Yogyakarta (beritajatim.com)– Mudik Lebaran adalah tradisi tahunan yang sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Momen ini menjadi waktu yang dinilai sakral untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman.
Namun, lonjakan permintaan transportasi selama periode ini sering kali memicu kenaikan harga tiket yang signifikan, terutama untuk penerbangan domestik, yang bahkan bisa lebih mahal dibandingkan penerbangan internasional.
Dr. Dewanti, peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), menyoroti masalah ini dan mendesak pemerintah untuk lebih serius dalam mengawasi harga tiket transportasi agar tetap terjangkau bagi masyarakat luas.
“Kami mendukung adanya kebijakan inovatif dari pemerintah untuk memastikan harga tiket yang wajar tanpa mengorbankan kualitas layanan,” ujar Dr. Dewanti.
Kebijakan Subsidi dan Tarif yang Progresif
Salah satu solusi yang diusulkan adalah pemberian subsidi transportasi, yang tidak hanya berlaku saat periode Lebaran tetapi juga di luar musim puncak. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung wilayah terpencil atau yang masuk kategori 3TP (Terpencil, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan).
Selain itu, pemerintah juga diharapkan menerapkan pengaturan tarif melalui kebijakan tarif batas atas dan bawah untuk mencegah spekulasi harga yang merugikan konsumen.
“Dengan adanya tarif batas atas dan bawah, kita dapat menekan lonjakan harga yang sering terjadi selama mudik, sehingga masyarakat bisa mengakses transportasi dengan biaya yang lebih masuk akal,” jelas Dr. Dewanti.
Program Mudik Gratis sebagai Solusi Alternatif
Program mudik gratis yang digagas pemerintah daerah dan sektor swasta juga menjadi langkah efektif untuk mengurangi beban biaya transportasi. Inisiatif ini sekaligus berfungsi untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di jalan raya. Namun, Dr. Dewanti menegaskan bahwa upaya ini harus dilaksanakan dengan tetap menjaga kualitas layanan agar kenyamanan, keamanan, dan keselamatan penumpang tidak terabaikan.
Tantangan Kolaborasi dengan Operator Swasta
Di sisi lain, tantangan terbesar dalam menjaga harga tiket tetap terjangkau adalah fluktuasi biaya operasional yang dialami oleh operator swasta, seperti kenaikan harga bahan bakar dan biaya perawatan. Dr. Dewanti mengakui bahwa kolaborasi dengan sektor swasta sangat penting, meskipun tingkat keberhasilannya bervariasi karena perbedaan kemampuan finansial masing-masing operator.
“Pemerintah perlu belajar dari pengalaman sebelumnya untuk merancang strategi yang lebih matang, termasuk memanfaatkan data pola perjalanan dan permintaan transportasi dari tahun-tahun sebelumnya,” tambah Dr. Dewanti. Langkah-langkah seperti monitoring sarana-prasarana transportasi, memastikan ketersediaan bahan bakar, dan penyebaran informasi yang luas tentang program mudik harus terus diperkuat.
Optimisme untuk Masa Depan
Dr. Dewanti optimis bahwa melalui pendekatan kolaboratif dan kebijakan yang terus disesuaikan, pemerintah bisa menghadirkan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat selama musim mudik Lebaran.
“Pada akhirnya, kebijakan ini dirancang untuk mendukung masyarakat menikmati perjalanan mudik dengan lebih baik,” tutupnya. [aje]






