Sidoarjo (beritajatim.com) – Upaya mewujudkan kualitas hidup masyarakat yang sehat dan bebas dari ancaman penyakit terus dipacu hingga ke tingkat tapak. Perubahan pola hidup tak lagi sekadar imbauan di atas kertas, melainkan harus diuji dan dibuktikan secara nyata di lapangan.
Komitmen Pemkab Sidoarjo dalam mentransformasi kebiasaan hidup bersih warganya kembali diuji lewat inspeksi ketat. Sebanyak 12 desa yang tersebar di enam kecamatan didatangi langsung untuk memastikan penerapan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Verifikasi lapangan oleh Tim Verifikator Provinsi Jawa Timur digelar pada Rabu, 22 Juli 2026, menyasar puluhan kepala keluarga serta fasilitas sekolah.
Kecamatan Buduran, Waru, Sedati, Tanggulangin, Porong, dan Prambon menjadi fokus uji sampling. Di setiap desa, petugas melakukan uji petik terhadap satu sekolah dan 25 Kepala Keluarga (KK) melalui observasi serta wawancara langsung.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakshmi Herawati Yuwantina menegaskan bahwa verifikasi ini bertujuan memastikan lima pilar STBM—stop BAB sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum/makanan, pengelolaan sampah, dan pengelolaan air limbah—benar-benar dijalankan.
“Verifikasi ini bukan hanya mengecek administrasi, tetapi memastikan lima pilar STBM sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Sanitasi yang baik dimulai dari rumah tangga. Jika seluruh warga konsisten menerapkannya, maka lingkungan akan semakin bersih, resiko penyakit dapat ditekan, dan kualitas hidup masyarakat akan meningkat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan gerakan hidup bersih ini membutuhkan kerja sama sinergis seluruh elemen dari tingkat keluarga hingga instansi pemerintahan.
“Sanitasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah desa, hingga dunia usaha,” katanya.
Ketua Tim Verifikasi Lapangan, drg. Sulvy Dwi Anggraini, menjelaskan bahwa timnya tidak hanya mengecek fisik sarana kebersihan, tetapi juga menggali kedisiplinan warga melalui metode acak di lapangan.
“Kami akan memilih secara acak rumah yang ingin kami cek kebiasaan masyarakatnya apakah sudah memenuhi STBM 5 pilar atau belum kami yang menilai,” ungkapnya.
Dalam peninjauan tersebut, petugas mencecar warga dengan pertanyaan teknis mengenai tata cara mencuci tangan yang benar, pengolahan air minum, pemilahan sampah, hingga memastikan instalasi septic tank memenuhi standar kesehatan.
Sidoarjo sendiri tercatat telah mengantongi status Open Defecation Free (ODF) sejak 2024 serta menyabet STBM Award Tingkat Pratama dan Madya secara berturut-turut pada 2024 dan 2025. [isa/ian]





