Yogyakarta (beritajatim.com) – Pagi itu Jumat (8/8/2025), Grha Sabha Pramana UGM penuh sesak. Lebih dari 1.900 mahasiswa baru Sekolah Vokasi duduk rapi, sebagian memegang buku catatan, sebagian lagi sibuk memotret suasana. Di tengah gegap gempita itu, satu sosok yang sudah tak asing di dunia ekonomi Indonesia melangkah ke podium—Anggito Abimanyu, Wakil Menteri Keuangan RI sekaligus Guru Besar UGM.
Dengan senyum ramah, Anggito membuka pembicaraan. Bukan dengan data ekonomi yang rumit, tapi dengan kalimat sederhana yang langsung menembus hati.
“Jangan takut gagal. Orang yang nggak pernah gagal, biasanya orang yang nggak pernah mencoba.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak hening, lalu bergemuruh dengan tepuk tangan.
Kampus Bukan Cuma Soal Nilai
Menurut Anggito, kehidupan kampus bukan hanya soal IPK atau tumpukan tugas. Kampus adalah tempat untuk bertumbuh, bereksperimen, dan mencoba hal-hal baru. Ia mengibaratkan kampus seperti “taman ide” yang penuh fasilitas, komunitas, dan peluang.
“Cobalah hal baru. Aktif di organisasi, ikut lomba, atau bahkan bikin proyek sendiri. Di proses itu, kalian akan benar-benar belajar,” pesannya.
Kesempatan Emas yang Nggak Datang Dua Kali
Bisa kuliah di UGM, kata Anggito, adalah berkah besar. Tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Makanya, mumpung masih mahasiswa, ambil setiap peluang yang ada.
Belajar, katanya, nggak melulu di kelas. Obrolan di kantin, diskusi di taman kampus, sampai debat kecil dengan teman sekelas—semuanya adalah proses belajar yang berharga.
“Belajar itu bukan beban. Justru di situ kalian menemukan jati diri dan tujuan,” tambahnya.
Kawan Seperjuangan Itu Penting
Ia juga mengingatkan, perjalanan kuliah pasti penuh tantangan. Ada masa-masa berat, mungkin merasa sendirian. Tapi sebenarnya, semua mahasiswa mengalami hal yang sama.
“Percayalah, kalian nggak sendirian. Ada teman seperjuangan yang mengerti dan siap mendukung,” ujarnya sambil tersenyum.
Vokasi dan Riset Terapan, Bekal untuk Masa Depan
Dalam sesi wawancara, Anggito menegaskan pentingnya pendidikan vokasi dan riset terapan. Menurutnya, penelitian yang bisa langsung diimplementasikan akan lebih cepat memberi dampak positif ke masyarakat.
Ia berharap Sekolah Vokasi UGM bisa menjadi pusat pembelajaran yang membentuk lulusan siap pakai, kreatif, dan inovatif.
Menjadi Agen Perubahan
Di akhir sesi, Anggito menutup dengan pesan yang membuat mahasiswa baru berpikir jauh ke depan.
“Status mahasiswa itu bukan sekadar label. Kalian adalah calon agen perubahan. Peka terhadap lingkungan, peduli sosial, dan mampu melahirkan inovasi yang bermanfaat. Itu tanggung jawab sekaligus kehormatan.”
Dan sore itu, ribuan mahasiswa baru pulang membawa lebih dari sekadar motivasi. Mereka pulang dengan tekad untuk mencoba, berani gagal, dan terus melangkah. [aje]






