Surabaya (beritajatim.com)–Memasuki tahun 1970-an hingga Februari 1979, dinamika politik nasional Iran bergerak sangat cepat. Tensinya terus naik dan memanas.
Pada akhir 1978, Shah Iran Reza Pahlavi kesulitan menunjuk dan menentukan perdana menteri (PM). Sebab, banyak elite politik Iran tak bersedia menduduki jabatan tersebut, mengingat labilnya iklim politik di negara itu.
Adalah Syapur Bakhtiar, seorang nasionalis yang pernah dipenjarakan oleh Shah Iran yang bersedia menjalankan tugas berat sebagai perdana menteri (PM) di masa-masa sangat pelik. Ada satu syarat yang diajukan Bakhtiar: Shah Reza Pahlavi terlebih dulu harus meninggalkan Iran, menyingkir ke luar negeri sampai suasana politik tenang dan baru bisa kembali ke Iran.
Banyak penasihat Shah Iran memberikan anjuran yang sama: Shah Reza Pahlavi harus menyingkir lebih dulu ke luar negeri dan bisa kembali lagi ke Iran ketika suasana stabilitas politik dan keamanan aman dan mantap.
Pandangan berbanding terbalik diberikan para jenderal yang loyal pada Shah. Para jenderal itu berpandangan jika Shah Reza Pahlavi menyingkir ke luar negeri, negeri Iran bakal hancur.
Periode akhir 1978 dan awal 1979 merupakan fase paling kritis rezim Shah Reza Pahlavi di Iran. Sekalipun pada 7 Desember 1978, Pemerintah Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Jimmy Carter menegaskan dukungan kepada Shah Reza Pahlavi di tengah-tengah kekacauan politik dan keamanan yang meruyak Iran sejak awal 1970-an.
Faktanya, masuk informasi ke Shah Iran bahwa tak lama lagi bakal ada rezim politik di Iran. Hal itu disampaikan senator Iran bernama Mohammad Ali Mas’udi, setelah dia bertemu Sekretaris Pertama Kedubes Amerika Serikat di Teheran.
“Sebentar lagi akan ada rezim baru di Iran,” kata Ali Mas’udi sebagaimana ditulis Dr Nasir Tamara (2017) dalam bukunya berjudul: Revolusi Iran.
Pada awal Januari 1979, Wakil Panglima NATO, Jenderal Huyser dari Amerika Serikat datang ke Iran. Dia tak langsung menemui Shah Iran. Setelah beberapa hari di negara itu, Jenderal Huyser bersama Dubes Amerika Serikat untuk Iran, Sullivan, datang mengunjungi dan bertemu Shah Reza Pahlavi.
Dalam pertemuan itu, Jenderal Huyser menyampaikan pesan penting: Shah Reza Pahlavi harus pergi meninggalkan negaranya, karena dianggap keselamatannya tak dapat dijamin di Iran.
“Diam-diam rupanya Jenderal Huyser menghubungi pihak oposisi. Dia malah mempertemukan Kepala Staf Angkatan Perang Iran, Jenderal Qarabaghi dengan Bazargan, seorang tokoh oposisi. Shah Iran sendiri tak tahu apa yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut.”
Bazargan tak berselang lama setelah revolusi Islam Iran meletus, diangkat dan dipilih Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai perdana menteri Iran. Dia representasi kubu Khomeini dan jutaan warga Iran yang mendukung revolusi Islam.
Di sisi lain, Syapur Bakhtiar yang ditunjuk dan diangkat Shah Reza Pahlavi sebagai PM Iran juga disokong Amerika Serikat. Dia mulai menjalankan tugasnya pada 6 Januari 1979. Dia tetap ngotot dan bersikukuh tak mau turun jabatan pasca-revolusi Islam meletus Februari 1979.
Roda pemerintahan Bakhtiar tak efektif dan sejumlah menteri anggota kabinetnya mengundurkan diri di era revolusi Islam menggelora dan banyak anggota parlemen juga melengserkan diri.
