Blitar (beritajatim.com) – Seorang bocah SD di kabupaten Blitar yang menjadi korban pemerkosaan oleh ayah kandungnya berharap tetap bisa melanjutkan pendidikannya.
Anak yang masih berusia 12 tahun itu mengungkapkan keinginannya untuk tetap bersekolah kepada tim psikolog Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Blitar.
Kondisi sang anak yang saat ini tengah hamil akibat perbuatan bejat bapaknya, tidak menyurutkan niat bocah SD itu untuk tetap melanjutkan jenjang pendidikannya. Anak korban pemerkosaan itu pun meminta agar pihak terkait bisa mewujudkan keinginannya.
“Karena keinginannya memang pengen tetep sekolah kami akan menjembatani untuk mendapatkan sekolah yang terbaik yang dapat istilahnya bagaimana tidak dilakukan bullying,” kata Iin Indira, Plt Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Blitar, Senin (03/04/23).
https://beritajatim.com/hukum-kriminal/suami-kades-jaten-blitar-tersangka-pembuang-bayi-ngaku-panik/
Kasus yang menimpa anak berusia 12 tahun itu memang jadi perhatian serius dari dinas terkait. Bagaimana tidak anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu terpaksa berhenti bersekolah karena hamil setelah jadi korban pemerkosaan oleh ayah kandungnya sendiri.
Aksi bejat pelaku bahkan dilakukan berulang kali, hingga sang anak berbadan dua, serta mengalami trauma. Dinas terkait pun terus melakukan pendampingan psikologis bagi sang anak agar trauma yang dideritanya dapat segera hilang.
Sang bapak dari korban kini telah ditangkap oleh Polres Blitar. Sementara sang ibu hingga kini masih berada di luar negeri dengan kondisi seperti itu dinas terkait akan mencarikan solusi agar mimpi dan harapan sang anak tidak pupus pasca kasus yang dialami.
Salah satu solusi yang akan dilakukan yakni mencarikan sekolah bagi sang anak agar dirinya tetap bisa melanjutkan kehidupan dan pendidikannya. Namun dalam proses penentuan sekolah ini, dinas terkait akan memastikan terlebih dahulu lembaga yang dipilih.
Hal itu demi menjamin agar bocah SD itu tidak menjadi korban bullying di sekolah.
“Kami akan mencarikan sekolah agar sang anak tetap bisa melanjutkan keinginannya menempuh pendidikan tapi akan kami pastikan dulu sekolahnya agar dirinya tidak menjadi korban bullying,” tegasnya.
Rencananya bocah SD tersebut akan melahirkan pada bulan Mei ini. Pihak dinas terkait pun akan terus memberikan pendampingan hingga sang anak selesai melewati semua hal tersebut.
Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Blitar rencananya akan mulai mencarikan sekolah yang tepat bagi sang anak setelah dirinya selesai proses melahirkan. Saat ini dinas terkait telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar untuk menentukan lembaga yang tepat untuk dijadikan tempat belajar bagi bocah SD tersebut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan terkait keinginan sang anak untuk tetap melanjutkan sekolah,” paparnya.
Sementara untuk nasib bayi yang dilahirkan oleh bocah SD tersebut, Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Blitar telah berkoordinasi dengan Dinas sosial mengenai hal itu. Nantinya bayi yang dilahirkan oleh bocah SD tersebut akan dititipkan di panti asuhan.
Hal ini dilakukan agar sang bayi tetap bisa terawat dengan baik. Pasalnya saat ini dari pihak keluarga tidak ada yang berkenaan dan mampu untuk merawat bayi yang dilahirkan oleh bocah SD asal Kecamatan Kanigoro kabupaten Blitar itu.
“Sementara untuk bayi yang dilahirkan nanti akan dititipkan di panti asuhan karena memang pihak keluarga tidak ada yang mampu untuk merawatnya,” pungkasnya. (owi/ted)






