Surabaya (beritajatim.com) – Ancaman demokrasi kini beralih dari perebutan kekuasaan konvensional menuju dominasi algoritma platform digital. Sistem ini secara perlahan menyetir cara masyarakat menerima informasi hingga menentukan arah keputusan politik.
Peringatan itu dilontarkan Dosen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Kalimah Wasis Lestari pada Research Week ‘Politics in the Digital Age: Social Media, Elections, and Democracy’ pada Senin (8/6/2026).
Dalam forum tersebut, Kalimah memaparkan pandangannya soal pergeseran ruang diskursus publik masa kini. “Jika dulu ruang publik didominasi media massa dan institusi politik, sekarang algoritma platform digital memiliki peran sangat besar menentukan apa yang dilihat, dibaca, dan dipercaya masyarakat,” ujarnya.
Fenomena pergeseran kendali ini kerap disebut algokrasi. Kalimah menjelaskan bahwa perubahan pola komunikasi politik memicu tumpukan data berukuran raksasa yang berisiko memunculkan persepsi keliru di tengah masyarakat.
“Big data tidak bisa langsung dipakai untuk mengklaim mayoritas publik mendukung atau menolak suatu isu. Satu orang bisa sangat aktif, sementara seratus orang lainnya memilih diam,” jelasnya.
Jejak digital semestinya diposisikan sebatas indikator sosial belaka. Kalimah mengingatkan para pengamat agar menahan diri dari kesimpulan berlebihan karena keriuhan daring tidak selalu sejalan dengan suara populasi darat.
“Bias algoritmik justru harus dijelaskan dan diteliti. Kita perlu memahami bagaimana sebuah platform menentukan konten tertentu muncul kepada pengguna, sementara konten lain tidak mendapat ruang,” katanya.
Diskusi tersebut dipandu Direktur Eksekutif INTRAPOLS, Bustomi Menggugat. Sesi tanya jawab membedah temuan bahwa mesin pengatur sebaran konten digital terbukti tidak pernah benar-benar netral atau terbebas dari muatan nilai.
“Teknologi adalah alat yang sangat kuat. Pertanyaannya bukan lagi apakah algoritma memengaruhi demokrasi, tetapi sejauh mana kita mampu memahami dan mengawasinya,” ungkap Kalimah.
Rekam jejak Kalimah selama ini banyak mengkaji persinggungan antara kecerdasan buatan dan pergerakan politik. Ia meresepkan kecakapan literasi digital bagi masyarakat agar terlepas dari kendali mesin tanpa wajah tersebut. [ipl/kun]