Di awal masa jabatannya, Bakhtiar mengambil sejumlah policy populis. Misalnya, mencabut sensor pers, membubarkan lembaga polisi rahasia SAVAK, dan berhasil meyakinkan Shah Reza Pahlavi menyingkir ke luar negeri (Amerika Serikat) dengan alasan kesehatan seandainya ingin krisis politik berakhir.
Saran dan pesan Jenderal Huyser agar Shah Reza Pahlavi menyingkir dari negaranya sangat mengejutkan dan tak diterima sejumlah elite militer yang loyal kepada Shah Reza Pahlavi.
Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Iran, Jenderal Rabi’i di muka Peradilan Revolusioner Iran yang dibentuk pasca-revolusi Islam meletus, mengungkapkan, “Jenderal Huyser telah menampakkan Shah Reza Pahlavi dari negerinya seperti bangkai tikus.”
“Tanggal 16 Januari 1979 Shah Reza Pahlavi meninggalkan negerinya untuk selama-lamanya. Sejarah mencatat bahwa pada akhirnya Shah Reza Pahlavi menuruti anjuran Jenderal Huyser untuk meninggalkan negerinya. Kabar tentang keberangkatannya bukan disiarkan olehnya. Tapi di Washington oleh Menlu Amerika Serikat Cyrus Vance di muka pers,” tulis Nasir Tamara.
Bawa Tanah Makam Bapak, Tak Didampingi Tokoh Agama
Sebelum menyingkir meninggalkan negaranya, Iran, pada 16 Januari 1979, Shah Reza Pahlavi membentuk Dewan Negara pada 13 Januari 1979. Lembaga ini beranggotakan sembilan orang dari berbagai kalangan elite pemerintahan Iran.
Siapa mereka? Tehrani, Syapur Bakhtiar, Parelem Javad Sayed, Sajadi (Ketua Senat), Ali Qoli Ardalan, Nasher Yenageh, Jenderal Qarabaghi (Kepala Staf Angkatan Perang), Abdullah Entezham, dan Ali Varesteh. Saat meninggalkan negaranya, Shah Iran tetap percaya bahwa elite dan prajurit militernya tetap loyal dengan kepemimpinannya, terutama kalangan militer yang tergabung dalam The Immortals.
Menjelang keberangkatannya ke Amerika Serikat untuk berobat dan menyingkir sementara agar atmosfer politik Iran stabil, Shah Reza Pahlavi meminta kepada stafnya untuk mengambil tanah di makam ayahandanya. Tanah itu dimasukkan ke dalam kotak yang terbuat dari perak. Shah Reza Pahlavi kemudian membawa serta tanah itu ke Amerika Serikat hingga yang bersangkutan wafat di sana dan tak dimakamkan di Iran.
“Muka Shah Iran pucat ketika pukul 15.15 waktu Iran, dia dan permaisurinya akan menaiki pesawat Boeing 747 pribadinya. Dia tampak sedih dan mukanya seperti seorang yang tak bakal melihat tanah airnya lagi. Biasanya kala itu, pemimpin agama tertinggi di ibu kota berada di sebelahnya dan memegang Al Qur’an di atas kepala Shah Iran sebanyak 3 kali. Tapi, kali ini tokoh agama itu absen dan tak ikut melepas kepergian Shah Reza Pahlavi,” tulis Nasir Tamara.
Saat itu, tambah Nasir Tamara, Shah Iran sempat bertanya kepada PM Syapur Bakhtiar, “Tuan Perdana Menteri, apakah imam Jom’eh ada.” PM Syapur Bakhtiar menjawab: “Tidak, Tuan. Ia tidak ada.”
Shah Iran lalu mengangkat kepalanya dan menyebutkan nama seorang tokoh agama lainnya. PM Syapur Bakhtiar menjawab: “Tidak, Tuan.” Shah Iran kemudian berkata: “Dia pun tidak datang.”
