Bondowoso (beritajatim.com) – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkit hewan ternak seperti sapi dan kambing muncul lagi di Kabupaten Bondowoso. Pada triwulan IV 2024, terdapat lebih dari 150 kasus PMK di Kabupaten Bondowoso.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Bondowoso, drh. Cendy Herdiawan membenarkan. Kendati demikian, ia memastikan bahwa kondisi saat ini jauh lebih terkendali dibandingkan puncak kasus pada 2022.
“PMK memang mulai muncul lagi. Hal ini sesuai prediksi pemerintah bahwa Januari-Februari 2025 akan ada peningkatan kasus. Namun, jumlah kasusnya masih relatif landai, sekitar 150 kasus sejak Oktober 2024 hingga saat ini. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan ribuan kasus pada tahun 2022,” ungkapnya.
Menurut drh. Cendy, kesadaran peternak yang meningkat menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian PMK.
“Edukasi yang kami lakukan pada tahun 2022 mulai menunjukkan hasil. Peternak sekarang lebih paham cara mencegah penyebaran, seperti melakukan disinfeksi kandang dan memeriksakan ternak yang sakit secara cepat,” terangnya.
Meski demikian, lalu lintas hewan ternak tetap menjadi tantangan besar dalam pengendalian PMK.
“Kami terus mengingatkan petugas agar menyampaikan kepada pelaku usaha untuk membatasi pembelian ternak dari luar Bondowoso. Lalu lintas hewan ini memang menjadi faktor risiko utama,” jelas drh. Cendy.
Terkait vaksinasi, drh. Cendy menyatakan bahwa alokasi vaksin pemerintah pada tahun 2025 tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
“Kami mendorong para peternak untuk melakukan vaksinasi secara mandiri dengan bantuan dokter hewan,” imbaunya.
Terkait dampak ekonomi, drh. Cendy menyebut bahwa hal tersebut masih dalam pembahasan.
“Dampaknya pasti ada, terutama di pasar hewan yang melibatkan banyak lapisan masyarakat. Namun, pengaruhnya berbeda di setiap daerah,” katanya.
Dengan munculnya kembali PMK, pemerintah dan peternak di Bondowoso diharapkan dapat terus bekerja sama untuk mencegah penyebaran lebih luas dan mengurangi dampak ekonomi yang ditimbulkan.
Sementara Haji Misil, pemilik peternakan di Desa Bataan, Kecamatan Tenggarang, mengakui pentingnya kewaspadaan peternak dalam menghadapi ancaman PMK.
“Kami harus hati-hati dan waspada. Peternak harus siap dengan berbagai persiapan, termasuk vaksinasi, agar tidak terjadi lonjakan seperti tahun 2022,” akunya.
Dua tahun lalu, Haji Misil pernah mengalami kerugian, tetapi bisa segera ditangani. “Harapan saya, lalu lintas ternak sebaiknya ditutup dulu agar tidak menyebar,” harapnya. [awi/beq]






