Mojokerto (beritajatim.com) – Sebulan dicanangkan sebagai Kampung Durian, perputaran ekomoni di Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto tembus Rp1 miliar. Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati pada, Sabtu (4/3/2023) lalu, mencanangkan Desa Duyung sebagai Kampung Durian.
Ini lantaran mayoritas masyarakat Desa Duyung merupakan petani durian sekaligus pedagang buah berjuluk King of Fruit tersebut. Dampak wisata kuliner tersebut secara drastis mengangkat perekonomian masyarakat setempat bahkan perputaran uang di Kampung Durian.
Jumlah penduduk Desa Duyung sekitar 1.584 orang dan lebih dari 500 KK dengan luas wilayah 232 hektare. Dari dua dusun yang ada, setidaknya ada 50 lapak lebih yang berjajar di depan rumah warga di Dusun Bantal, Desa Duyung yang menjajakan dagangan berupa buah durian.
BACA JUGA:
Bupati Mojokerto Resmikan Kampung Durian
Kepala Desa (Kades) Duyung, Juniarto Bambang S mengatakan, masyarakat Desa Duyung banyak menjual hasil kebun mereka di depan rumah sejak tahun 2010. “Kenapa kita canangkan Duyung sebagai Kampung Durian karena, Duyung penghasil durian lokal dan musimnya sangat panjang,” ungkapnya, Jumat (7/4/2023).
Kedua, lanjut Kades, mata pencaharian penduduk Duyung dari berjualan durian. Meskipun tidak musim durian lokal Duyung tapi tujuan orang datang luar ke Duyung pasti ada sehingga Desa Duyung dicanangkan sebagai Kampung Durian. Selain lahan sendiri, masyarakat juga mengelola lahan Perhutani.
“Lahan durian seluas 97 hektar kawasan milik masyarakat, sementara 215 hektar milik Perhutani yang dikelola oleh masyarakat untuk ditanami kopi dan durian. Jumlahnya sekitar 300 hektar. Panen durian di Desa Duyung mulai Desember hingga April-Mei, ada dua dusun di sini tapi penghasil durian paling banyak di Dusun Bantal,” katanya.
Mayoritas masyarakat menjualnya di rumah-rumah sehingga banyak pengunjung dari luar kota yang datang ke Desa Duyung. Kades menjelaskan, paling banyak kunjungan wisatawan hingga 700 mobil dalam sehari. Adapun pengunjung didominasi dari Surabaya, Sidoarjo, Lamongan Kota Mojokerto dan sekitarnya.
“Lapak ada sekitar lebih dari 50 lapak pedagang durian, ya yang banyak di Dusun Bantal itu di depan rumah warga. Hampir semua penduduk yang menjual durian dan meskipun warga yang tidak punya lahan menanam swakelola Perhutani, durian lokal kita jenis Mrica,” ujarnya.
BACA JUGA:
Waktunya Mencicipi Pahit Legitnya Durian Merico Trawas Mojokerto
Dampak nyata yang dirasakan setelah adanya wisata Kampung Durian di Desa Duyung yaitu mendongkrak perekonomian warga. Setidaknya, masyarakat bisa menjual sekitar 6.000 buah durian dalam satu pekan dan total 24.000 durian dalam satu pekan.
“Penjual ada 50 lebih satu desa. Kebutuhan kita Sabtu-Minggu 3 ribu durian, belum hari biasa Senin-Jumat. Rata-Rata 260 buah per minggu dengan mulai dari Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Sekarang sudah terbentuk Komunitas Penjual Durian sehingga harga sama antara pedangang satu dan lainnya,” ujarnya.
Durian lokal Duyung tidak bisa memenuhi permintaan sehingga mendatangkan dari luar. Namun jika pedangan menjual durian bukan durian lokal Duyung akan disampaikan ke pengunjung. Setelah dicanangkan sebagai Kampung Durian sejak sebulan lalu, perputaran uang di Desa Duyung tenbus dari Rp1 miliar.
“Bahkan ada yang satu hari warga dapat omzet Rp9 juta sampai Rp12 juta saat Weekend. Ramainya pengunjung kampung durian tak lepas dari strategi marketing dan pelayanan serta keramahan masyarakat Desa Duyung. Karena yang pertama harus ramah melayani pengunjung,” urainya.
Tak hanya itu, penjual durian juga memberikan garansi dan siap mengganti durian yang sudah dibeli konsumen jika tidak sesuai ekspektasi dan kondisinya rusak sesampainya di rumah. Jika dalam kondisi jelek, bisa difoto dan nanti akan diganti penjual saat kembali ke Kampung Durian.
“Durian yang sudah dibeli kalau jelek saat dibuka di rumah foto saja nanti diganti atau durian bagus tapi rasanya kurang manis bisa diganti kalau kembali lagi ke kampung durian. Sehingga nanti pedagang klaim ke petani-nya, pedagang di sini tidak rugi karena kalau jelek kembali ke petani,” paparnya.
BACA JUGA:
Durian Mbah Woro, ‘Harta Karun Terpendam’ dari Karangan Jombang
Kades berharap Desa Duyung dapat menjadi sentra durian terbesar di Jawa Timur seperti di Sumatera Utara. Keberadaan wisata Kampung Durian tersebut dapat bermanfaat mengangkat kesejahteraan masyarakat dan mendorong pemuda bekerja di kampung halaman tidak merantau.
“Inginnya kita bisa menjadi pusat durian terbesar sehingga orang yang datang mau jenis buah durian semuanya ada di kampung durian Desa Duyung. Harapannya kalau bisa durian lokal ini, pemasarannya tetap di sini sehingga desa kami tetap ramai banyak pengunjung dan berkah dari buah durian ini,” pungkasnya. [tin/suf]
![Perputaran Ekomoni di Kampung Durian Mojokerto Tembus Rp1 Miliar Salah satu warga usai memanen buah durian. [Foto : ist]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/04/IMG-20230404-WA0051_KCh9Pode0g-1024x768.jpeg)







