Jember (beritajatim.com) – Perangkat elektronik perjokian di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang digunakan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) tahun ini ternyata sudah disiapkan oleh sebuah sindikat sejak Oktober 2024.
Dugaan adanya sindikat ini terungkap, setelah oknum pegawai honorer Universitas Jember yang terlibat kecurangan itu mengaku disuruh memasang perangkat elektronik proksi dengan upah tertentu.
“Nominalnya tidak disebut. Tapi dia mengaku dijanjikan. Saya kira nominalnya besar,” kata Ketua Pusat UTBK SNBT Universitas Jember Slamin, Jumat (2/5/2025).
Pegawai honorer tersebut menaruh perangkat proxy tersembunyi yang terdiri dari dua mini personal computer, 1 router, dan UPS dalam kardus printer di atas lemari, dan diapit dua printer untuk mengelabui orang lain, di salah satu ruangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
UTBK SNBT dilaksanakan pada 23 April-3 Mei 2025. Panitia Pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) memgingatkan panitia di Unej pada 23 April 2025 tentang potensi adanya upaya remote access terhadap komputer peserta ujian di salah satu lokasi UTBK SNBT 2025 di kampus tersebut.
Kepala Unit Pelayanan Akademis Teknologi Informasi dan Komunikasi Bayu Taruna sempat hendak menangkap tangan pelaku perjokian begitu ada informasi.
“Kami sudah identifikasi sumbernya pada hari pertama ujian. Kami akan melakukan operasi tangkap tangan di hari itu juga. Tapi pada jam 16.00 WIB, (proksi) itu sudah dimatikan. Jadi kami tidak bisa melacak sumbernya,” kata Bayu.
Hari kedua ujian, Bayu menghubungi Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Isti Fadah untuk menangkap tangan komputer klien yang teridentifikasi dalam jaringan perjokian. “Beliau kaget karena ada indikasi sumber remote (perjokian) ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,” kata Bayu.
Bayu belum tahu sumber proksinya. Namun dia sudah memgidentifikasi komputer milik peserta yang disasar sumber tersebut. Dia kemudian memerintahkan pengecekan semua komputer di gedung yang diidentifikasi sumber proksi. Akhirnya perangkat proksi itu ditemukan di salah satu ruang administrasi.
“Semula saya sempat trace: kok gak ada. Semua perangkat komputer sudah kami buka, tapi kok masih aktif. Akhirnya kami cek lagi, ternyata mengarah ke kardus di atas lemari,” kata Bayu.
Aplikasi proksi itu dibuat pada 2019. Bayu memperkirakan harga satu paket perangkat proksi itu lebih dari Rp 10 juta. “Setelah kami cek arah IP (Internet Protocol)-nya, (pemegang remote) mengarah ke Surabaya. Tentu yang bisa melacak (Kementerian) Kominfo,” katanya.
Setelah UTBK selesai, Bayu akan melakukan simulasi proksi itu dengan menghubungkan server dengan komputer klien atau penerima untuk mengetahui mekanisme remote perjokian tersebut.
“Sepengetahuan kami, yang di-install- komputer klien dulu. Baru kemudian server dipasang pada Oktober 2024,” kata Bayu. [wir]






