Banyuwangi (beritakatim.com) – Gelaran tahunan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tidak hanya menjadi panggung unjuk budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak roda ekonomi lokal.
Menjelang hari pelaksanaan, para desainer kostum karnaval di Bumi Blambangan turut kebanjiran pesanan. Sinergi kreatif ini menciptakan efek domino positif yang menghidupkan ekosistem seni dan usaha mikro di berbagai sektor.
Tahun ini, beberapa desainer kawakan kembali sibuk di galeri kerja mereka. Salah satunya yakni Bubu Ramadhan. desainer kondang ini, terpantau menggarap 11 kostum peserta BEC 2026.
Di sudut lain, Rony Sanjaya, desainer berbakat asal Desa Aliyan, dipercaya untuk merampungkan 4 kostum megah, sementara Heru Saputra dari Desa Bomo juga tengah fokus mengerjakan 3 kostum.
Mengingat harga satu kostum BEC berkisar di angka Rp10 juta hingga Rp20 juta, nilai ekonomi yang berputar di sektor ini sangatlah besar.
Bagi para desainer, BEC bukan sekadar ajang musiman, melainkan ruang untuk membuktikan eksistensi mereka. Bubu Ramadhan mengaku bahwa ajang ini menjadi tempat terbaik untuk mengeksplorasi kemampuan seni.
“BEC merupakan wadah kreativitas bagi para seniman untuk menuangkan kreasinya karena setiap tahun tema yang diusung selalu berbeda. Di samping menjadi kebanggaan seni, momentum ini jelas menjadi ladang penghasilan yang sangat menjanjikan bagi kami,” ujar Bubu Ramadhan.
Hal serupa juga disampaikan Rony Sanjaya. Dia juga melihat BEC sebagai panggung untuk membuktian hasil sebuah kreasi bagi para kreator lokal.
Menurutnya, ada kepuasan tersendiri ketika karya yang dirancang berbulan-bulan akhirnya bisa dinikmati oleh masyarakat dan wisatawan mancanegara.
“BEC adalah waktu bagi seniman untuk “pamer”. Di sinilah tempat kami menunjukkan kualitas, detail, dan orisinalitas karya terbaik Banyuwangi kepada dunia,” kata Rony.
Menariknya, pembuatan kostum BEC tidak dikerjakan sendiri oleh sang desainer. Terdapat rantai ekonomi yang terjalin erat di balik layar pembuatan setiap mahkota, sayap, dan pernak-pernik kostum karena para desainer serta melibatkan jasa pengrajin ukir lokal untuk menggarap ornamen yang rumit.
Salah satu yang kecipratan berkah adalah Sutik, pengrajin ukiran asal Kampung Melayu. Dia menhaku terbiasa mengerjalan sayap dan mahkota kostum.
“Selain menjadi tambahan penghasilan, lewat pembuatan kostum ini, saya juga merasa bangga karena bisa ikut berkontribusi untuk Banyuwangi,” jelasnya. [tar/ian]






