Magetan (beritajatim.com) – Temuan tiga sumber air panas di kawasan Air Terjun Kedung Gupit, lereng Gunung Lawu, Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan pada 2021 hingga kini belum dikembangkan.
Padahal, temuan ini membuka peluang pengembangan wisata alam baru yang berpotensi mendongkrak pendapatan desa dan daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan, Joko Trihono, menyebut bahwa pembangunan akses ke lokasi sudah hampir rampung, namun terkendala bencana alam.
“Kemarin jalan dibangun warga sudah hampir jadi, kira-kira sudah 80 persen,” ujar Joko, Jumat (20/6/2025).
Joko menjelaskan, meski daerah tersebut secara historis tidak pernah mengalami banjir, namun tiba-tiba terjadi banjir besar yang merusak infrastruktur yang sudah dibangun warga secara swadaya. Hal ini menimbulkan kembali keyakinan masyarakat terhadap mitos setempat.
“Tetapi yang selama ini daerah aliran itu ndak pernah banjir, kok jelalah banjir sampai yang dibangun habis,” imbuhnya.
Bahkan, Joko membandingkan potensi sumber air panas Magetan dengan yang ada di Pacet, Mojokerto, yang selama ini jadi tujuan wisatawan untuk berendam air panas. Joko sepakat bahwa potensi wisata air panas di Magetan bisa bersaing jika dikembangkan serius.
“Betul, sepakat mas. Tetapi malah warga secara mitos berfikir kalau daerah situ ndak mau dibuka dan dikembangkan,” terangnya.
Joko menyayangkan adanya pemikiran tersebut karena dari sisi ekonomi, pengembangan wisata bisa menguntungkan warga setempat. Namun mengubah pola pikir berbasis mitos bukan perkara mudah.
“Karena selama ini tidak pernah banjir, kok ya banjir,” lanjut Joko, menyiratkan adanya kepercayaan masyarakat bahwa kejadian tersebut merupakan pertanda agar lokasi tidak dibuka untuk umum.
Menjawab soal langkah konkret dari Disbudpar, Joko menegaskan bahwa perubahan pola pikir masyarakat memang membutuhkan proses panjang. Namun pihaknya tetap mendorong dengan pendekatan edukatif dan inovatif.
“Kalau mengubah mitos butuh waktu yang panjang. Yang selalu saya sampaikan bahwa wisata itu selalu berubah dan harus selalu yang up to date, baik layanan, destinasi, maupun inovasi mengikuti kebutuhan konsumen (wisatawan),” tutupnya.
Joko berharap penemuan ini dapat menjadi momentum awal bagi Pemkab Magetan dan masyarakat untuk menggali potensi wisata lokal berbasis kearifan dan tetap memperhatikan keyakinan budaya.
“Ke depan, semoga kami dapat menjembatani antara kearifan lokal dengan potensi ekonomi agar destinasi Kedung Gupit dapat berkembang tanpa mengabaikan keyakinan masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat, kami yakin kawasan ini dapat menjadi destinasi unggulan wisata alam di wilayah eks-Karesidenan Madiun,” tandas Joko. [fiq/but]






