Magetan (beritajatim.com) – Tradisi pendakian ritual malam 1 Suro di Gunung Lawu kembali menjadi perhatian. Meski dikenal sebagai momen sakral yang sarat nuansa spiritual dan mistis, hingga saat ini kawasan pendakian belum terlihat ramai. Hal itu disampaikan oleh Supriyanto, Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Sarangan Perhutani KPH Lawu DS.
“Sampai saat ini belum begitu ramai. Kalau ritual biasanya berlangsung di Argodalem, Argotiling, dan Pasar Dieng,” terang Supriyanto saat dikonfirmasi, Rabu (26/6/2025).
Malam 1 Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam, merupakan pergantian tahun Jawa yang sarat akan makna spiritual bagi sebagian masyarakat Jawa dan penganut kepercayaan Kejawèn. Gunung Lawu menjadi salah satu lokasi favorit untuk menjalani ritual tersebut.
Peziarah dan pendaki dari berbagai daerah biasanya memadati jalur pendakian Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang, bahkan ada pula yang memilih jalur dari Candi Ceto. Mereka menjalani tapa, semedi, doa, hingga sesaji di titik-titik yang dianggap sakral, seperti Hargo Dalem, Hargo Dumilah, Sendang Drajat, hingga Sumur Jalatunda.
Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, arus pendakian malam 1 Suro tahun ini terpantau belum terlalu padat.
Meski begitu, upaya antisipasi tetap dilakukan. Perhutani bersama Paguyuban Giri Lawu telah menyiagakan personel di pos-pos strategis.
“Keamanan oleh Perhutani dan Paguyuban Giri Lawu seperti biasa. Kami siaga per pos untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambah Supriyanto.
Dalam tradisi malam 1 Suro, banyak pendaki atau peziarah yang meyakini adanya pengalaman spiritual atau mistis. Beberapa bahkan mengaku mengalami kejadian gaib seperti mendengar suara gamelan dari tempat tak terlihat, melihat penampakan prajurit zaman kerajaan, hingga mengalami kehilangan arah secara tiba-tiba di jalur yang mereka kenal.
Karena itu, selain kesiagaan petugas keamanan, para pendaki juga diimbau untuk menjaga etika dan menghormati tradisi masyarakat setempat. Mereka diminta tidak merusak alam, tidak sembarangan menyentuh sesaji, dan tetap mengikuti instruksi petugas yang berjaga di pos.
Pihak berwenang juga mengingatkan pendaki agar tidak melakukan aktivitas di luar batas kewajaran, termasuk membawa hewan kurban atau melakukan ritual ekstrem di puncak.
Sementara itu, kondisi cuaca di kawasan Gunung Lawu masih relatif mendukung untuk pendakian. Namun, pendaki tetap diminta waspada terhadap perubahan cuaca mendadak dan potensi bahaya lain seperti longsor atau kebakaran hutan.
Tradisi malam 1 Suro di Gunung Lawu menjadi refleksi percampuran antara budaya, spiritualitas, dan penghormatan terhadap alam. Pendakian ini bukan sekadar wisata, melainkan perjalanan batin yang dipercaya membawa berkah dan kekuatan baru untuk menjalani tahun yang akan datang. [fiq/but]






