Jember (beritajatim.com) – Kinerja sektor pertanian di Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama masa pemerintahan Bupati Faida terus melambat. Padahal Jember adalah salah satu daerah agraris dengan lahan pertanian terbesar di Jawa Timur.
Bupati Faida resmi dilantik menjadi bupati Jember pada 2016. Sebelumnya pada periode 2010-2015, bupati Jember dijabat MZA Djalal. Tahun 2014, sektor pertanian masih memiliki sumbangsih 30 persen untuk PDRB. Namun pada 2018, sumbangsih ini turun menjadi 27 persen.
“Pertumbuhan sektor pertanian Jember pada 2018 adalah 0,08 persen. Selama lima tahun terakhir, pertumbuhannya terus turun. Paling tinggi pada 2015 yakni 4,22 persen, dan habis itu turun terus. Karena pertumbuhan turun, maka ini berdampak terhadap porsinya untuk PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Jember secara umum,” kata Kepala Tim Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Lukman Hakim.
“Ada beberapa faktor yang bisa kita lihat kenapa pertumbuhan sektor pertanian Jember turun,” kata Lukman. Pertama, produktivitas pertanian Jember turun. Jika pada 2014, produktivitas panen padi bisa 6 ton per hektare, pada 2018 turun menjadi 5,5 ton per hektare.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-jember”]
Kondisi iklim mempengaruhi penurunan produktivitas. “Seharusnya musim hujan ternyata belum hujan. Ini tentu berpengaruh pada pola tanam. Kedua, adalah hama penyakit. Mungkin karena faktor cuaca tadi, di beberapa tempat serangan hama mengalami kenaikan. Ketiga, dari sisi kesuburan tanah, sepertinya ada sedikit penurunan. Kemungkinan salah satu penyebabnya adalah penggunaan pupuk kimia (berlebihan),” kata Lukman.
Ketua Forum Komunikasi Petani Jember Jumantoro mengaku kecewa dengan pertumbuhan sektor pertanian. “Sektor pertanian dianak tirikan. Dari sisi anggarannya saja sangat kecil, dari sisi penataan petugas lapang (PPL) sangat mengecewakan. Dinas Pertanian dikerdilkan dengan tidak adanya kepala dinas yang definitif. Hanya PLT (Pelaksana Tugas, red) alias Petugas Lillahi Taala,” katanya, Selasa (27/8/2019) malam.
Jumantoro menilai program penataan dan peningkatan sumber daya manusia di sektor pertanian di Jember gagal total. “Banyak potensi pertanian yang seharusnya berkembang ditinggalkan, sektor irigasi, budidaya dan pemasaran dibiarkan. Ini sangat menyakitkan petani di tengah kondisi pertanian yang smakin terpinggirkan. Sektor pertanian kita kalah sama Banyuwangi dan Bondowoso,” keluhnya.
Jumantoro menilai, seharusnya program revitalisasi kelompok tani sudah selesai. Dengan begitu, kelompok tani bisa berjalan sesuai harapan. “Penyuluhan pertanian sangat menunjang peningkatan SDM yang mumpuni utk bersaing,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bupati-faida”]
Lukman menilai ini pekerjaan rumah bersama Bank Indonesia dan pemerintah daerah. “Tantangan itu punya upaya mengatasinya. Kita lihat ada banyak langkah yang mungkin bisa dilakukan bersama, Misalkan pertama, mencoba mengidentifikasi luasan lahan pertanian Jember terkini. Mungkin bisa dipetakan di masing-masing kecamatan atau desa, apakah angkanya tetap atau adakah penurunan. Jadi perlu pembaruan data,” katanya.
“Kedua, implementasi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Jadi bagaimana di tingkat kabupaten mengawal implementasinya, sehingga lahan pertanian tak ada yang dialihfungsikan. Kedua, penguatan sumber daya manusia petani. Jadi mereka yang belum melek teknologi bisa diedukasi,” kata Lukman.
Lukman mengingatkan krusialnya posisi Jember di sektor pertanian. “Jika sektor pertanian di Jember turun, sektor pertanian di Jawa Timur ikut turun,” katanya.
Jumantoro sepakat, petani Jember butuh penguatan kelembagaan, perbaikan irigasi, informasi pasar produk pertanian, alih teknologi yang terkawal, pemetaan produk unggulan, dan peraturan daerah soal pembatasan alih lahan areal pertanian produktif. Jangan sampai lahan produktif habis digerus perumahan dan pergudangan,” katanya. [wir/suf]






