Ringkasan Berita:
- Banyuwangi BMX Supercross 2026 memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar Sirkuit BMX Muncar.
- Sebanyak 343 pembalap dari empat negara mengikuti ajang yang masuk kalender resmi UCI tersebut.
- Rumah warga disewa atlet dan keluarga sejak sebulan sebelum lomba, sementara usaha kuliner, sewa kendaraan, hingga toilet umum ikut ramai.
- Sport tourism melalui ajang BMX internasional dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal secara langsung.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Satu bulan menjelang penyelenggaraan Banyuwangi BMX Supercross 2026, geliat ekonomi mulai dirasakan masyarakat di sekitar Sirkuit BMX Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Kedatangan ratusan atlet, ofisial, dan keluarga dari berbagai daerah hingga mancanegara membawa berkah bagi pelaku usaha lokal, mulai dari penyedia penginapan, warung makan, penyewaan kendaraan, hingga pedagang kaki lima.
Banyuwangi BMX Supercross 2026 diikuti 343 pembalap dari empat negara, yakni Indonesia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Selain para atlet, ribuan orang turut datang sebagai ofisial tim maupun anggota keluarga sehingga menciptakan perputaran ekonomi di kawasan sekitar sirkuit.
Kompetisi ini menjadi satu-satunya ajang BMX di Indonesia yang masuk kalender resmi Federasi Balap Sepeda Dunia atau Union Cycliste Internationale (UCI). Status tersebut membuat para pembalap memanfaatkan kejuaraan ini untuk mengumpulkan poin internasional sekaligus meningkatkan peringkat mereka.
Dampaknya mulai dirasakan masyarakat bahkan sejak sebulan sebelum perlombaan berlangsung. Banyak atlet memilih datang lebih awal untuk menjalani latihan sehingga kebutuhan akomodasi meningkat signifikan.
Salah satunya dirasakan Erwin yang telah dua tahun menyewakan rumahnya kepada atlet BMX beserta keluarganya.
“Awalnya diberitahu saudara kalau ada yang mencari penginapan. Akhirnya saya tawarkan, dan mereka mau. Sampai sekarang keterusan karena pendapatannya lumayan,” ujarnya.
Tidak hanya rumah Erwin, sejumlah rumah warga di sekitar sirkuit juga dimanfaatkan sebagai penginapan bagi para peserta yang datang dari luar daerah maupun luar negeri.
Manfaat ekonomi juga dirasakan Tumini yang tinggal tepat di samping Sirkuit BMX Muncar. Selain membuka warung makan, ia menyediakan jasa penyewaan kendaraan dan toilet umum bagi para pengunjung.
Menurutnya, keberadaan sirkuit bertaraf internasional tersebut telah membuka peluang usaha baru yang terus memberikan tambahan pendapatan setiap kali digelar kejuaraan.
“Kehadiran sirkuit BMX ini sangat menguntungkan. Karena sering ada lomba, kami ikut kecipratan rezeki dengan berjualan makanan, menyewakan kendaraan, dan toilet umum,” ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Dewi, warga yang setiap penyelenggaraan lomba BMX membuka lapak makanan dan minuman di sekitar arena balap.
Ia mengaku mulai berjualan sejak sekitar satu pekan sebelum perlombaan dimulai karena banyak atlet telah datang lebih awal untuk berlatih di lintasan.
Sehari-hari Dewi menjalankan usaha toko kelontong di rumahnya. Namun, momentum kejuaraan BMX selalu dimanfaatkan untuk menambah penghasilan keluarga melalui penjualan makanan dan minuman.
“Senang banget. Setiap ada lomba, kami bisa berjualan. Bisa menambah penghasilan keluarga,” jelasnya. [alr/beq]