Diceritakan Nasir Tamara dalam bukunya, bahwa setelah dua tokoh agama itu absen melepas keberangkatan Shah Iran ke Amerika Serikat, lalu seorang wartawan mengambil Al Qur’an dan meletakkan di atas kepala Shah Iran. Setelah selesai ia meletakkan di atas keningnya dan lalu diciumnya. Permaisuri melakukan hal yang sama.
“Beberapa saat kemudian, mata Shah Iran berlinang air mata dan dengan langkah tak pasti, sambil memegang pagar tangga pesawat, ia naik ke atasnya tanpa memalingkan muka dan memandang orang-orang yang ada di bawah. Biasanya ketika di atas tangga ia selalu menoleh dan memberi salam. Kali ini tidak,” tulis Nasir Tamara yang merujuk pada keterangan kesaksian seorang wartawan yang ikut menyaksikan keberangkatan Shah Reza Pahlavi ke Amerika Serikat.

Sejak 16 Januari 1979 sore, Shah Iran meninggalkan negaranya untuk selama-lamanya.
Bagaimana respon Imam Khomeini dan pembantu-pembantunya setelah mendengar kabar Shah Reza Pahlavi menyingkir ke Amerika Serikat? “Sebuah langkah dalam keakhiran dinasti Pahlavi… Harus kita beri pujian kepada orang-orang berani di Iran… Sekarang kita masih punya banyak masalah. Negeri harus dibangun kembali…,” tegas Khomeini.
Setelah kepergian Shah Reza Pahlavi ke Amerika Serikat, sebenarnya Khomeini dan pembantu-pembantu utamanya ingin segera pulang kampung ke Iran. Khomeini ingin balik kampung pada 26 Januari 1979 bertepatan dengan ulang tahun ‘Revolusi Putih’ yang amat ditentangnya sejak dulu.
Namun, PM Bakhtiar menghalanginya dengan jalan mengirimkan tentara sejak tanggal 24 Januari 1979 ke Bandar Udara Mehrabad. Khomeini terus-menerus menyuarakan agar PM Bakhtiar mengundurkan diri.
Akhirnya, pada akhir Januari 1979, pukul 01.00 tengah malam waktu Prancis, Khomeini meninggalkan tempat tinggal pengasingannya di Prancis untuk kembali ke Teheran guna memimpin revolusi Islam. Dia mengasingkan diri selama 15 tahun.
Di antara rombongan yang ikut di dalam pesawat Boeing 747 Air France yang membawa Khomeini itu, ada sekitar 150 wartawan dari berbagai negara, termasuk seorang wartawan dari Indonesia, yang ikut terbang satu pesawat dengan tokoh kharismatik Iran tersebut.
Dalam konteks relasi dekat Khomeini dengan wartawan, Nasir Tamara menulis: “Ada anekdot di Iran. Seandainya (PM) Bakhtiar menyuruh tembak pesawatnya Khomeini, boleh jadi ia tidak kehilangan kekuasaannya. Dan alasan mengapa ia tak melakukan hal tersebut adalah karena adanya wartawan-wartawan internasional tersebut.”
“Sebab, kalau mereka (wartawan) terbunuh, maka ia akan dapat kritik internasional yang keras. Dengan kata lain, wartawan telah menjadi penjamin Khomeini. Tepat pukul 09.00 waktu Iran, tanggal 1 Februari 1979, Khomeini mendaratkan kakinya di tanah airnya kembali. Dan… jutaan orang Iran (antara 5 sampai 6 juta orang) telah menyambutnya sebagai pahlawan agung negeri tersebut. Markas besar Khomeini untuk memimpin revolusi Islam Iran berada di Madrasah Alafi di kawasan Teheran Selatan,” jelas Nasir Tamara dalam bukunya. [bersambung]
Ainur Rohim,
Direktur Utama beritajatim.com.






