Brunei (beritajatim.com) – Jurnalis perempuan di Asia Tenggara rentan dan memiliki resiko pelecehan hingga ancaman keselamatan jiwa saat melakukan peliputan krisis maupun bencana alam.
Hal ini membuat Asia Pasific Institute for Broadcasting Development (AIBD) dan International Programme for The Devolopment of Communication (IPDC) yang berada dibawah naungan UNESCO bersama Radio Televisi Brunai (RTB) menggelar workshop Pemberdayaan Jurnalis Perempuan dalam Peliputan Krisis di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.
Kegiatan yang di gelar selama 3 hari (21-23/10/2025) itu diikuti oleh jurnalis perempuan dari 3 negara yakni Indonesia, Malaysia dan jurnalis Brunei Darussalam sendiri. Dari Indonesia ada 9 jurnalis perempuan yang mengikuti yakni dari Beritajatim.com, Metro TV, Kompas TV, TVRI, Radio Trijaya serta RRI. Kantor berita Malaysia Bernama pun mengirimkan 2 jurnalis wanitanya. Sedangkan jurnalis wanita RTB, The Bruneian dan The Scoop pun turut serta.
Selama 3 hari penuh, jurnalis wanita Beritajatim.com, Renni Susilawati mendapatkan pelatihan keterampilan dalam protokol keselamatan, manajemen trauma, dan peliputan yang inklusif gender.
“Selaras dengan UNESCO’s Safety Guide for Journalists dan komitmen AIBD terhadap keselamatan jurnalis, lokakarya ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan serta memberdayakan peserta agar mampu mendorong perubahan sistemik dalam praktik keselamatan di ruang redaksi bagi jurnalis perempuan,” ungkap Philomena Gnanapragasam, CEO AIBD, saat membuka acara.
Tujuan utama dari lokakarya ini adalah memperkuat kemampuan peliputan krisis dan kesiapan keselamatan bagi jurnalis perempuan. Memberikan pelatihan langsung dalam komunikasi risiko, manajemen trauma, dan peliputan etis saat bencana.
“Meningkatkan kesadaran terhadap tantangan dan solusi keselamatan spesifik berbasis gender. Memfasilitasi perancangan ulang protokol keselamatan ruang redaksi agar lebih mengutamakan inklusivitas gender,” paparnya.
Hal ini juga diamini oleh Cheong Chee Keong, Acting RTB Director menyebutkan lokakarya ini penting saat jurnalis perempuan meliput krisis. Dan jurnalis perempuan memainkan peranan menghadirkan berita yang akurat, tepat dan tulisannya menghadirkan empati pembaca.
“Namun tak bisa dipungkiri peliputan krisis ini menempatkan jurnalis perempuan di Asia Tenggara pada resiko yang lebih tinggi. Mulai dari ancaman keselamatan pribadi dan pelecehan, hingga kurangnya dukungan kelembagaan,” papar Cheong.
Lokakarya ini diharapkan mampu mendorong terbentuknya jaringan antar jurnalis perempuan untuk dukungan dan berbagi pengetahuan secara berkelanjutan,” harapnya.
Sementara itu menurut Renni Susilawati, perwakilan Beritajatim.com, lokakarya ini penting mengingat selama ini belum ada standar peliputan khusus jurnalis perempuan.

“Ini seperti membuka mata kami, bahwa profesi jurnalis terutama wanita jauh lebih rentan. Baik dari tekanan mental maupun kekerasan fisik. Bahkan di sosial media pun serangan seperti ujaran kebencian pun banyak terjadi,” aku Renni.
Renni berharap kedepannya ada aturan khusus yang dibuat oleh perusahaan media maupun Dewan Pers untuk melindungi jurnalis perempuan dari potensi pelecehan secara langsung maupun di Sosmed hingga kekerasan fisik.[rea]






