Jombang (beritajatim.com) – Seorang pengungsi banjir asal Dusun Beluk Desa Jombok Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang sempat pisan. Namun masalah tersebut bisa tertangani. Petugas medis langsung turun tangan.
Demikian diungkapkan Senopati Zainudin, penanggung jawab Posko Penanganan Darurat Bencana Kabupaten Jombang, Rabu (11/12/2024). Posko ini lokasinya di Balai Desa Jombok. Selain digunakan untuk menampung pengungsi, posko juga untuk dapur umum.
“Kemarin sempat ada warga yang pingsan. Karena semalam tidak tidur akibat rumahnya kebanjiran. Kemudian dievakuasi ke balai desa. Nah, yang bersangkutan kemudian pingsan. Masalah tersebut bisa tertangani. Pengungsi yang pingsan sudah membaik dan berkumpul dengan keluarga,” ujarnya, Rabu (11/12/2024).
Bukan hanya itu, pengungsi juga mulai terserang gatal-gatal dan tekanan darahnya naik. Namun demikian, pihak posko sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang. Selanjutnya, pengecekan Kesehatan untuk korban banjir dilakukan secara rutin.
Dinkes melalui Puskesmas Blimbing menugaskan petugas medis di lokasi pengungsian. Sedangkan pada malam hari, disiagakan bidan desa. “Ada dua titik pengungsian. Pertama di Balai Desa Blimbing, kedua di Balai Desa Jombok. Masing-masing pengungsian ada petugas medis. Di Balai Desa Jombok ada 63 pengungsi,” urainya.
Adalah Normalita Eka Putri, petugas medis yang melakukan pemeriksaan di pengungsian Balai Desa Jombok. Pada Rabu pagi Normalita mengecek kesehatan pengungsi satu per satu. Salah satu yang dicek adalah tekanan darah.
“Memang benar, pengungsi mulai terserang gatal-gatal. Juga kebanyakan tekanan darahnya naik atau tinggi. Ini karena mereka kurang tidur. Kita memberi obat,” ujar petugas medis yang berjilbab ini.
Kepala Dusun (Kasun) Beluk Sistyo Budianto mengatakan bahwa banjir Jombok berasal dari luapan Afvour Watudakon. Banjir yang menerjang Dusun Beluk sudah memasuki hari kelima. Seiring dengan itu, banjir terus meninggi.
Hingga akhirnya warga mengungsi ke balai desa. Selain itu, warga juga mengungsi ke saudaranya. Kasun menyebut terdapat 334 KK (kepala keluarga). Sedangkan jumlah warga sekitar 900 orang lebih.
Dari jumlah itu, 50 persen warga sudah mengungsi. Selebihnya, masih bertahan guna menjaga rumah mereka. Seluruh rumah di Dusun Beluk semuanya terdampak. Ini hari kelima. Air belum surut,” ujar Kasun Beluk. [suf]






