gol tunggal Anatoliy Ilyin memastikan Inggris tersingkir dan Uni Soviet melaju ke perempat final.
Kegagalan Inggris hanya salah satu kegagalan tim raksasa dalam Piala Dunia 1958. Sebelumnya Italia tersingkir di babak kualifikasi, setelah dikalahkan Irlandia Utara 1-2 dalam pertandingan terakhir Grup B Zona Eropa, di Windsor Park, Belfast, 15 Januari 1958.
Dengan kemenangan Irlandia Utara ini, empat negara Britania Raya berhasil lolos ke Swedia. Wales lolos setelah mengalahkan Israel dalam pertandingan play-off kualifikasi dengan skor agregat 4-0, masing-masing 2-0 di Ramat Gan dan Cardiff.
Skotlandia lolos sebagai juara Grup 9 Zona Eropa dengan menyingkirkan Spanyol dan Swiss. Sementara Irlandia gagal melewati kualifikasi Grup 1 Zona Eropa. Mereka menempati posisi runner-up di bawah Inggris.
Di Swedia, Wales tampil mengesankan dengan lolos ke perempat final setelah mengalahkan Hungaria 2-1 dalam playoff. Melalui gol Ivor Allchurch dan Terry Medwin.
Irlandia Utara tak kalah mengesankan. Mereka berhasil nenahan imbang juara bertahan Jerman Barat 2-2. Irlandia Utara memastikan tiket ke perempat final setelah dua gol Peter McParland menjebol gawang Cekoslowakia dalam playoff.
Namun sialnya, Irlandia Utara harus bertemu Prancis di perempat final. Les Bleus tampil sangat produktif di Grup 2 dengan mencetak tujuh gol ke gawang Paraguay. Tiga gol di antaranya dicetak striker Just Fontaine yang mencatatkan total enam gol pada fase grup.
Fontaine mencetak dua gol dari empat gol tanpa balas ke gawang Irlandia Utara. Dua gol lainnya dicetak Maryan Wisniewski dan Roger Piantoni.
Sementara iru dalam perempat final lainnya, Jerman Barat menyingkirkan Yugoslavia melalui gol tunggal Helmut Rahn dan Swedia mengalahkan Uni Soviet 2-0.
Satu posisi semifinal diisi Brasil yang dilatih Vicente Feola. Mereka memperkenalkan formasi 4-2-4 yang kemudian dianggap revolusioner. Sistem ini memaksimalkan kemampuan menyerang pemain-pemain seperti Garrincha, Vava, Didi, dan seorang remaja berusia 17 tahun bernama Pele.
Feola membawa tim lebih awal ke Eropa agar para pemain dapat beradaptasi dengan cuaca dan kondisi setempat. Brasil juga menerapkan pendekatan yang lebih terorganisasi dibandingkan turnamen sebelumnya.
Awalnya Pele belum menjadi pilihan utama, karena Feola lebih memilih Mazzola, Dida, dan Vava. Namun setelah Brasil bermain imbang tanpa gol melawan Inggris, Feola memberikan Pele kesempatan tampil bersama Garrincha.
Garrincha tampil luar biasa dan menjadi protagonis dalam kemenangan 2-0 atas Uni Soviet di fase grup. Dua gol yang dicetak Vava dalam pertandingan tersebut mengantarkan Brasil ke perempat final menghadapi Wales.
Pertandingan berlangsung ketat, dan Pele mencetak satu-satunya gol. Gol tunggal yang menobatkannya sebagai pemain termuda yang pernah mencetak gol di putaran final Piala Dunia.
Babak semifinal mempertemukan Swedia dengan Jerman Barat di Gothenburg. Sempat tertinggal oleh gol Hans Schafer, Swedia bangkit melalui gol Lennart Skoglund, Gunnar Gren, dan Kurt Hamrin untuk menutup skor 3-1.
Pertandingan final idaman justru terjadi di semifinal antara Brasil dengan Prancis. Ini panggung bagi Pele dan Just Fontaine.
Gol cepat Vava membawa Brasil unggul sebelum disamakan Fontaine. Cedera pemain bertahan Robert Jonquet membuat Prancis terpukul. Brasil memanfaatkan situasi itu dengan sempurna. Didi mengendalikan permainan, dan Pele mencetak trigol yang memgakhiri pertandingan dengan skor 5-2.
Gagal di semifinal, Fontaine melampiaskannya dalam perebutan tempat ketiga. Dia mencetak empat gol dalam episode kemenangan 6-3 Prancis atas Jerman Barat, dan menobatkannya sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu turnamen dengan 13 gol. Rekor yang belum terpecahkan hingga Piala Dunia 2022 di Qatar.
Dalam pertandingan final di Stadion Rasunda, Stockholm. tuan rumah Swedia membuka keunggulan melalui Nils Liedholm pada menit keempat. Namun keunggulan itu tidak bertahan lama. Vava menyamakan skor beberapa menit kemudian dan mencetak gol kedua untuk membawa Brasil unggul 2-1 saat jeda.
Pada babak kedua, Pele mencetak salah satu gol paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia. Dia mengontrol bola, melewati pemain bertahan lawan, lalu melepaskan tembakan yang tidak mampu dihentikan kiper Swedia Kalle Svensson.
Setelah Mario Zagallo menambah gol keempat Brasil, Swedia sempat memperkecil ketertinggalan melalui Agne Simonsson. Namun Pele kembali mencetak gol menjelang pertandingan berakhir untuk memastikan kemenangan 5-2.
Brasil menjadi tim non-Eropa pertama yang menjuarai Piala Dunia di benua Eropa. Kemenangan itu juga menandai awal era kejayaan Brasil dalam sepak bola internasional..[wir]






