Pasuruan (beritajatim.com) – Meski Kabupaten Pasuruan telah membangun sejumlah Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di berbagai desa, penanganan sampah di daerah ini masih belum optimal. Volume sampah yang tinggi yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menunjukkan bahwa program pengelolaan sampah belum berjalan sesuai harapan.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan, Yusuf Daniyal, menilai bahwa pengelolaan sampah di Kabupaten Pasuruan masih terlalu konvensional dan belum didukung oleh strategi yang matang.
“Pengelolaan sampah kita masih konvensional, padahal TPS3R sudah banyak. Kita perlu rencana strategis yang lebih sistematis untuk mengurangi sampah di TPA,” kata Yusuf.
Yusuf juga menekankan perlunya dukungan anggaran yang memadai agar TPS3R yang telah dibangun dapat berfungsi optimal. “Jangan sampai bangunan TPS3R yang sudah ada tidak dimanfaatkan dengan baik. Pemerintah perlu memperhatikan penganggaran untuk pembinaan kelompok pengelola sampah,” tambahnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, Taufikul Ghony, mengakui bahwa saat ini TPS3R hanya terdapat di 80 desa dari total 341 desa di Kabupaten Pasuruan. Ia menyebut, idealnya jumlah sampah yang masuk ke TPA hanya 30 persen dari total sampah yang dihasilkan.
“Namun, dengan terbatasnya sumber daya, pencapaian tersebut sulit terealisasi,” ungkap Ghony.
Dinas Lingkungan Hidup Pasuruan pun mengalami kendala dalam hal tenaga kerja, dengan hanya 100 tenaga fasilitator lapangan yang mendampingi desa-desa dalam membangun dan mengelola TPS3R. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam mengefektifkan pengelolaan sampah secara menyeluruh. [ada/beq]






