Bagaimana menjelaskan sebuah tim yang berkali-kali ditampar kekalahan, namun mendadak digdaya dan menghancurkan tim pemuncak klasemen sementara?
Tidak bisa. Kita hanya bisa bingung dan kemudian menerka: bahwa ada sesuatu yang baik tengah terjadi di Persebaya. Setidaknya pada Sabtu (1/3/2025) malam itu di Gelora Bung Tomo, Surabaya. Mungkin karena ini malam pertama Ramadan. Malam bulan penuh berkah, dan Persebaya turut terberkati. Semoga.
Namun yang terang, menghancurkan Persib Bandung dengan skor 4-1 adalah sebuah pernyataan serius, bahwa Persebaya masih belum menyerah untuk memperebutkan posisi terhormat dalam Liga 1 Musim 2024-25.
Skor ini sekaligus memperpanjang nyawa Paul Munster di Surabaya. Pelatih asal Irlandia Utara itu belum akan mengepak kopor dan meninggalkan apartemennya.
Ball possession dikuasai Persib (57 persen). Namun Persebaya jelas terlihat lebih tajam dan lebih berani dalam menguasai bola. Akurasi passing Bajul Ijo tidak main-main: 81 persen. Dengan aliran bola yang deras ke benteng pertahanan Persib yang dikomandani pemain Belanda Nick Kuipers, Persebaya melakukan 17 kali percobaan tembakan, enam di antaranya tepat sasaran.
Gol-gol Persebaya juga menunjukkan betapa tim ini bisa setajam taring buaya jika mau. Simaklah bagaimana Catur Pamungkas mendadak seperti bermetamorfosis menjadi bek Liverpool, Andrew Robertson,: menusuk ke dalam kotak penalti Persib dan menghajarkan bola le gawang Kevin Ray Mendoza.
Efek pinball terjadi. Sapuan bola oleh Kuipers justru membentur kaki Marc Klok pada menit 61 dan masuk ke gawang Persib sendiri. Gol perdana dalam sebuah laga yang sulit ini menyetrumkan keyakinan ke bangku cadangan Persebaya.
Lionel Messi pernah mengatakan: mimpi itu harus dicapai dengan perjuangan, pengorbanan, dan kerja keras. Para pemain Persebaya tengah mencoba mematahkan kutukan Hukum Murphy: semakin kita mencemaskan hasil buruk, maka suatu saat hasil buruk itu akan terjadi. Tak ada yang ingin Persebaya terperangkap dalam kesialan ini.
Bojan Hodak tahu sisi kiri Persib sering dieksploitasi Persebaya melalui Catur Pamungkas dan Flavio Silva. Maka memasukkan winger asal Curaçao, Gervane Kastaneer, pada menit 77 adalah rencana yang terlihat jenius.
Namun tentu saja harus ada satu pemain asing yang harus ditarik dari lapangan. Dengan kondisi tertinggal, menarik David da Silva, Ciro Alves, Tyronne del Pino, Nick Kuipers, Gustavo França jelas bukan opsi.
Kendati masing-masing baru mencetak enam gol musim ini, Da Silva dan Ciro Alves jelas masih bisa diandalkan menjebol gawang mantan. Apalagi Tyronne yang sudah mencetak sebelas gol dan tujuh assist dalam 23 pertandingan. Beberapa kali pemain asal Spanyol itu terlihat berbahaya di depan gawang Ernando Ari Sutaryadi.
Maka menarik Kevin Ray Mendoza dan menggantikannya dengan Sheva Sanggasi, penjaga gawang berusia 20 tahun, adalah pilihan berisiko yang harus diambil. Ini pertaruhan berbahaya. Sheva sama sekali belum pernah diturunkan sebelumnya, dan kali ini dia harus memainkan debutnya selama 13 menit waktu normal tersisa di hadapan 24.301 pendukung lawan.
Dan Bojan Hodak kalah dalam pertaruhan ini. Dua menit setelah Sheva masuk, Rizky Dwi Pangestu, anak muda berusia 25 tahun asal Banyuwangi, mencetak gol perdananya di Liga 1 dengan cara yang indah untuk dikenang. Dia menembakkan bola dari luar kotak penalti tak ubahnya ucapan selamat datang kepada Sheva.
Dan malam itu Sheva benar-benar seperti kena plonco. Dua puluh menit debutnya (ada tambahan waktu tujuh menit dari waktu normal) tak ubahnya sebuah mimpi buruk.
Tiga menit setelah Persebaya unggul dua gol, Bruno Moreira mencetak gol melalui sebuah skema serangan balik cepat. Di akhir pertandingan, Sheva meminta maaf atas kekalahan Persib. “Maaf untuk hasil yang mengecewakaan ini,” kata Sheva, sebagaimana dikutip dari Viva.co.id.
Namun gol ketiga Persebaya jelas bukan kesalahannya. Garis pertahanan Persib yang terlalu tinggi membuat para pemain bertahan kesulitan mengantisipasi serangan balik lawan.
Saat semua pemain Persib berada di wilayah Persebaya, Bruno Moreira memanfaatkan bola lambung menuju gawang Sheva. Kakang Rudianto tak mampu mengejar kecepatan lari pemain asal Brasil itu. Bukan hal susah bagi Bruno untuk mencetak gol keenamnya musim ini.
Ryan Kurnia sempat menipiskan skor pada menit 89. Namun Francisco Rivera kembali memperlebar jarak melalui sebuah gol lob ke sisi kiri Sheva. Kali ini Bruno Moreira menjadi arsitek gol tersebut dengan umpan datarnya.
Dengan kemenangan ini, Persebaya masih tertahan di peringkat ketiga klasemen sementara, terpaut tujuh angka dari Persib. Perjalanan masih jauh. Tinggal sembilan pertandingan lagi, lima di antaranya adalah tandang.
Legenda Belanda, Johan Cruyff, pernah mengatakan: “Playing football is very simple, but playing simple football is the hardest thing there is.”
Malam itu anak-anak Persebaya berhasil menampilkan permainan sepak bola yang sederhana: operan demi operan ke depan yang mengalir. Tidak rumit. Tidak menyusahkan kawan sendiri. Sesuatu yang susah ternyata bisa dilakukan. Hasilnya pun tak teringkari.
Persebaya sudah mendapatkan momentum untuk bangkit. Kemenangan telak di malam mengenang kepergian pemain legendaris Bejo Sugiantoro mengisi ulang energi positif dan keyakinan yang semula mulai hilang.
Jadi tidak ada yang perlu dijelaskan dari kemenangan Persebaya. Anggap saja ini puncak kebingungan yang menyenangkan di awal Ramadan. Munster hanya perlu memastikan hasil yang sama bisa dituai pada pekan-pekan selanjutnya. Mematahkan Hukum Murphy tidak membutuhkan penjelasan. Biarkan kejelasan ditampakkan dengan hasil di lapangan.
Itu saja. [wir]






