Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, sejak 2022 melaksanakan program antar jempur siswa difabel ke sekolah. Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca) mendukung agar program tersebut diperluas.
Dinas Perhubungan menggunakan kendaraan minibus untuk menjemput dan mengantarkan guru dan siswa difabel yang belajar di Sekolah Luar Biasa di Karangrping. Para guru dan siswa ini dijemput kendaraan milik Dishub di titik kumpul depan Markas TNI Artileri Medan di Jalan Letjen Suprapto.
“Pihak sekolah meminta bantuan kepada bupati, dan bupati memerintahkan kepada Dinas Perhubungan untuk melayani. Kami mengadakan kajian pada 2021. Kami pada saat Covid belum bisa melakukan permintaan itu,” kata Kepala Dinas Perhubungan Jember Agus Wijaya.
Angkutan khusus bagi pelajar difabel dilaksanakan, menurut Agus, karena kondisi para siswa ini sangat terbatas. “Kami antar dan jemput dengan mobil ber-AC dan ada pendamping dari Dinas Perhubungan. Selain itu kami memilih sopir yang bisa menyenangkan hari para siswa berkebutuhan khusus dan guru mereka yang juga difabel,” katanya.
Ketua Perpenca Jember Mohammad Zainuri Rofi’i senang dengan kebijakan itu dan mendukung perluasan program tersebut. “Dulu waktu bupati lama (Bupati Faida), saya pernah berkirim surat yang menjelaskan banyak teman difabel yang berhenti sekolah karena tidak ada kendaraan antar jemput,” katanya, Selasa (17/9/2024).
Saat itu, Pemkab Jember memberikan voucher angkutan kepada para siswa difabel. “Tapi waktu itu tidak berlangsung lama. Sekarang pada masa Pak Hendy (Bupati Hendy Siswanto, red) ada,” kata Zainuri.
Zainuri mendukung perluasan program tersebut, karena saat ini baru siswa SLB di Karangpring yang memanfaatkan angkutan tersebut. “Saya dapat informasi dari Dinas Sosial, juga akan ada program seperti itu, bekerja sama dengan angkutan online,” katanya.
Menurut Zainuri, banyak siswa SLB di sejumlah kecamatan yang membutuhkan bantuan transportasi agar tetap bisa bersekolah. “Mereka seharusnya belajar di sekolah inklusi terdekat. Tapi kenyataannya, banyak orangtua yang tidak mau karena ingin ke SLB. Padahal SLB jauh. Maka itu program ini sangat bagus,” katanya. [wir]






