Pacitan (beritajatim.com) – Isu pengoplosan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi berkah tersendiri bagi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mini ExxonMobil di Jalan Pacitan-Kebonagung, Desa Sirnoboyo, Pacitan.
Sejak polemik tersebut mencuat publik Indonesia, penjualan BBM non-subsidi di SPBU mini ini mengalami peningkatan signifikan.
“Biasanya dalam sehari habis sekitar 500 liter, sekarang bisa mencapai 700 hingga 900 liter,” kata Riki Dwi Prihandaka, penjaga SPBU mini, ditulis Jumat (7/3/2025).
Menurut Dia, saat ini, baik pengguna kendaraan roda dua serta roda empat banyak yang berbondong-bondong membeli produk mereka.
SPBU mini ini menjual bahan bakar gasoline dengan nilai oktan (RON) 92, sama seperti Pertamax milik Pertamina. Namun, harga BBM ini lebih mahal, yakni Rp 13.350 per liter, dibandingkan Pertamax yang dijual seharga Rp 12.900 per liter.
Meski lebih mahal, beberapa pelanggan tetap memilih BBM ini demi menjaga kualitas mesin kendaraannya. “Sebagai antisipasi saja untuk motor kesayangan, biar lebih awet,” ujar Cahyono, salah seorang pelanggan.
Peningkatan penjualan ini diperkirakan bentuk kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas BBM yang beredar di pasaran, terutama setelah munculnya isu pengoplosan.(tri/ted)






