Banyuwangi (beritajatim.com) – Berdiri di lereng Gunung Raung dengan suhu udara yang dapat mencapai sekitar 16 derajat Celsius, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, menawarkan ketenangan alam yang masih terjaga. Kabut tipis yang turun setiap pagi berpadu dengan hijaunya pepohonan, menciptakan suasana yang seolah membawa pengunjung keluar dari hiruk pikuk perkotaan.
Di balik udara sejuknya, Desa Bayu yang pernah menjadi lokasi syuting film horor KKN di Desa Penari bukan sekadar desa wisata biasa. Warga mengenalnya sebagai desa wana budaya, tempat kehidupan masyarakat masih sangat bergantung pada alam.
Sekitar 90 persen warga menggantungkan hidup dari hasil alam yang mengelilingi desa tersebut. Suasana alami dan nuansa mistis inilah yang coba dieksplorasi penulis saat mengunjungi desa tersebut bersama ratusan jurnalis dalam acara Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina beberapa hari lalu.
Keunikan lain Desa Bayu terlihat dari keberagaman budaya yang hidup berdampingan. Masyarakat suku Osing, Jawa, dan Madura hidup harmonis sambil terus menjaga tradisi leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepala Desa Bayu, Yulia Herlina, menuturkan bahwa wisatawan yang memiliki waktu lebih lama dapat mengunjungi kawasan Rowo Bayu atau Rowo Glagah yang pernah menjadi lokasi pengambilan gambar bertema alam. Kawasan rawa alami itu masih dihuni berbagai satwa liar, termasuk ular piton berukuran besar yang dikenal mampu memangsa babi hutan.
“Meski terdengar menyeramkan, keberadaan satwa tersebut justru menjadi bukti ekosistem alam yang masih terjaga,” tuturnya, Selasa (14/7/2026).
Kawasan Rowo Bayu memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi Banyuwangi. Tempat ini dipercaya menjadi salah satu cikal bakal sejarah lahirnya Banyuwangi sekaligus menyimpan banyak jejak peradaban masa lampau.
Pemandu wisata Desa Bayu, Danang, menjelaskan bahwa di kawasan tersebut terdapat Petilasan Prabu Tawang Alun yang hingga kini masih dikunjungi masyarakat. Tak jauh dari lokasi itu mengalir Sumber Air Kaputren yang dipercaya dalam cerita turun-temurun dapat membuat seseorang tampak awet muda jika membasuh wajah menggunakan airnya.
“Kepercayaan tersebut memang hidup di tengah masyarakat, meski secara ilmiah belum dapat dibuktikan. Namun yang menarik, hasil pemeriksaan kesehatan menyebutkan air dari sumber tersebut layak dan aman dikonsumsi,” ungkapnya.
Di sekitar sumber air juga berdiri Patung Widodaren yang semakin memperkuat nuansa budaya dan spiritual kawasan tersebut. Sementara di bagian yang lebih tinggi terdapat Pura Macan Putih yang menjadi tempat ibadah umat Hindu.
Keunikan Rowo Bayu tidak berhenti di situ. Di kawasan yang sama berdiri Mushala Sabilul Khoirot yang dibangun seorang pelaku usaha pada 2015. Kehadiran mushala berdampingan dengan kawasan petilasan dan pura menjadi simbol harmoninya kehidupan masyarakat lintas keyakinan di Desa Bayu. Sebelum mushala dibangun, kawasan tersebut telah memiliki pura yang berdiri sejak era 1990-an.
Selain dikenal sebagai kawasan bersejarah, Rowo Bayu juga menyimpan cerita yang terus diwariskan masyarakat. Konon, tempat ini kerap didatangi orang-orang yang hendak mencalonkan diri sebagai anggota legislatif maupun kepala daerah untuk memanjatkan doa dan memohon kelancaran ikhtiar mereka. Cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang masih hidup hingga kini.
Meski kerap dikaitkan dengan kisah-kisah mistis, Desa Bayu sesungguhnya jauh dari kesan menyeramkan. Yang paling terasa justru kedamaian alam, kesejukan udara pegunungan, serta kuatnya budaya lokal yang masih dijaga masyarakat.
Sesuai slogan yang melekat di desa ini, “Bayu Menyapa, Alam Memeluk di Hati Masyarakat”, Desa Bayu menawarkan pesona yang bukan semata berasal dari cerita horor, melainkan dari perpaduan alam, sejarah, dan budaya yang menjadikannya salah satu destinasi menarik untuk dijelajahi di Banyuwangi. (dny/kun)






