Magetan (beritajatim.com) – Kenaikan harga telur ayam di tingkat peternak belum mampu mengangkat kondisi usaha peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Setelah berbulan-bulan menghadapi harga telur yang rendah dan biaya pakan tinggi, sebagian peternak bahkan terpaksa menggadaikan barang berharga hingga menjual sapi untuk menutup utang pakan.
Kondisi tersebut terjadi di Kelurahan Alastuwo, Kecamatan Poncol, Magetan. Pada Kamis (23/7/2026), sebagian peternak masih kesulitan menjual hasil produksi telur mereka. Salah satunya terlihat dari telur yang menumpuk di rumah peternak dengan jumlah mencapai sekitar 3 ton.
Minimnya permintaan menjadi salah satu faktor utama yang membuat telur sulit terserap pasar. Kondisi ini membuat peternak menghadapi tekanan ganda.
Di satu sisi, mereka harus terus menanggung biaya produksi, terutama pakan ayam. Di sisi lain, hasil produksi yang sudah dipanen tidak segera terjual sehingga menghambat perputaran modal usaha.
Salah seorang peternak, Teguh Wahyudi, 54, warga setempat sekaligus perwakilan Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia, mengatakan harga telur di tingkat peternak sebenarnya sempat mengalami kenaikan. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp19 ribu per kilogram naik menjadi Rp23 ribu per kilogram.
Namun, dalam dua hari terakhir harga kembali terkoreksi menjadi sekitar Rp22.500 per kilogram. Teguh menduga kondisi tersebut dipengaruhi permainan tengkulak yang berdampak pada harga di tingkat peternak.
Menurut dia, kenaikan harga tersebut juga belum cukup untuk menutup kerugian yang ditanggung peternak selama beberapa bulan terakhir. Apalagi, telur yang dihasilkan belum seluruhnya terserap pasar dan sebagian masih menumpuk di rumah.
“Meski harga sedikit naik tapi telur tetap sulit keluar menumpuk di rumah. Untuk menutup kerugian sebagian peternak menggadaikan barang berharga mereka,” kata Teguh.
Tekanan ekonomi yang dialami peternak membuat mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk mempertahankan usaha. Sebagian peternak memilih mengurangi populasi ayam dengan mengosongkan sebagian kandang.
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan biaya pakan sekaligus mengurangi risiko kerugian yang semakin besar apabila harga telur kembali jatuh.
Sementara peternak lainnya terpaksa menggunakan aset yang dimiliki untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang. Salah satunya Sumarno, 62, peternak setempat. Ia mengaku telah menjual seekor sapi miliknya seharga Rp30 juta.
Uang hasil penjualan sapi tersebut digunakan untuk membayar utang pembelian pakan ayam. Sebelumnya, pakan tersebut diperoleh Sumarno melalui pinjaman bank. Keputusan menjual sapi diambil karena dirinya tidak memiliki banyak pilihan di tengah kondisi telur yang sulit dijual.
“Harga sempat naik tapi telur susah keluar, saya sudah jual sapi saya Rp30 juta untuk bayar hutang pakan,” ujar Sumarno.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan peternak ayam petelur tidak hanya berkaitan dengan harga jual telur. Rantai distribusi dan daya serap pasar turut menentukan keberlanjutan usaha peternakan. Ketika produksi telur tidak terserap dengan baik, peternak tetap harus mengeluarkan biaya untuk pakan dan pemeliharaan ayam, sementara pendapatan dari hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Para peternak kini juga mengkhawatirkan harga telur kembali turun. Mereka menduga permainan tengkulak dapat menyebabkan harga di tingkat peternak kembali tertekan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, peternak berpotensi semakin mengurangi populasi ayam atau bahkan menghentikan sebagian kegiatan produksi.
Persoalan lain yang menjadi perhatian peternak adalah minimnya serapan telur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), meskipun program tersebut telah kembali beroperasi. Peternak berharap program tersebut dapat memberikan dampak lebih besar terhadap penyerapan produk telur lokal sehingga membantu menjaga stabilitas pasar dan memberikan kepastian bagi peternak.
Ke depan, peternak berharap ada langkah konkret untuk memperbaiki tata niaga telur, memperluas akses pasar, serta meningkatkan serapan produk lokal. Penguatan distribusi dan pengawasan rantai perdagangan dinilai penting agar kenaikan harga di tingkat peternak benar-benar memberikan ruang bagi pemulihan usaha, bukan sekadar kenaikan sementara yang belum mampu menutup akumulasi kerugian. [fiq/but]






