Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, pengamat komunikasi politik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memperkirakan partisipasi pemilih meningkat dalam pemilu kali ini.
“Postur pemilih dalam Pemilu 2024 dominan generasi Zilenial yang mencapai hampir 60 persen dari total pemiih. Kelompok kaum muda ini sudah sangat akrab dengan media sosial. Kondisi ini menguntungkan Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara pesta demokrasi untuk mendiseminasikan informasi dan gairah partisipasi di tempat pemungutan suara (TPS),” kata Iqbal, Rabu (14/2/2024).
Angka partisipasi pemilih Pemilu 2019 secara nasional adalah 81 persen, atau 158.012.506 pemilih yang menggunakan hak pilihnya dari 199.987.870 orang yang terdata dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Persentase ini meningkat dibandingkan Pemilu 2014 yang mencatatkan partisipasi 75,11 persen pemilih.
Saat ini pemilih muda menjadi perhatian besar seluruh peserta pemilu, baik pemilu legislatif dan pemilihan presiden. “Semua kontestan berlomba lebih menaruh porsi besar kampanye lewat semua jejaring platform lini massa dan media sosial. Seruan ‘jangan golput’ jadi bahasa politik bersama, terutama dari sengitnya kontestasi tiga paslon pilpres,” kata Iqbal.
Ketiga capres-cawapres, menurut Iqbal, berlomba menyasar kelompok zilenial (Gen Z dan milenial) ini karena visi dan misi yang mereka kampanyekan dipandang sangat menentukan potret masa depan kaum muda. “Aneka persoalan, seperti tekanan sandwich situation, ancaman depresi kesehatan mental, suramnya prospek lapangan kerja, kebencian kaum muda pada maraknya korupsi, dan krisis lingkungan iklim hingga kekangan kebebasan berdemokrasi adalah faktor penting yang mendorong angka partisipasi pemilu 2024 ini jadi tinggi,” kata Iqbal.
Apalagi pemilu kali ini disebut Iqbal mengukir terobosan baru yang otentik dan manis dari model kampanye dialogis dari Desak Anies, Slepet Imin, dan Tabrak Prof. “Model kampanye ini membuka lebar kesempatan bagi pemilih muda dan seluruh lapisan masyarakat untuk saling dialog bahkan mengkritik serta mencari solusi dan jawaban atas keresahan dan kegelisahan yang kaum muda alami,” katanya.
“Pada konteks itulah, seruan jangan golput menjelma menjadi kesadaran hak dan kewajiban politik untuk turut mengawal demokrasi yang sehat. Sejatinya mereka tengah mengawal nasib masa depan masyarakat sendiri. Sentuhan tajam mendalam dari model kampanye dialogis itu seolah membakar antusias pemilih tentukan mandat suaranya di bilik TPS,” kata Iqbal.
Lebih jauh Iqbal menilai Pemilu 2024 sangat sengit dan penuh dramaturgi hingga ‘gempa politik’ akibat proses dinilai banyak kalangan telah menabrak aras konstitusi. “Imbasnya, tata kehidupan berdemokrasi sarat intrik dan panggung politik yang niretik penuh permainan citra dan gimmick. Kesadaran dan kedewasaan berpolitik sontak tumbuh, ketika muncul kelompok kontestan maupun kaum cendekia yang keras mendengungkan moral call melawan ambisi kuasa dinasti,” katanya.
“Di mata dominasi pemilih muda, yang semula bercirikan apolitik dan apatis, dentuman panggilan moral itu mereka rasakan juga hingga sangat mungkin menggerakkan langkah kakinya untuk turut andil berikan suara. Pemilu 2024 sejatinya bukan sekadar arena persaingan antarkandidat, tapi kekuatan dominasi istana melawan hati nurani rakyat,” kata Iqbal. [wir]






