Surabaya (beritajatim.com) – Program KKN Abmas berbasis produk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan fotoreaktor dua tingkat berbasis tenaga surya untuk membantu UMKM batik mengolah limbah cair secara ramah lingkungan. Inovasi ini diterapkan langsung pada UMKM Rumah Batik Al-Huda di Sidoarjo sebagai solusi keterbatasan teknologi pengolahan limbah.
“Banyak perajin batik mengalami kendala teknis dalam mengolah limbah karena keterbatasan akses terhadap peralatan dan teknologi pendukung,” ujar Ketua Tim Pengabdi sekaligus Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Haniffudin Nurdiansah, S.T., M.T, Kamis (27/11/2025).
Haniffudin memaparkan penggunaan sistem pengolahan limbah berbasis listrik selama ini juga menjadi beban tambahan bagi pelaku UMKM. Kenaikan biaya operasional membuat sebagian perajin kesulitan menerapkan pengelolaan limbah yang optimal.
“Inovasi ini kami rancang agar dapat digunakan tanpa ketergantungan pada pasokan listrik, sehingga lebih terjangkau bagi pelaku UMKM,” kata Haniffudin.
Fotoreaktor yang dikembangkan tim KKN Abmas ITS memanfaatkan energi matahari sebagai sumber utama untuk proses fotokatalitik. Sistem ini digunakan untuk mendegradasi zat pewarna sintetis dalam limbah cair batik secara mandiri dan hemat energi.
“Limbah batik umumnya mengandung methylene blue yang sulit terdegradasi secara konvensional, sehingga pemanfaatan tenaga surya menjadi solusi yang efisien dan ramah lingkungan,” ujar Ketua KKN, Muhammad Devario Zubhiahad.
Secara teknis, alat bekerja melalui dua tahapan utama yang saling terintegrasi. Pada tahap awal, limbah dialirkan ke dalam tabung fotoreaktor untuk proses degradasi zat warna.
“Di dalam tabung, limbah dicampur dengan material CuO sebagai semikonduktor dan nanoselulosa sebagai absorban, lalu dipaparkan sinar ultraviolet untuk mempercepat proses fotokatalis,” jelas dia.
Setelah proses degradasi warna, air limbah memasuki tahap filtrasi menggunakan beberapa lapis material penyaring. Proses ini bertujuan untuk menyaring partikel sisa dan meningkatkan kejernihan air hasil olahan.
“Air disaring menggunakan pasir silika, karbon aktif, serabut kelapa, zeolit, dan batu kerikil hingga memenuhi standar kejernihan,” tutur dia.
Hasil uji laboratorium menunjukkan kinerja alat yang sangat signifikan dalam menurunkan tingkat pencemaran. Nilai absorbansi limbah methylene blue turun drastis setelah melalui proses pengolahan.
“Nilai absorbansi menurun dari 1,209 menjadi 0,091 dengan persentase degradasi mencapai 92,47 persen,” ujar dia.
Sebagai penerapan langsung di lapangan, tim KKN Abmas ITS menggandeng UMKM Rumah Batik Al-Huda yang berlokasi di Perum Sidokare Asri, Sidoarjo. Pemilihan lokasi ini disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik produksi batik setempat.
“Kami memilih mitra ini karena sesuai dengan tujuan pengembangan alat fotoreaktor dan filtrasi yang telah dirancang,” ujar Haniffudin.
Pemilik UMKM Rumah Batik Al-Huda, Ir. Nurul Huda, M.Agr, mengaku merasakan manfaat nyata dari penerapan teknologi tersebut. Selama ini, pengolahan limbah masih bergantung pada penggunaan bahan kimia seperti kaporit.
“Dengan adanya alat ini, pengolahan limbah jadi lebih ramah lingkungan dan tidak lagi bergantung pada kaporit. Tentu ini sangat membantu usaha batik kami,” ujar Nurul Huda.
Tim KKN Abmas ITS berharap inovasi ini dapat diperluas ke lebih banyak pelaku UMKM batik di Sidoarjo dan sekitarnya. Penerapan teknologi ramah lingkungan dinilai penting agar aktivitas ekonomi tetap sejalan dengan upaya menjaga lingkungan.
“Peningkatan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus berjalan beriringan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Haniffudin. [asg/beq]






