Persebaya mengawali Liga 1 Musim 2024-25 dengan membawa spirit musim 2018, musim pertama di level kompetisi teratas setelah sempat terlibat konflik panjang dengan PSSI. Pasukan Bajul Ijo mengalahkan PSS Sleman dengan skor tipis 1-0 di hadapan 25.632 orang penonton yang memenuhi Gelora Bung Tomo, Minggu (11/8/2024).
Skor dan jumlah penonton yang kurang lebih sama dituai Persebaya pada 2018 saat berhadapan dengan Perseru Serui. Pencetak golnya pun sama-sama pemain Amerika Latin pada menit yang hampir sama. Jika pada 2018, gol dicetak pemain Argentina Robertino Pugliara pada menit 70, gol ke gawang Sleman dicetak pemain asal Brasil, Bruno Moreira, pada menit 78.
Pelatihnya pun sama-sama ekspatriat. Alfredo Vera dari Argentina menakhodai Persebaya pada 2018, dan saat ini juru racik strategi Persebaya adalah Paul Munster dari Irlandia Utara. Dan keduanya sama-sama memainkan formasi 4-3-3.
Setelah sempat diragukan, Munster mengembalikan Persebaya pada gaya permainan menyerang yang menyenangkan. Agresif dalam pressing, dan langsung dalam menyerang. Tidak berputar-putar dan hanya terpaku pada penguasaan bola.
Gaya main cepat ini mengingatkan kita pada Liverpool. The Reds. Si Merah. Dan bukan kebetulan, Minggu malam itu Persebaya mengenakan jersey serba merah. Motif bajunya mirip motif seragam tim nasional Portugal. Ini alternate jersey, yang dikenakan Persebaya selama Agustus 2024. Setelah menjamu PSS, jersey merah ini akan dikenakan saat menjamu Barito Putera.
Ini mengingatkan kembali sejarah bahwa warna hijau bukan satu-satunya warna utama yang pernah dikenakan Persebaya, Sebelumnya pada 9 April 1994, Persebaya juga pernah bertanding melawan Persegres Gresik di Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan memakai jersey berwarna merah.
Apakah jersey merah menandakan kembalinya nyali bermain Persebaya yang pada musim lalu seperti mendadak hilang? Semua Bonek berharap demikian. Apalagi dari aspek persiapan dan materi pemain, Persebaya cukup menjanjikan.
Ketika bola tendangan Flavio Silva ditepis kiper PSS Alan Bernardon pada menit keempat, kita tahu, mesin tempur Persebaya sudah mulai menderu. Dari 15 kali tembakan, Persebaya berhasil menghantamkan tujuh kali tembakan tepat sasaran. Bandingkan dengan PSS Sleman yang hanya memiliki satu tembakan akurat.
Praktis sepanjang pertandingan, suporter Sleman layak berterima kasih kepada kiper impor dari Brasil yang menjaga gawang PSS. Hanya gol dari titik putih yang menjadi pembeda.
Sofascore, sebuah situs skor dan statistik pertandingan, mencatat ada tujuh penyelamatan yang dilakukan Alan. Dia berhasil mencegah para pemain Persebaya mengonversi expected goals sebesar 1,87 menjadi kemenangan dengan skor yang lebih tebal.
Digunakannya VAR (Video Assistant Referee) untuk pertama kalinya dalam Liga 1 membuat wasit harus memberikan tambahan waktu 10 menit pada babak kedua. Momen paling krusial tentu saja pada menit 62 saat bola mengenai tangan Hokky Caraka di kotak penalti PSS.
Terlalu lamanya wasit Steven Yubel Poli dalam mengambil keputusan membuat pertandingan yang enak dinikmati menjadi terjeda. Namun keputusan wasit untuk tidak memberikan penalti kepada Persebaya layak diapresiasi, mengingat bola mengenai kaki Hokky terlebih dulu sebelum tangannya. Dia benar-benar hoki.
Ini baru awal perjalanan. Namun kembalinya Bonek ke stadion dalam jumlah besar membuat manajemen Persebaya layak yakin, bahwa tim ini sudah berada di jalur yang benar. Masuknya sejumlah sponsor membuat keuangan Persebaya semakin stabil. Maka tidak ada alasan lagi untuk tidak berprestasi.
Satu hal yang mungkin perlu disingkirkan adalah drama berlebihan di internal tim. Musim 2018, drama konflik antara manajemen Persebaya (baca: Azrul Ananda) dengan Andik Vermansah cukup melelahkan. Pendukung Persebaya ikut terbelah dalam pro dan kontra yang sama sekali tidak bermanfaat.
Musim ini, drama kembali terjadi antara manajemen Persebaya dengan Tony Firmansyah. Sanksi manajemen terhadap Tony karena telat datang berlatih setelah memperkuat tim nasional, respons Tony yang mengunggah sanksi ini ke media sosial, hingga klarifikasi dan permohonan maaf terbuka sang pemain muda adalah rangkaian drama tak elok.
Jika ingin terbang tinggi, Persebaya harus mulai menghilangkan drama di luar lapangan dan menggantinya dengan drama di atas lapangan hijau yang berujung tiga angka.
Wani. [wir]






