Banyuwangi (beritajatim.com) – Rencana peluncuran rute kapal cepat yang menghubungkan Banyuwangi dengan Denpasar terpaksa ditunda. Semula dijadwalkan mulai beroperasi pada Juni, namun kini peluncuran dimundurkan hingga Agustus 2025. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Nyono, mengungkapkan penundaan ini disebabkan adanya kendala teknis di pihak Denpasar, khususnya terkait kesiapan pelabuhan dan pengaturan transportasi darat di kawasan Serangan, lokasi sandar kapal di Bali.
“Dari sisi Banyuwangi, semua sudah siap. Trayek sudah ditentukan, infrastruktur mendukung. Tapi kami memahami di Denpasar terminalnya kecil, sehingga perlu peraturan lalu lintas angkutan daratnya,” kata Nyono saat ditemui di Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi.
Nyono berharap jika semua berjalan lancar, peluncuran kapal cepat ini dapat menjadi hadiah saat peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia pada Agustus mendatang. Untuk tahap awal, rute ini akan dilayani satu unit kapal cepat berkapasitas 350–400 penumpang, dengan panjang kapal sekitar 40 meter dan lebar 6 meter. Kapal akan berangkat dari dermaga Marina Boom Banyuwangi dan bersandar di Pelabuhan Pulau Serangan, Denpasar.
Dengan estimasi perjalanan sekitar 2,5 hingga 3 jam, kapal cepat ini akan memangkas waktu tempuh signifikan dibandingkan jalur darat yang memakan waktu sekitar 5 jam. Harga tiket direncanakan sekitar Rp275.000 untuk kelas reguler, sementara kelas VVIP sedikit lebih mahal. “Kita coba satu kapal dulu untuk melihat respons pasar. Kalau animonya tinggi, kita siap menambah armada,” jelas Nyono.
Selain menjadi alternatif perjalanan yang lebih singkat, rute ini juga dirancang untuk mengurangi kepadatan kendaraan yang menyeberang ke Bali melalui jalur darat, terutama saat Tol Probowangi sudah tersambung hingga Banyuwangi. “Kalau pembangunan tol ini sudah tiba, tentu Pelabuhan Ketapang akan dibanjiri kendaraan yang akan menyeberang ke Bali. Makanya kita siapkan dari sekarang untuk mengantisipasi itu,” tambahnya.
Penumpang nantinya hanya diperbolehkan membawa barang bawaan maksimal 20 kilogram. Sementara kendaraan dapat diparkir di kawasan Marina Boom atau area parkir sekitarnya. Konsep ini, menurut Nyono, mirip dengan penyeberangan Batam–Singapura yang lebih mengedepankan efisiensi waktu dan kenyamanan.
Operasional kapal cepat dijadwalkan setiap hari kecuali Selasa, yang akan digunakan untuk perawatan rutin. Penjadwalan ini juga menyesuaikan tren wisata, sebab biasanya kunjungan menurun pada hari Selasa. “Kita tidak izinkan kapal cepat berlayar malam karena berisiko tinggi. Jadi jadwalnya dari Banyuwangi pukul 09.00 pagi, lalu dari Denpasar kembali pukul 14.00,” pungkas Nyono. [alr/beq]






