Surabaya (beritajatim.com) – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) memamerkan tujuh inovasi teknologi berbasis riset terapan untuk penguatan ekonomi daerah di Kecamatan Pudak, Ponorogo, Selasa (16/12/2025) kemarin.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Katalisator Kemitraan Berdikari dan ditujukan untuk menjawab persoalan kemiskinan, keterbatasan akses, serta rendahnya produktivitas sektor lokal.
Kegiatan berlangsung di Pudak, wilayah yang sebelumnya masuk kategori daerah tertinggal dan masih menghadapi angka kemiskinan relatif tinggi.
Kepala Bappeda Jatim, Mohammad Yasin menyatakan pemilihan Pudak didasarkan pada kebutuhan intervensi nyata berbasis potensi lokal.
Berdasarkan data Maret 2025, persentase penduduk miskin di Ponorogo tercatat 8,86 persen atau sekitar 77,93 ribu jiwa, dengan sebagian berada di wilayah Pudak.
“Pudak memiliki tantangan aksesibilitas dan kemiskinan, sehingga menjadi lokasi yang tepat untuk implementasi program berbasis riset terapan,” kata Yasin, dikutip Rabu (17/12/2025).
PENS mengimplementasikan riset di bidang peternakan, pertanian, energi, transportasi, hingga pengolahan limbah.
Inovasi yang ditampilkan mencakup otomatisasi kandang sapi perah berbasis sistem informasi terpadu, produksi susu UHT berbasis IoT, penerangan jalan pintar hemat energi, hingga pengembangan ekosistem transportasi listrik untuk mendukung aktivitas peternakan.
Selain itu, PENS juga mengembangkan optimalisasi biogas dari limbah kotoran sapi, robot penanam padi untuk mendukung kemandirian pangan, serta industrialisasi motor listrik axial flux BLDC guna meningkatkan nilai tingkat komponen dalam negeri pada sektor transportasi listrik.
Pada kesempatan yang sama, PENS menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo.
Penandatanganan dilakukan oleh Direktur PENS periode sebelumnya dan saat ini, Arif Irwansyah, bersama perwakilan Pemkab Ponorogo sebagai bentuk penguatan kolaborasi jangka menengah dan panjang.
“Implementasi Program Katalisator Kemitraan Berdikari makin meneguhkan posisi kampus yang benar-benar hadir menjawab tantangan yang ada di masyarakat,” kata Arif.
Sementara Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani menyatakan program Berdikari sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi berkontribusi langsung terhadap penyelesaian persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Dukungan inovasi PENS pada peternakan sapi perah dan pengolahan susu berpotensi memperkuat ekonomi lokal Pudak, termasuk peningkatan kapasitas produksi susu,” ujarnya. [ipl/ted]






