Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) menambah satu guru besar di bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Pada pengukuhan yang berlangsung di gedung pascasarjana lantai 7, Sabtu (04/02/2023), Rektor Unisma mengukuhkan Profesor Luluk Sri Agus Prasetyoningsih.
Pidato pengukuhan Prof Luluk membahas tentang ‘Inovasi Pembelajaran dan Teknologi Bantu (Asistif) untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus’. Dosen FKIP Unisma tersebut memaparkan bahwa mahasiswa Berkebutuhan Khusus (MBK) merupakan peserta didik, baik yang mengalami keluarbiasaan atau disebut gifted-talented maupun keterbatasan dalam proses pembelajaran dibanding dengan mahasiswa lain.
“MBK hambatan khusus disebut juga mahasiswa disabilitas diantaranya hambatan penglihatan, pendengaran, fisik motorik, intelektual, emosi dan perilaku, lamban belajar, kesulitan belajar spesifik, gangguan spektrum autis, gangguan perhatian hiperaktif, serta penyandang sakit menahun yang beresiko,” terang Prof Luluk.

Jika memperhatikan dasar konstitusi tentang education for all, semua program studi bidang studi sosial termasuk bidang bahasa dan sains harus terbuka pada MBK. Prof Luluk mengusulkan agar calon mahasiswa hendaknya lebih dititikberatkan pada kemampuan akademik bukan aspek disabilitasnya.
“Disabilitas tidak boleh dijadikan sebagai ukuran tidak diterimanya calon mahasiswa memasuki program studi tertentu karena bertentangan dengan hak-hak asasi manusia dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi,” imbuhnya.
Khusus untuk penyelenggaraan pendidikan inklusi pada bidang ilmu pendidikan bahasa, program pembelajaran khusus dan bantu inovatif yang adaptif merupakan program penting. Program itu, kata Luluk, bertujuan membantu meningkatkan layanan kepada MBK agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu, belajar nyaman, menyenangkan, tanpa hambatan belajar, dan memasuki dunia kerja sesuai potensi.
“Pembelajaran khusus dan teknologi bantu inovatif dalam pendidikan inklusi merupakan program penting dalam upaya memberikan hak dan kewajiban setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan dengan hasil yang optimal. Pemerintah dan perguruan tinggi berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa diskriminasi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”unisma”]
Di akhir pidatonya, dia mengharap agar pendidikan inklusi di perguruan tinggi menjadi tanggung jawab semua komponen bersama, baik pendidik, tenaga kependidikan, dan stakeholder. Hal itu dalam rangka memberi layanan yang optimal kepada MBK yang setara agar kelak menjadi warga yang berdaya.
Sementara itu, Rektor Unisma, Prof Dr H Maskuri MSi menjelaskan bahwa pihaknya terus mendorong percepatan terkait jenjang jabatan, terutama penambahan guru besar di Unisma. Saat ini Unisma, sudah memiliki 17 guru besar dari seluruh fakultas yang ada.

“Langkah-langkah yang kita lakukan dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan sekaligus juga pendidikan diantaranya keberadaan Guru Besar dan Lektor Kepala. Sekarang ini sedang kita lakukan monitor secara ketat tahapan-tahapan untuk peningkatan jabatan antara lain kalau ada dosen yang tidak mengurus jabatan akan ditindak tegas,” kata Prof Maskuri.
Unisma akan menargetkan 10 orang yang akan segera naik dari Lektor Kepala menjadi Guru Besar. Terkait peningkatan jabatan fungsional Unisma juga memberikan supporting khusus.
“Ya untuk proses pengusulan itu jadi kita sudah siapkan tim untuk kepengurusan Guru Besar untuk mengkalkulasi tentang kebutuhan-kebutuhan, sampai pada final, bahkan ada juga yang tim suksesnya. Ada juga yang menjadi jurnal hunter untuk jurnal-jurnal yang bisa dituju,” tutup Rektor Unisma saat jumpa media. [dan/beq]






