Yogyakarta (beritajatim.com) – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang pesat telah mengubah cara kita memahami makna pendidikan abad ke-21.
Hal ini menjadi salah satu poin utama dalam pidato pengukuhan Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih sebagai Guru Besar Filsafat Pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam pidatonya, Murtiningsih menyoroti berbagai pertanyaan penting dalam filsafat pendidikan modern. “Bagaimana kita melihat hubungan antara manusia dan mesin dalam pendidikan? Apakah peran guru akan tergantikan oleh kecerdasan buatan?” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa mesin seharusnya bukan pengganti manusia, melainkan kolaborator dalam proses pendidikan.
Peran AI dalam Pendidikan: Kolaborasi, Bukan Substitusi
Murtiningsih menekankan bahwa mendidik manusia bersama mesin bertujuan menjadikan AI sebagai mitra dalam pembelajaran.
Namun, mesin tetap memiliki keterbatasan. “Mesin mungkin memiliki pengetahuan, tetapi mesin tak akan pernah punya harapan, sebab harapan adalah tentang sesuatu yang tidak ada, lebih tepatnya belum ada,” katanya.
Menurutnya, harapan adalah elemen penting dalam pedagogi kritis yang dikembangkan oleh Paulo Freire. Model pendidikan yang memanusiakan peserta didik harus mampu menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik.
“Tujuan utama pendidikan, menurut Paulo Freire, adalah menghilangkan pendidikan monologis, di mana guru menjadi satu-satunya pusat pengetahuan, serta membongkar struktur hierarkis antara guru dan murid,” jelasnya.
Murtiningsih juga menegaskan bahwa AI dapat menjadi katalis untuk keadilan sosial dan kesetaraan dalam pendidikan.
“Kecerdasan buatan tidak hanya memberikan akses ke informasi, tetapi juga mengembangkan kesadaran kritis dan partisipasi aktif dalam konstruksi pengetahuan kolektif,” tambahnya.
Manifestasi Teori Paulo Freire di Era Digital
Teori pendidikan Freire dinilai relevan dalam menghadapi tantangan disrupsi teknologi. Pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga membentuk relasi epistemik dan etis antara manusia dan agen non-manusia.
“Mendidik manusia bersama mesin berarti menumbuhkan harapan dan kesadaran kritis dengan analisis empiris yang kuat,” ujar Murtiningsih.
Pemikiran ini telah dirangkum dalam buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), yang berisi pidato pengukuhan serta tulisan-tulisan Murtiningsih di berbagai media.
Dalam pengantar buku tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menekankan pentingnya kontribusi Murtiningsih dalam diskusi pendidikan di era AI.
“Prof. Siti adalah suara seorang filsuf wanita Indonesia yang memberikan analisis seimbang tentang isu-isu kompleks ini. Ini adalah titik awal yang sangat baik untuk mengatalisir diskusi berbobot agar kita tidak tenggelam dan tertinggal di era AI,” ujarnya.
Pengukuhan Guru Besar Filsafat Pendidikan Prof. Dr. Rr Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum. akan diselenggarakan:
Hari/Tanggal: Kamis, 20 Februari 2025
Tempat: Balai Senat Universitas Gadjah Mada/ Balairung UGM
Pukul: 09:00 WIB
Profil Singkat Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih
Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih adalah Guru Besar Filsafat Pendidikan di UGM. Ia meraih gelar sarjana (1995), magister (1998), dan doktor (2014) dalam bidang filsafat di UGM.
Penelitian doktoralnya dilakukan dengan dukungan program Sandwich-like Dikti di Mahidol University, Thailand, serta National University of Singapore.
Sejak 1997, ia aktif mengajar di Fakultas Filsafat UGM dan kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Filsafat UGM (2021-2026).
Selain itu, ia juga menjadi anggota Dewan Pendidikan Provinsi DIY (2022-2027). Beberapa buku yang telah ia terbitkan antara lain Pendidikan Alat Perlawanan (2004), Asas Filsafat Pendidikan (2011), dan Filsafat Pendidikan (2024). Ia juga aktif menulis di jurnal ilmiah dan media massa.
Dengan pemikirannya yang mendalam, Murtiningsih terus berkontribusi dalam perdebatan akademik mengenai filsafat pendidikan di era kecerdasan buatan.
Paradigma yang ia tawarkan menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan untuk tetap relevan dan humanis di tengah kemajuan teknologi. (ted)







1 Komentar
Fantastico! Ide yg perlu diaplikasikan di dunia pendidikan saat ini.