Lamongan (beritajatim.com) – Sejumlah pedagang di Pasar Ikan Lamongan mengaku kesulitan untuk memasok ikan ke pabrik. Pasalnya, stok ikan budidaya di pasar setempat mengalami penurunan hingga 75 persen akibat banjir masih merendam puluhan desa di Lamongan hingga kini.
Kenyataan tersebut diakui oleh Kartono, salah seorang pedagang ikan di Pasar Ikan Lamongan. Menurutnya, stok ikan air tawar harus anjlok lantaran selama dua pekan lebih ini sejumlah tambak di desa-desa yang dikenal sebagai penghasil ikan budidaya telah diterjang banjir.
“Pasokan ikan budidaya dari kawasan yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil ikan memang turun karena banjir,” ungkap Kartono saat ditemui di Pasar Ikan Lamongan, yang ada di Jalan Kusuma Bangsa Lamongan, Kamis (2/3/2023).
BACA JUGA:
Petani Terdampak Banjir Lamongan Dibantu 1 Ton Benih Padi
Dengan kondisi tersebut, Kartono menjelaskan bahwa pihaknya bersama pedagang lainnya saat ini harus kalang kabut karena tidak bisa mengirim ikan air tawar dan udang vaname ke pabrik seperti biasanya. Padahal, kata Kartono, Pasar Ikan Lamongan merupakan salah satu pasar ikan penyangga di Jatim.
“Biasanya per hari bisa mengirim 8 ton udang vaname, tapi sekarang hanya bisa mengirim ke pabrik 1 ton saja per hari. Stok ikan di sini turun sekitrar 75 persen,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Khusna, pedagang Pasar Ikan Lamongan lainnya menuturkan bahwa para petambak di Lamongan semestinya sudah memasuki masa panen pada bulan-bulan ini. Namun, banjir membuat mereka tidak bisa memanen ikan-ikan budidaya di tambaknya.
“Biasanya bulan 3 (Maret) ini panen raya, tapi sekarang barang kosong karena tambak terendam banjir. Hasil ikan saat ini turun sekitar 70-80 persen. Apalagi banjir tahun ini juga bisa dikatakan lebih parah daripada tahun-tahun sebelumnya,” tutur Khusna.
Kemudian saat stok ikan turun, sambung Khusna, harga ikan yang masuk di Pasar Ikan Lamongan sebenarnya stabil dan tidak mengalami perubahan. Hanya saja, sebut Khusna, kendala stok ikan ini membuat para pedagang tak bisa memenuhi kebutuhan para pelanggan mereka.
BACA JUGA:
Polres Lamongan Gelar Pengobatan dan Bengkel Gratis Bagi Warga Terdampak Banjir
“Harganya stabil, tapi barangnya yang tidak ada. Udang vaname harganya Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram, tergantung ukuran. Ikan bandeng hingga ikan nila atau mujair dan ikan Bader di harga Rp 14 ribu. Sedangkan untuk ikan bandeng berukuran besar harganya bisa Rp 25 ribu per kilogram,” jelasnya.
Seperti diberitakan beritajatim.com sebelumnya, banjir akibat luapan Bengawan Jero di Lamongan hingga kini masih melanda puluhan desa di 6 kecamatan. Sebagian besar desa-desa yang terdampak itu merupakan penghasil ikan budidaya di Lamongan.
BACA JUGA:
Banjir Lamongan Terus Meluas, 5.900 Rumah Warga Terendam
Meski para petani tambak di Lamongan sudah bersusah payah memasang waring (jaring) agar ikan budidaya mereka tidak tersedot banjir, namun tingginya air banjir luapan Bengawan Jero itu membuat ikan-ikan petambak hilang.
Banjir ini diprediksi akan bertahan selama dua bulan ke depan. Hal itu berdasarkan pengalaman dari banjir yang terjadi pada tahun sebelumnya. Selain area tambak atau sawah, banjir juga merendam pemukiman warga dan sejumlah fasilitas umum lainnya seperti akses jalan, gedung sekolah dan masjid. [riq/suf]






