Ringkasan Berita:
- Kapolsek Kediri Kota memberikan edukasi bahaya gadget kepada siswa TK melalui wayang karton.
- Kegiatan digelar dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118.
- Cerita wayang mengangkat dampak kecanduan game daring pada anak.
- Anak-anak juga diajak mengenal pahlawan nasional dan menyanyikan lagu kebangsaan.
Kediri (beritajatim.com) – Kapolsek Kediri Kota Kompol Bowo Wicaksono memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 dengan cara unik melalui edukasi literasi digital kepada siswa TK Kemala Bhayangkari 42 Kota Kediri, Selasa (20/5/2026).
Sosialisasi tersebut dikemas melalui pertunjukan wayang berbahan dasar karton dengan tema “Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara”. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk edukasi dini terkait bahaya penggunaan gadget secara berlebihan pada anak-anak.
“Kegiatan ini juga selaras dengan langkah strategis pemerintah dalam perlindungan anak di era digital, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Sistem Penyelenggaraan Elektronik dalam Perlindungan anak,” ungkap Kompol Bowo.
Melalui media wayang karton, Kompol Bowo secara interaktif menjelaskan dampak negatif kecanduan gawai kepada puluhan siswa yang mengikuti kegiatan dengan antusias.
Dalam cerita yang dibawakan, terdapat dua tokoh bernama Bili dan Andi yang digambarkan kecanduan bermain game daring melalui telepon seluler. Keduanya diceritakan hampir tidak pernah lepas dari gadget dan mulai mengabaikan lingkungan sosial di sekitar mereka.
Meski telah mendapat teguran dari orang tua, kedua tokoh tersebut tetap tidak mengindahkan peringatan yang diberikan. Cerita kemudian berlanjut pada dampak kesehatan akibat penggunaan gadget tanpa batas.
Tokoh Bili diceritakan mengalami gangguan serius pada mata hingga memerah dan mengeluarkan darah akibat terlalu lama bermain game. Kondisi tersebut membuat sang ibu segera membawanya ke dokter.
Dalam adegan pemeriksaan, dokter memberikan penjelasan mengenai risiko kesehatan akibat penggunaan gadget berlebihan, termasuk ancaman kerusakan mata permanen hingga kebutaan.
Cerita edukatif tersebut membuat tokoh Bili akhirnya sadar dan berhenti bermain game secara berlebihan karena takut kehilangan penglihatannya.
Selain edukasi literasi digital, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak sejak usia dini.
Para siswa diperkenalkan dengan foto-foto pahlawan nasional yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Anak-anak juga diajak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan bersama-sama.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme, rasa persatuan, serta kesatuan generasi muda di lingkungan sekolah sejak dini. [nm/beq]






