Yogyakarta (beritajatim.com) – Tak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental saat ini juga hal penting untuk terciptanya kehidupan seseorang yang berkualitas.
Di DIY akhir akhir ini muncul berbagai kasus bunuh diri. Bahkan kasus bunuh diri tak hanya menyerang sebagian kelompok umur namun merata. Kasus ini terjadi di kalangan mahasiswa, usia sekolah, kaum pekerja bahkan lansia.
Untuk meminimalisir hal ini pentingnya perhatian pada kesehatan mental. Untuk itu Dinas Kesehatan Dinkes DIY didorong untuk memunculkan regulasi mengenai kesehatan mental.
Baca Juga: Antisipasi Dampak Karhutla, Bupati Ngawi: Tanggap Darurat Ditambah 2 Minggu
“Peningkatan perhatian dan kesadaran pada kesehatan mental menunjukkan setelah dunia mengalami pandemi Covid-19. Urusan mental healthy sebelumnya diselesaikan sendiri sendiri sekarang keluar cari bantuan diluar diri. Hal ini adalah sesuatu yang cerdas dan menyelamatkan. Kami sudah apresiasi kaitan regulasi Dinkes yang telah memberikan porsi bagi kesehatan mental meskipun belum banyak dan maksimal. Kami terus dorong supaya porsi regulasi mengenai mental healthy bisa lebih maksimal,” ujar Rennta Chrisdiana MSc, Ketua Lembaga Advokasi keluarga Indonesia ( LAKI) yang juga Founder Yayasan Rumpun Nurani, Minggu (15/10/2023).
Pihaknya mengaku apresiasi dengan regulasi di Dinkes yang sudah mencakup dan menyinggung mengenai kesehatan jiwa. Saat ini bagaimana sekarang mulai memikirkan untuk agenda inisiatif masyarakat dalam berbagai kondisi.
Sementara, Sakti mutiara, S. Psi konselor LAKI menegaskan terkait kasus bunuh diri tak hanya dilihat dari sudut pandang satu sisi namun banyak sekali indikator dan membutuhkan assesment lebih lanjut l. Banyak faktor kasus bunuh diri ini multifaktor seperti persoalan genetik, kondisi biologis, psikologis, sosial lingkungan masyarakat dan sebagainya.
Terkait kasus yang sering ditangani beragam namun rata rata kasus adalah ibu muda dan mahasiswi yang mengalami masalah urusan pola pengasuhan, rumah tangga, karir dan studi. Kemudian sebagian kecil lagi adalah lansia yang merasa sendiri. Untuk segmen laki laki sangat jarang melakukan konseling. Dari 100 persen konseling yang ditangani 80 persen di antaranya adalah segmen perempuan.
Baca Juga: Polisi Amankan Lokasi Mobil Kiai yang Terbakar Misterius
“Yang membuat banyak orang masih enggan datang ke konselor adanya kasus seperti keyakinan menceritakan masalah pada orang lain adalah hal yang tabu dan ini harus kita dobrak. Bagaimana seseorang ketika memiliki masalah segera mencari teman bicara untuk berbagi,” bebernya lagi.
Sarita Meysaranda Matulu, M. Psi., Psikolog, Psikolog dari komunitas Temanbaik menambahkan di DIY akses mengenai pelayanan psikologi sebenarnya sudah sangat banyak dan mudah serta terjangkau dari sisi biaya.
Jika ingin konsultasi ke Puskesmas, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp8 ribu hingga maksimal Rp26 ribu/ sekali konsultasi.
” Sementara idealnya pergi ke psikolog untuk sekali pertemuan biaya konseling normal ada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp300 ribu,” jelasnya.
Untuk memperingati hari kesehatan mental dunia ini kolaborasi LAKI dan teman baik ini melakukan beberapa agenda kegiatan seperti konseling gratis, bedah buku dan aneka diskusi lainnya.
Baca Juga: INOVASI dan Dindik Kabupaten Probolinggo Kolaborasi di Lereng Bromo
Agenda bedah buku dan diskusi dilakukan oleh penulis buku yakni Ahmad Wasil Mustofa, penulis buku Tisu Penghapus Airmata dari Ibu.
Buku ini menceritakan bagaimana membangun dialog keluarga dengan ibu sebagai pondasi mental keluarga dan meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarga dengan membangun koneksi.
Dalam sebuah keluarga kesehatan mental ibu adalah hal utama.
“Saya tulis buku ini menggambarkan bagaimana sosok yang ibu tidak vokal ketika ia nyatakan cintanya kepada anak tetapi ibu ada sisi yang tak bisa digambarkan,” jelasnya.
Buku ini juga menggambarkan sosok ibu yang sering marah, melamun sendiri dan ibu yang demikian butuh teman berbicara untuk ungkapkan sesuatu kalimat cinta.
“Sebenarnya seorang ibu yang sedang marah marah ini adalah bagian dari bahasa cintanya,” tutupnya. (Aje/ian)






